Desember 2009


Label Bernama “World Class University”

Berbicara mengenai kualitas dan daya saing bangsa, Indonesia baru menempati urutan ke-42 dunia, masih di bawah beberapa negara Asia lain yang notabene sama-sama negara berkembang. Lebih jauh, indeks pembangunan manusia (IPM) negeri ini berada di posisi 111 dari 182 negara. Masih kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang berada di urutan ke-66 dan Thailand di urutan ke-87.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, ada tiga komponen utama untuk meningkatkan daya saing suatu bangsa, realitas kualitas sumber daya manusia (SDM), kualitas dan peran perguruan tinggi, serta upaya strategis yang dilakukan pemangku kebijakan untuk meningkatkan daya saing bangsa. “Ini adalah tiga substansi yang harus diperdalam demi meningkatkan daya saing bangsa,” ujarnya di Bandung beberapa waktu lalu.

Muhaimin mengatakan, perguruan tinggi harus dapat memainkan perannya sebagai salah satu instrumen penting untuk mendorong daya saing bangsa di level nasional dan internasional. Perguruan tinggi di negara ini harus didorong untuk memiliki kualitas internasional. Sampai 2008, sekitar dua ratus perguruan tinggi terbaik masih didominasi Jepang dan Cina.

Terlepas dari harapan Muhaimin agar perguruan tinggi menjadi instrumen untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia, Depdiknas memang memiliki target tersendiri agar perguruan tinggi di Indonesia dapat bersaing dengan perguruan tinggi lain di dunia. Terobosan yang dilakukan adalah mendorong perguruan tinggi yang ada untuk memenuhi kualifikasi world class university (WCU). Langkah konkret yang dilakukan belum lama ini, Ditjen Dikti memberi bantuan pembiayaan Evaluation dan Annual License Fee bagi empat belas perguruan tinggi se-Indonesia untuk mengejar kualifikasi WCU versi The QS World University Ranking. Dari empat belas perguruan tinggi tersebut, Jabar diwakili tiga perguruan tinggi negeri, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), serta Universitas Pasundan (Unpas) sebagai wakil perguruan tinggi swasta tanah Priangan.

Sementara sepuluh wakil lain di luar Jabar adalah Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Institut Sepuluh November, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin, Universitas Gunadarma, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Syiah Kuala, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Negeri Malang. Selain itu, beberapa perguruan tinggi juga ikut serta dalam penilaian dengan pembiayaan mandiri.

Hasil yang dicapai memang cukup membanggakan. Enam perguruan tinggi masuk jajaran seratus besar perguruan tinggi terbaik tingkat Asia 2009. Universitas Gadjah Mada meraih peringkat tertinggi ke-24, diikuti oleh Universitas Indonesia di peringkat ke-28, ITB ke-38, Universitas Airlangga ke-87, IPN ke-90, dan Undip peringkat ke-95.

Kendati demikian, perlu disadari bahwa tidak semua perguruan tinggi sanggup untuk memenuhi kualifikasi WCU. Kendala utama yang dihadapi tentunya masalah pembiayaan. Betapa tidak, syarat untuk menjadi sebuah WCU tidaklah ringan. Untuk versi The QS World University Ranking misalnya, ada enam bobot penilaian yang harus dipenuhi, academic peer review dengan bobot nilai 40 persen, employer review (10 persen), rasio mahasiswa dalam satu fakultas (20 persen), performa penelitian (20 persen), proporsi fakultas internasional (5 persen), dan proporsi mahasiswa asing (5 persen).

Untuk academic peer review dan employer review dilakukan dengan survei online oleh pihak QS. Namun untuk bisa dikenal oleh responden di seluruh dunia, suatu perguruan tinggi tentunya harus menjalankan promosi dengan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi untuk membuat satu fakultas internasional dan menarik mahasiswa asing.

Dalam pandangan Ketua Majelis Rektor Indonesia Djoko Santoso, WCU adalah universitas yang mampu menghadapi perubahan zaman. Artinya, yang harus ditekankan di sini adalah perguruan tinggi mampu menafsirkan tantangan masa depan. “Akan tetapi kan di negara kita orang bersekolah kebanyakan cuma untuk mencari ijazah. Oleh karena itu, sebagian besar perguruan tinggi di sini pun bertujuan hanya memberikan ijazah, bukan memenuhi kapasitas keahlian mahasiswanya,” tuturnya.

Berkaitan dengan itu, Djoko belum bisa memastikan kesiapan perguruan tinggi di Indonesia dalam mencapai world class university.

Namun, Djoko melanjutkan, kesiapan menghadapi era global lebih ditunjukkan oleh perguruan tinggi negeri daripada perguruan tinggi swasta. Alasannya, PTN dinilai lebih tua sehingga secara tidak langsung diartikan mampu bertahan dari dinamika zaman selama ini. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan PTS pun ada yang siap seperti UII (Universitas Islam Indonesia Yogyakarta). “Umur PTS itu pun sudah tua dan tetap mampu bertahan,” ucapnya.

Koordinator Kopertis Wilayah IV Jabar dan Banten Abdul Hakim Halim sependapat dengan Djoko. Ia merasa pencapaian WCU tidak harus membedakan status PTN atau PTS. “Jika kita lihat, dari 82 PTN yang ada hanya tiga yang masuk peringkat 500 besar dunia. Kita lihat juga PTS, toh banyak juga yang masuk jajaran 500 besar,” kata Hakim menjelaskan.

Sementara dalam pandangan Wakil Ketua Asosiasi Peguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Pusat dan Ketua Bidang Organisasi Aptisi Wilayah IV Jabar-Banten M. Budi Djatmiko, kebijakan untuk arah kualifikasi menuju WCU memang lebih baik dibebankan kepada perguruan tinggi negeri. Untuk meraih kualifikasi WCU membutuhkan dana besar, sedangkan dana perguruan tinggi swasta tidak semuanya besar. Terlebih dengan tantangan yang semakin berat di kalangan pengelola PTS pada tahun-tahun mendatang.

Menanggapi persoalan itu, Hakim menilai, PTS dengan pembiayaan kurang besar memang tidak perlu fokus mengejar status WCU. Yang penting PTS tersebut memanfaatkan dana yang ada untuk terus meningkatkan kualitas. “Percuma jika meraih status WCU tetapi tidak bisa memberikan layanan terbaik bagi masyarakat dan toh sebagian besar penghuni PTS adalah mahasiswa lokal,” katanya.

Di mata Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) Wilayah IV Nanat Fatah Natsir, kualifikasi WCU memang perlu ditargetkan, tetapi bukan sesuatu yang mendesak. Yang penting sekarang adalah menjadikan perguruan tinggi sebagai penghasil inovasi dari penelitian yang dapat diaplikasikan di masyarakat. “Jika belum mampu membiayai penelitian internasional untuk memenuhi kualifikasi WCU, lakukan saja penelitian lokal,” kata Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) ini.

Menurut dia, UIN SGD baru menargetkan kualifikasi WCU pada 2018 mendatang. “Tahun 2004-2011 target kami adalah mengembangkan diri guna menjadi salah satu perguruan tinggi unggulan yang kompetitif. Tahun 2011-2018 kami mengarah ke research university, setelah itu baru mengejar kualifikasi WCU,” tuturnya. (Handri/Amaliya/Nuryani/”PR”)***

Penulis:

Back

PIKIRAN RAKYAT

JUMAT ( PON ) 11 DESEMBER 2009

24 ZULHIJAH 1430 H

RAYAGUNG 1942

Jumlah dan Daftar Nama Dosen Perguruan Tinggi Swasta di lingkungan Kopertis Wilayah IV yang memiliki Jabatan Fungsional GURU BESAR/GURU BESAR MADYA dan yang memiliki kualifikasi S-3 (DOKTOR) adalah sebagai berikut :  
   
   
    Daftar Dosen PNS DPK dan Dosen Tetap Yayasan Perguruan Tinggi Swasta yang memiliki Jabatan Fungsional GURU BESAR MADYA dan GURU BESAR
   
  Daftar Dosen PNS DPK yang berkualifikasi S-3 (Doktor)
   
   
   
   
   

 

GURU BESAR MADYA dan GURU BESAR
NO. NAMA PTS/FAKULTAS
1. Prof. Muhtar Affandi UNPAS
2. Prof. Cecep Syarifudin UNPAS
3. Prof. Dr. Ateng Syafrudin, SH. UNPAR
4. Prof. Dr. Soedjono D., SH. UNPAR
5. Prof. Dr. Djoko Sulasno Sidi UNPAR
6. Prof. Ir. Hidayat Natawigena UNINUS
7. Prof. Dr. Ir. Suharto UNPAR
8. Prof. Dr. Sanyoto HW., dr., DSM UNJANI
9. Prof. Dr. Koswara, SH., MS. UNIS
10. Prof. Dr. Ridwan S. Sundjaja UNPAR
11. Prof. Dr. Koesbandiyah, MS., Ak. STIEB
12. Prof. Dr. Muchidin Affandi UNBAR
13. Prof. Dr. H. Tubagus Hasanuddin.,M.Sc UNPAS ( DPK)
14. Prof. Ir. H. Djuanda Suraatmadja ITENAS
15. Prof. Dr. Barita Effendi Siregar.,M.S UNLA (DPK)
16. Prof. Dr. H. Mashudi., SH.,MH UNPAS ( DPK)
17. Prof. Dr. Mohamad Sidik Priadana.,M.Si UNPAS (DPK)
18. Prof. Dr. Paulus Effendie Lotulung.,SH UNPAK
19. Prof. Dr. B. Arief Sidharta.,SH UNPAR
20. Prof. Ir. Soebianto UKM
21. Prof. Ir. Goenarso UKM
22. Prof. H. Drs. Ismail Makmun UNTIRTA
23. Prof. Dr. Ir. H. Ahmad Mufli Saefudin UNIDA
24. Prof. Dr. H.R. Arifin Wirakusumah.,MASc., Ak STIE TRIDHARMA
25. Prof. Ir. Handojo STTM
26. Prof. Toebagoes Moch. Soelaiman.M.ScEE STTM
27. Prof. Ir. Tjipto Utomo., M.Ch.E ITENAS28
28. Prof. Dr. Ir. Endi Rochendi, M.Sc. UNSWAGATI28
29. Prof. Dr. H. Tjahyo Sutisnawidjaja, MS UNPAS
30 Prof. Dr. Rully Indrawan, M.Si UNPAS
31 Prof. Ir. Adang Kadarusman S, M.Sc UNPAS
32. Prof. Hj. Ummu Salamah, MS UNPAS
33. Prof. Dr. Haryono Sudriamunawar ,M.S UNNUR

 

DOKTOR
No. Nama PTS/FAKULTAS
1. Dr. Ahman Sya,M.Pd UNSIL/FKIP
2. Dr. Rudi Priyadi,MS UNSIL/Faperta
3. Dr. Djoni,Ir.,MS UNSIL/Faperta
4. Dr. Hatta,S.H.,MH STHB
5. Dr. M.Siddik Priadana,Drs.,MS UNPAS/FE
6. Dr. Benyamin Harits, MS UNPAS/FISIP
7. Dr. Tjahjo Sutisnawidjaja,MS UNPAS/FISIP
8. Dr. Sunatra R.S.,SH.,MS UNPAS/FKIP
9. Dr. Ummu Salamah, MS UNPAS/FISIP
10. Dr. Rulli Indrawan, MS UNPAS/FISIP
11. Dr. Mashudi,SH.,MH UNPAS/FH
12. Dr. Tb. Hasanudin, M.Sc., Ak UNPAS/FE
13. Dr. Barita Siregar, MS UNLA/FISIP
14. Dr.Krisna Harahap, SH.,M.Hum STHB
15. Dr. Oom Komala,MS UNPAK/F.MIPA
16. Dr. Yogi,Ir.,MS UNWIM/Faperta
17. Ir. R. Wahyudi Triweko, M.Eng., Ph.D UNPAR/FT
18. Edward Nurima, Drs., Ph.D UNPAR/FISIP
19. Dr. Reki Wicaksono Ashadi, Ir., M.Agr UNIDA/Faperta
20. Dr. Haryono Sudriamunawar ,M.S UNNUR/Fisip
21. Dr. Amran Jaenudin, Ir.,MS UNSWAGATI/Faperta
22. Dr. A. Rivai Wirasasmita, MS IKOPIN
23. Dr. Andreas Bintoro UKM/Ekonomi
24. Dr. Bambang Heru Purwanto,Drs.MS UNPAS/FKIP
25. Dr. Iwan Budiman.,Dr UKM/Kedokteran
26. Dr. Ieke Sartika Iriany UNIGA/Fisip
27. Dr. Drs., R.E. Djarkasih.,MS UNPAS/Ekonomi
28. Dr. Drs., Purwadhi. M.Pd STMIK Bandung
29. Dr. Abdurrahmat., MS. UNIGA/Fisip
30. Dr. Ir. Adang Kadarusman S.,M.Sc UNPAS/Teknik
31. Dr. Neni Yulianita., MS UNISBA/Fikom
32. Dr. Drs. R.M. Ramudi Arifin, MS IKOPIN
33. Dr. Dra.  Afifah., MS UNJANI/Teknik
34. Dr. Rr. Retno Widyani.,drh., MS UNIGA/Pertanian
35. Dr. Suryaman Binardi.,Ir.MP UNIGA/Pertanian
36. Dr. Uyat Suyatna UNPAS/Fisip
37. Dr. H. Agus Rasas.,SH.,MH UNINUS
38. Dr. Dedi Mulyasana., M.Pd UNINUS
39. Dr. Dra. Sewi Laelatul Badriah., M.Kes UNSIL
40. Dr. Ir. M. Supli Effendi., M.Sc. UNPAS
41. Dr. Soleh Suryadi UNPAS
42. Dr. Wagiati Sutedjo.,SH.M.S UNPAS
43. Dr.Drs. H.M. Didi M.Si UNPAS
44. Dr. Kamal Alamsyah.,M.Si UNPAS
45. Dr. Ir. Nandang Najmulmunir.,M.P UNISMA
46. Dr. Ir. Euis Dasipah M.P UNISMA
47. Dr. H. Dadan Wildan.,Drs.M.Hum UNIGAL
48. Dr. H. Soelaeman Sukmalana.,M.M STIEPAS
49. Dr. Ir. Maman Suryaman UNSIL
50. Dr. Titien Rostini.M.Hum STBA YAPARI
51. Dr. Toto Tohir.M.H UNISBA
52. Dr. Edy Yusup Supendi.M.Sc UNPAS
53. Dr. Ir. Endi Rochendi.M.Sc UNSWAGATI
54. Dr. Edi Setiadi.M.H UNISBA

Rohmat Sarman

Jangan pikir itu “sederhana”… tapi berbuatlah…

Review Blog Mahasiswa Ekonomi

Setelah mendapat respons yang cukup positip tentang review blog dosen ekonomi, pikiran ini jadi terus menukik. Tulisan Luciana Spica Almilia yang terkesan agak menantang, Dosen Ekonomi NgeBlog ….. Siapa Takut!!! merupakan sebuah bukti respon. Harapanku, semoga saja dari berbagai respons yang muncul, dosen ekonomi dapat meramaikan jagat perblogan.

Tak apalah… easy going… nanti pun jika stimulus per IT an terus diberikan kepada dosen, pasti ada rasa keiinginan untuk ngeblog menjadi semakin tinggi. Berangkat dari keprihatinan kurangnya dosen di bidang ekonomi yang ngeblog, malah membuatku tambah penasaran kepada Mahasiswa ekonomi. Jangan-jangan? Alih2, kini aku ingin melihat aktivitas mahasiswa ekonomi yang ngeblog.

Sebenarnya ini bukan penyelidikan ilmiah karena tidak bisa dinilai untuk kenaikan pangkat seorang dosen! (huhu… sepertinya harus bikin masukan ke DIKTI bahwa blog dosen perlu dipertimbangkan dalam penilaian kepangkatan!). Ah… ada-ada saja! Jadi tambah pekerjaan tuh buat Direktorat Pendidikan Tinggi. Tetapi memang, jika IT (ngenet) ini semakin ramai dan mudah, ada kecenderungan si Dosen mengekpresikan dirinya di Blog. Hmm… sudahlah Rohmat… pikirannya jangan terlalu dibawa melangit! Ngeblog itu, bukan hanya sekedar melek IT, tetapi yang paling penting, kegiatan tulis menulisnya! Selagi Dosen males nulis, maka tetap saja, blognya ngga berkembang. Hehehe… Pak Dosen dan Bu Dosen… Nulis Euy!!!

Sudah… sudah… mari kembali ke Laptop!

Pola penyelidikan dalam menelusuri mahasiswa ekonomi ngeblog sama modusnya dengan pola disini. Namun aku ingin pake hipotesis (biar agak keren sedikit!) sekalipun ini bukan penelitian ilmiah. Kelompok mahasiswa ekonomi lebih banyak ngeblog berbanding kelompok dosen ekonomi karena “kemelekkan” dan “care” kelompok mahasiswa kepada IT lebih responsif berbanding kelompok dosen. Betul ngga yah? Sebagai dosen aku mendo’akan supaya hipotesis itu salah. Malu deh… ya ngga Bu Luci, Pak Riri, Pak Adit? Tetapi, lagi-lagi kita harus menerima pada hasil penelitian (sekalipun ini bukan penelitian ilmiah… ya penelitian apapun lah… hehehe) .

Untuk membuktikan hipotesis, dalam suatu penelitian perlu pengujian… dan mari kita uji hipotesis di atas dengan memakai metode yang sudah ditetapkan: dengan memakai key word: mahasiswa ekonomi, mahasiswa manajemen dan mahasiswa akuntansi.

(Saya mohon maaf, tidak meminta izin dulu kepada yang punya blog yang diulas disini. Tetapi apabila merasa keberatan, tolong kirim email ke blog [at] rohmat.web.id. Tentu saja saya akan menghargai keberatannya dan akan saya edit tulisan ini)

Ichsan Mufti keturunan Aceh yang lahir di Medan 23 tahun lalu, kini sedang kuliah di Program Studi Akuntansi STIE YKPN Yogjakarta (Masih kuliah Mas Ichsan? Atau sudah jadi alumni nih?). hAnYa sEbUaH sPiRiTuAL bLoGâ„¢ adalah judul blognya. Dari situ kelihatan, isi blog Ichsan Mufti memang sangat sesuai dengan ghirah nya mengepak sayap menjangkau ke ketinggian agamanya (Islam). Dari beberapa apresiasi yang diberikan oleh pengunjung blognya, kebanyakan merasa salut untuk Mas Ichsan. Terutama salut kepada aktivitas yang dilakukan selama ini, dan salut kepada kedewasaan spiritual seumuran pemuda 23 tahunan.

Ichsan Mufti, selain menekuni dunia kampus, ia juga merupakan aktivis “ekonomi syariah” sekaligus penulis. Keikutsertaannya di Forum Silaturahmi Studi Ekonomi Islam dan Forum Lingkar Pena Jogja membuktikan bahwa Ichsan istiqamah di bidangnya (semoga mas!). Ngeblog yang dimulai bulan Nopember 2006 sampai 9 April 2007 sudah berisi 55 posting. Kalau dirata-ratakan, ya sekitar 10 posting per bulan atau 3 hari satu postingannya. Hmm… sungguh membanggakan, sekalipun masih kuliah dan banyak aktivitas diluar kampus, ternyata tidak menjadi halangan “detak jantung” nya terekam dalam blognya. Satu hal yang menarik adalah pesan Ichsan Mufti kepada adiknya yang saya ambil disini.

Buat kedua adikku (Arief Mizan dan Muhammad Achyar), Jangan pernah pasang cita-cita kalian ditempat yang rendah, karena jika demikian…. kalian takkan pernah bisa terbang.

Agung mahasiswa Program Studi Manajemen FE Universitas Katolik Indonesia Atmajaya merupakan sosok aktivis di kampusnya. Namun begitu, ia tidak ingin kegundahan kesehariannya terlewatkan begitu saja. Belajar Untuk Tidak Menjadi Bodoh merupakan judul blognya, dan kegundahannnya ditumpahkan disini, selain juga di FS. Ketertarikannya kepada dunia IT dari seorang Agung, kelihatannya sangat kental. Dari kategori postingan per 9 April 2007, kategori Teknologi Informasi di blognya cukup mendominasi sebanyak 22 posting. Disusul oleh kategori Ekonomi menempati ranking kedua yaitu sebanyak 14 posting.

Ngeblog yang dimulai pada 26 Januari 2007 sampai 9 April 2007, Agung telah mencapai prestasi 71 postingan. Apabila dirata-ratakan perbulannya melakukan posting sebanyak 20 an tulisan. Itu artinya, Agung menulis di Blognya hampir 1 tulisan dalam kurun waktu 2 hari. Sungguh merupakan kinerja yang perlu diapresiasi. Sempet-sempetnya yah nulis sebegitu! (hehehe). Itu tuh dilakukan setelah hobi Agung juga tidak dilewatkan, terutama hobi memburu makanan yang ueenak-ueenak! Selamat yah Gung! Anda layak dapat ***.

Lawrance membangun taman-kecil nya didunia maya melalui Blog. Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mulai ngeblog tanggal 5 Januari 2007. Dari isi blognya, Lawrance orangnya puitis (hehehe…). Tetapi kepuitisannya malah membuat perenungannya menjadi cukup menyentuh stigma substansi yang ingin dia ungkapkan. Hmm… saya jadi ingat… ternyata karya sastra itu tidak hanya dimiliki oleh orang yang bergelut di bidang sastra. Sastra ya milik semua orang! Atau lebih jauhnya, kira-kira… Surga itu bukan hanya kapling untuk para Ustadz saja! Kitapun yang bukan ustadz berhak untuk memilikinya.

Lawrance, kalau dilihat dari umur sih masih muda banget! 20 tahun coy!… tetapi menilik karyanya… memang sungguh membanggakan. Semoga saja banyak mahasiswa eknomi menjadi penulis handal… Ia ngga Lawrance?

Yusuf Suwandi asal Tegal yang kuliah di Semarang ini lahir pada tanggal 20 Juli 1985. Angkatan 2004 di FE UNISSULA Semarang merupakan sosok aktivis kampus. Pegiat BASENOM Kewirausahaan di kampusnya, getol juga mengikuti lomba karya tulis. Ya… arah yang sudah betul… (ia ngga sih?). Yusuf juga ternyata sprinter lari 200 M loh! Kegiatan olahraga yang ditekuninya tidak tanggung-tanggung, juara 2 cabang atletik 200 M se Kodya Tegal! Wow… keren!

Aktif ngeblog mulai Januari 2007. Walaupun kelihatannya mandeg sejak Maret 2007 semoga saja Yusuf back to Blog… ya ngga Suf?

Hmm… Mr googlenya ngadat! tidak bisa diakses (9 April 2007 jam 2 WIB) entah sampai kapan? Nunggu lama… akhirnya ketiduran…, Bangun untuk shalat subuh… dan kembali mesin pencari yang hebat sembuh kembali, hehehe.

Mari kembali ke…. Laptop.

Taufik Jamil Alfarau mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Lampung ini agak nyentrik! Obsesinya tidak bisa dianggap enteng untuk ukuran mahasiswa. Menemukan teori ekonomi Baru! Wow… Cita-citanya sih ingin mengalahkan Bill Gates dan membuat malu George Sorosz. Sebagai dosen, apapun itu namanya, sekali lagi aku sangat memberikan apresiasi…

Diantara mahasiswa ekonomi yang telah dibahas di atas. Taufik lah yang terjun ngeblog lebih awal. Ngeblognya dimulai dari bulan April 2006. Dengan gaya bahasanya yang khas, Taufik banyak menyuarakan kegundahan dalam mensikapi lingkungannya. So… mahasiswa memang harusnya seperti itu! Karena, jika nanti mau membuat skripsi (nah lo…. jakasembung nih!) kepedulian kepada lingkungan (bisa jadi kepedulian dengan memandang negatif maupun positif) ==> Fenomena <== namanya, dapat diangkat menjadi topik penulisan tugas Akhir.

Dengan begitu, semoga Taufik menemukan teori baru! Tidak mengalahkan Bill Gates atau tidak dapat membuat malu Goerge Sorosz juga tidak apa! Yang penting selesai dan kalau ada rizki dan minat… terus sekolah lagi! Iya ngga Fik?

Farah Putri adalah blogger mahasiswa ekonomi berjenis kelamin perempuan. Farah adalah mahasiswa semester 3 Ekonomi Manajemen di Universitas Bina Nusantara. Kompilasi Kehidupan adalah judul blognya. Mari kita simak pengakuannya bagaimana dia memandang sebuah blog kompilasi kehidupan yang saya ambil di head blognya:

Hanya sebuah tempat biasa, tempat dimana saya bisa melarikan diri sejenak dan membenamkan diri dari segala macam persoalan dan masalah. Wadah dimana saya bisa bebas menjadi diri sendiri, bebas berkata apa saja yang saya mau,bebas melakukan apa saja yang saya anggap benar. Hanya sebuah tempat yang berisi sesuatu yang diharapkan menjadi sesuatu yang berguna. Menjadi sesuatu yang bermanfaat, menginspirasi dan memotivasi, bukan cuma bagi saya, tetapi kamu juga.

Gadis yang tinggal di selatan Jakarta ini merasa cukup bahagia dengan apa yang dia punya dan kini sedang merencanakan sesuatu yang manis untuk hari depan. Ayo… siapa yang mau ikut dalam rencanaya?!

Shamien Aroengbinang mahasiswa Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia ini gaul abis! Ekspresinya yang blak-blakan membuat Shamien terlihat pendukung gerakan transparansi kehidupan! Bagi Shamien dunia ngeblog sudah ditekuninya sejak SMA. Alumni SMA 61 Jakarta yang kemudian ngelanjutin di IE FE UI ini telah menjadikan blognya sebagai tempat curahan dikala senang dan sedih!

Cita-cita Shamien sih pengen jadi psikolog (ceile… kok aku jadi gaul gini bahasanya! terpengaruh Shamien nih) eh dapetnya malah Ilmu Ekonomi UI, jauh banget! Menurut pengakuannya, Nimas merasa bahagia di IE UI… kuliah sambil hepi kan bagus! Semoga, hari-hari berjalan… kuliah tidak merasa tersiksa! ya ga Ayu?

Helena Yurike Hartono berumur 20 Tahun, kini sedang kuliah di Program Akuntansi FE Universitas Atmajaya Yogyakarta. Gadis kelahiran Purwokerto 3 Juli 1987 ini hobinya membaca, berenang dan jalan-jalan. Helen merupakan sosok mahasiswa pendatang baru di dunia Blog. Jadi wajar saja jika sejak 17 Februari 2007 isi blognya baru yang inti-intinya saja. Tetapi aku bersyukur… isinya yang to the point, memudahkan untuk menganalisisnya. Akhirnya… ku tunggu dikau (Helen) di dunia Blog!

Muhammad Hamdan tepat sekali disebut aktivis kampus. Anak Jepara yang hijrah ke Semarang, baru-baru ini terpilih sebagai ketua BEM FE UNNES. Selamat yah! Semoga Anda dapat membawa pencerahan kawan-kawan mahasiswa. Mulai ngeblog dari bulan Februari 2005. Hanya saja, dari Januari 2007 blognya mandeg ga diisi-isi. Sibuk yah jadi Ketua BEM? Ah… sebenarnya bisa… nyempetin dikit..! Hehehe.

Dari isi blognya, Hamdan banyak menyajikan napas spiritual dalam postingnya. Tuhan Karuniakan Akal dan Hati untuk Mendekat Pada-Nya merupakan judul Blognya. Nuansa religi dalam diri seorang Hamdan sangatlah wajar. Terdidik dan dibesarkan dalam lingkungan santri membekas dalam hidup kesehariannya. Sebelumnya, Hamdan juga sosok mahasiswa jurnalis. Pernah jadi Pemred Buletin EXPRESS dan setelah jadi Ketua BEM FE UNNES, di buletin aktivitasnya hanya membackup per-layout-an.

Walakhir, Kita tunggu nih posting-posting selanjutnya setelah jadi Ketua BEM? …

Dari search result blog search google, dengan memakai kata kunci: mahasiswa ekonomi, mahasiswa manajemen dan mahasiswa akutansi, blog yang terdeteksi hasilnya sembilan orang mahasiswa. Dibandingkan dengan dosen ekonomi, hasilnya lebih banyak mahasiswa yang ngeblog. Saya tidak akan coba mengulas kuantitas antara komunitas dosen dengan komunitas mahasiswa yang ngeblog. Karena memang standar ukurnya berbeda! Dari sisi jumlah saja, jelas… mahasiswa lebih banyak berbanding dosennya.

BTW, paling tidak, hipotesis saya sudah terjawab dan hasilnya sesuai setelah dilakukan pengujian. Hehehe…

Anda punya pendapat?

Popularity: 100% [?]


Tulisan ini

Bertajuk “Review Blog Mahasiswa Ekonomi,” terdapat dalam blog Rohmat Sarman

Dipublikasikan pada:

04.09.07 / jam 2am

Masuk dalam kategori:

Ekonomi, Opini

Postingan yang banyak dibaca…

Komentar Terkini

  • Bibing Sudarman: Pendidikan merupakan investasi yang tak ternilai…
  • Hasannuh: Si Akang malah berhenti sejenak, sementara saya baru memulai…
  • dadang firdaos: maju terus pantang berhenti dan mundur. bolehlah istirahat…
  • kambeeng: Ass Kang, Hapunten Abdi bilih .. mapatahan ngojay ka meri…,…
  • neng ida: adik ku itu sangat imut kan nama ku waridatun amaly aku putri ke2…

 


Terdapat 16 komentar

mau berkomentar? | komentar rss [?] | kembali [?]

  1. ichsanmufti 04.09.07 / 3am

Sejenak hati saya mengkerut.. saya beristighfar karena sungguh diri yang masih sangat berkekurangan ini direview dengan gambaran yang terlalu hebat, jauh dari yang dapat saya bayangkan tentang diri saya sendiri.

Namun disisi lain saya mengucapkan terima kasih buat mas rahmat, atas pecutan ini. Pecutan yang semoga membuat saya tidak mengecewakan orang-orang disekeliling saya.

Ada pun alasan saya terus go-blog ini tak lain karena didorong oleh keyakinan saya bahwasanya kebahagiaan itu akan berlipat ganda terasa jika ia dinikmati bersama manusia yang lain.

*Salam kenal buat teman2 mahasiswa korban yang direview ama mas Rohmat :p

  1. shamien aroengbinang 04.09.07 / 7am

entah kenapa ya dari sekian ratus sample FE, sekian ratus mahasiswa/i, khusunya yang nge-blog, khususnya lagi yang menganut aliran ‘transparansi’ apalah itu, kenapa blog saya yang kepilih? hhmm.. kalo diitung pake probabilita poisson tuh keluar angka brapa y?

hehehe..

gak keberatan pak.. review yang bagus, segar, dan ngasi contoh yang variatif.. dtunggu penelitian selanjutnya..

  1. Lawrance 04.09.07 / 3pm

makasih sudah di review mas. haha saya tidak mencoba puitis kok. cuma hidup saya sudah terlalu sumpek sama analisis ekonomi, regresi ini-itu, statistika, ekonometrika, dan lain lain.

Padahal dulu Adam Smith membangun ilmu ekonomi dari filsafat dan sentuhan logika awam. Hehe, jadi sesekali bolehlah kalau sedang bosan dengan absolutisme dan rasionalitas angka, kita sedikit ‘tidur2an’ di kedamaian dan kesejukan relatifitas imajinasi yang puitis.. hehe

salam!

  1. ichsanmufti 04.11.07 / 3am

Hi hi.. jadi malu sendiri baca komen saya di atas, biasa aja kenapa san?!!!-maklum ketika itu sedang sensitif abis :D.

Hmmm.. Saya baru sadar blog saya masuk hlaman pertama google dengan kata kunci “mahasiswa ekonomi” hanya karena pstingan saya tentang DR.Ugi Suharto. Padahal selebihnya content blog saya saya miskin pengkajian masalah ekonomi lho.

Saya juga bertanya2 lho kok sedikit amat mahasiswa ekonomi yang ngeblog, padahal kebanyakan kampus telah menyediakan akses internet gratis bahkan wifi dengan acces point yang bertebaran dan memiliki banyak waktu luang. Hal ini berbeda sekali dengan para dosen yang walaupun telah disediakan fasilitas internet di ruang masing2 tetap saja mereka bersemboyam; Iiiih ngeblog?!!! MANA SEMPAT :P, sebagaimana yang diakui oleh bu luci tentang rekan2nya di sini

  1. Rohmat Sarman 04.11.07 / 3am

Hehehe… jadi penasaran nih… mas Ichsan ngecek di google… coba mas pegri ke google nya bukan google search blog… ketik dosen ekonomi: terserah mau pake tanda petik atau ngga! siapa coba yang muncul… hehehe… berkat “niche content” yang cermat….

  1. Hamdan 04.12.07 / 4am

Lama nggak up date blog, tau-tau ada comment-nya mas Rokhmat. Ngasih tau blog ane di review. Setelah ane buka,…he..he..jadi malu. Salam kenal dan makasih sarannya ya. Buat mas Mufti juga, kita senasib…..

  1. Nieke,, 04.18.07 / 4pm

waw,,, heubad.. banyak juga anak ekonomi ngeblog.. tak kirain pd sibuk mikirin perekonomian Indonesia doank.. apa sibuk mikirin Y = C + S, ahahaaa..

overall.. gud review, pak

  1. Samrin 04.23.07 / 8am

Subhanalloh,ternyata ada juga.Tolong blog saya didaftarin juga yaaaaaaaaaa!!!! trims

  1. Dadang Suherman 07.27.07 / 4am

Mat, gimana kabarnya ? Kalau ngeblog kok jalan terus cuma jangan lupa kasih informasi perkembangan di jiran. Dan pikirkan juga bagaimana fakultas kita harus maju. Soalnya, dengan kondisi begini susah maju-maju ya. Please inspirasinya, dan pemikiran-pemikiran segar yang genial dan lebih berwarna buat kita di Ina. Oke? tapi tetap sesuatu yang bisa semua ketawa. Ha…Ha…Ha…

  1. Aulia 09.12.07 / 1pm

Salam kenal, Pak.

Kalo boleh nambah ada tuh blog keren nofieiman.com
Kabarnya sih dia mahasiswa accounting FE UGM. Tp gak tau deh skrg dah lulus ato blm…

  1. lingga wardana 01.14.08 / 2am

betul2..apakah artinya kalo tidak ada dosen yang menilai…
hehe…mampir ya pak..

http://economicslaterreview.blogspot.com/

  1. Echa 03.17.08 / 8am

salam kenal, sekarang dah bkn mahasiswi yg merangkap ibu rmh tangga plus ngantor…jd bisa disempet2in ngeblog. kalo ada referensi all-in ekonomi syariah boleh dong, lagi mo fokus nih…

  1. Hendra Kusuma 07.20.08 / 12pm

Iseng iseng browsing ketemu blog ini, dengan PDnya saya pikir Blog saya dimasukin disini… hehehe :hammer:

Salam Kenal Semua….
Jangan Lupa mampir di Blog Saya… “Butuh koment ga enak kalau nge blog ga ada komen”

  1. Yasinta 10.17.08 / 9am

Mas Rohmat, tambahin donk blog-ku di list diatas, hehehe…. Aku jg mahasiswa ekonomi nih, tepatnya di Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Blogku bnyk berisi topik2 ekonomi, manajemen, dan finansial..
Moga berkenan, Met kenal..

  1. Lawrance 10.21.08 / 6am

mas.. makasih udah pernah cantumin blog-ku…

tapi blog saya sudah pindah breg-abreg…. dan fokusnya sudah ke bahasan ekonomi…

kapan2 cek yahh… http://www.wikinomic.co.cc

thx.

best regard

  1. muhamadmuiz 02.03.09 / 4pm

Salam kenal semua.
ada anak ekonomi juga nih di sini…
wah, menggairahkan juga kalo misalnya ada komunitas anak ekonomi…

Silahkan komentarnya ditulis di bawah ini…

XHTML: Anda dapat menggunakan tags: <a href=”” title=””> <abbr title=””> <acronym title=””> <b> <blockquote cite=””> <cite> <code> <del datetime=””> <em> <i> <q cite=””> <strike> <strong>

Nama Anda (diperlukan)
Email Anda (diperlukan)
Weblog (jika ada)

sopanlah…


Pages

Monthly Archives

Categories

Recently


Copyright @ 2007 Rohmat Sarman, Theme telah mengalami perubahan dari bentuk asalnya.

top

in

out

mail

ga

ir

  You!
Join My Community
                       
View Reader Community
Join this Community
(provided by MyBlogLog)

 

LINKS
- Kesalehan Sosial -    - Krisis Multidimensi -    - Motivasi Islami -    - MSDM -    - Sumber Daya Muslim -    - Pengusaha Muslim -   
- Pemberdayaan Komunitas -    - Radio Komunitas Nurul Hidayah -    - Taman Baca Tepas Elmu -   
- Radio Komunitas -    - Usaha Mikro -    - Pedagang Kaki Lima -    - Menanam Bunga -   

PERSONAL BLOGS
- Aditiawan Chandra -    - Anton B Pranata -    - A. Fatih Syuhud -    - Fauzan Longgar -    - Hendra Syahputra -    - Ila Piet -    - Indrianita -   
- Luciana Spica Almilia -    - Muhammad Syukri Salleh -    - Pepie Diptyana -    - Rini Salwa Akbar -    - Syarif Mawahib -   
- Unis Sagena Hasyim -    - Zaenal Arifin -    - Karya Fansuri-   

INSTITUTIONS
- UNPAS -    - FE UNPAS -    - PASCA UNPAS -   - UNPAD -    - NU MALAYSIA-    - PBNU -    - UKM -    - USM -   - ISDEV USM -    - CPR USM -    - JRK JABAR -   

             
           
       

 Advertisement

Rabu, 09 Desember 2009

FE Unpas Buka “Pojok Bursa”

Selasa, 05 Agustus 2008 , 19:00:00

BANDUNG, (PRLM) – Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Pasundan (Unpas) membuka Galeri Bursa Berjangka dan Bursa Efek (Pojok Bursa) di lingkungan kampus. Pembukaan “Pojok Bursa” ditandai penandatanganan naskah kerja sama (MoU) antara Dekan FE Unpas Dr. Abdul Maqin, S.E., M.P. dengan Branch Manager PT CIC (Century Intervest Corporation) Futures Cabang Bandung Bunyamin Lukmanudin, disaksikan Pembantu Rektor I Unpas Prof. Dr. Eddy Yusuf, S.P. M.Si., di Gedung FE Unpas, Selasa (5/8).

Menurut Dekan FE Unpas Dr. Abdul Maqin, S.E., M.P., pembukaan “Pojok Bursa” ini untuk merespon perkembangan pasar keuangan derivatif atau pasar modal/berjangka yang perannya semakin penting bagi perekonomian nasional. Ada tiga sasaran utama yang akan dikembangkan “Pojok Bursa” yaitu aspek edukasi, rekruitmen dan investasi.

“Selain dimanfaatkan civitas akademika (mahasiswa, dosen dan karyawan Unpas), Pojok Bursa ini bisa dimanfaatkan pula oleh masyarakat umum,” ujar Pembantu Dekan I FE Unpas, Undang Juju S.E., M.Si. yang juga sebagai Pengasuh “Pojok Bursa”. (A-68/A-37)***

BERITA TERKAIT

  • BANDUNG RAYA

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

PORTAL LAIN

>> Go To Site

Lihat juga portal lain Pikiran Rakyat

Berita dari PR ADV

POJOK ACARA

>> Go To Site

Copyright © 2009 Pikiran Rakyat.

2010, Pengangguran di Jabar Diprediksi Melonjak

Senin, 16 November 2009 – 18:10 wib

TEXT SIZE :     

 

Gin Gin Tigin Ginulur – Okezone

Pencari Kerja. Foto: Heru Haryono/Okezone.com

BANDUNG - Jumlah pengangguran di Jawa Barat diprediksikan meningkat di 2010. Untuk itu, investasi di sektor padat karya, perlu segera direalisasikan untuk menekan angka pengangguran tersebut.

Ekonom Universitas Pasundan (Unpas) Bandung Acuviarta Kartabi mengatakan, jumlah pengangguran Jabar per Februari 2009 masih sekira 2,26 juta jiwa atau sekira 7,54 persen dari total penduduk usia kerja (15 tahun ke atas).

Bila dilihat dari data 2003-2008, rata-rata realisasi total investasi (PMA dan PMDN) di Jabar sebesar Rp21,8 triliun per tahun dengan rata-rata penyerapan tenaga kerja sebanyak 82 ribu orang per tahun.

“Jika pemerintah ingin menurunkan jumlah pengangguran saat ini sebanyak 2,26 juta orang, katakanlah ke level enam persen atau dengan tingkat pengangguran menjadi 1,8 juta jiwa, saya kira dibutuhkan investasi yang besar agar dapat menurunkan pengangguran sekira 460 ribu jiwa tersebut,” jelasnya, di Bandung, Senin (16/11/2009).

Menurut Acuviarta, pemerintah perlu memperhatikan kondisi saat ini. Karena, realisasi investasi lebih banyak masuk ke sektor-sektor padat modal, dan bisa berdampak pada minimnya kemampuan peningkatan investasi dalam mendorong pengurangan tingkat pengangguran.

Dia mengatakan, untuk menekan angka pengangguran tersebut, Pemprov Jabar harus mampu menyerap reallisasi investasi sekira Rp24,26 triliun. Kenaikan investasi tersebut bisa menekan angka pengangguran ke tingkat enam persen atau sekira 1,8 juta jiwa.

“Di sisi lain, tampaknya kita juga perlu memperhatikan kondisi saat ini di mana realisasi investasi lebih banyak masuk ke sektor padat modal yang berdampak pada minimnya kemampuan peningkatan investasi dalam mendorong pengurangan tingkat pengangguran,” terang Acuvarta.
(ade)

Sent from Indosat BlackBerry powered by

 

Bagi Pengguna Ponsel, BlackBerry Nikmati Berita Terkini Di http://m.okezone.com

 

Ada 0 komentar untuk berita ini. Komentar Anda?
Silahkan kirim komentar Anda. Kami berhak menghapus komentar apabila diperlukan

Berita Terkait: Pengangguran

Pesta Politik, Menu Ekonomi

ACUVIARTA KARTABI, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Pasundan Bandung

dokumentasi

Acuviarta Kartabi, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Pasundan Bandung

Senin, 22 Juni 2009 | 00:43 WIB

SUHU politik terus memanas. Pertarungan tiga kandidat presiden merebut hati sekitar 176 juta pemilih yang tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) terus berkobar terbuka di berbagai kesempatan. Sejauh ini topik hangatnya masih di seputar topik-topik ekonomi.
   
Di balik semua topik yang ditawarkan, sesungguhnya ada harapan lain agar para kandidat capres/cawapres untuk tidak terlalu larut pada analisis-analisis jangka panjang dari kondisi perekonomian kita saat ini. Sebab, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah hari ini kita sedang dihadapkan pada tekanan fluktuasi ekonomi jangka pendek akibat dampak krisis keuangan global dan tekanan masalah-masalah struktural perekonomian.
   
Kita memerlukan kebijakan yang implementatif untuk menyikapi kondisi darurat saat ini. Artinya, lebih realistis jika solusi topik-topik permasalahan ekonomi jangka pendek yang kita hadapi saat ini lebih banyak disoroti oleh para kandidat ketimbang memperdebatkan parameter praktik neoliberalime yang belum tentu akan mencapai kata sepakat dalam waktu yang cepat.
   
Jangan sampai kita berlama-lama berdebat tentang platform ekonomi, orang asing justru mencuri ikan kita di laut dan sumber daya alam dikuras seolah tidak bertuan. Perdebatan praktik neoliberal saat ini tidak lebih bisa diibaratkan sekadar melihat semut di seberang lautan tampak, tapi gajah dipelupuk tidak tampak.
   
Oleh karena itu, secara kolektif keinginan menolak neoliberalisme lebih baik dilihat sebagai komitmen bersama untuk mewujudkan platform ekonomi Indonesia yang lebih mandiri serta menjunjung nilai-nila religius dan semangat gotong royong. Masalah kemandirian juga harus didukung oleh seluruh pranata ekonomi, baik itu terkait pemerintah maupun swasta. Persoalannya sekarang tinggal bagaimana membangun kemandirian itu melalui cara-cara yang konstruktif.
   
Untuk kasus ekonomi Indonesia, di mana ketimpangan pendapatan masih tinggi, pengelolaan ekonomi hanya pada segelintir orang, sektor pertanian yang masih terbengkalai, pendapatan petani rendah, ketimpangan pembangunan antardaerah tinggi, jumlah penduduk miskin, dan pengangguran tinggi adalah sangat tidak mungkin untuk mengurangi peran pemerintah kemudian menyerahkannya kepada mekanisme ekonomi pasar, kecuali jika ingin bunuh diri.
   
Penulis melihat ada kecenderungan janji-janji ekonomi kandidat presiden belakangan ini hanyalah sebatas angin surga. Perlu dijelaskan lebih lanjut kepada masyarakat seperti apa merealisasikan janji-janji itu dan kapan janji itu bisa dipenuhi. 
   
Praktik menjual BUMN, menambah utang luar negeri dan dalam negeri, dan tuntutan pengeluaran APBN yang semakin besar adalah indikasi bahwa kita akan menemui batu sandungan yang tidak sedikit jika kita ingin benar-benar drastis mandiri dari sisi anggaran. Oleh sebab itu, saatnya kita menguji capres/cawapres kita saat ini dalam mengatasi kendala-kendala yang dapat memperlambat proses kemandirian  perekonomian.
   
Praktik menjual BUMN ke investor asing, misalnya, harus dilihat dari kondisi aktual ekonomi kita saat ini. Cobalah lihat, sebagian besar realisasi investasi di Jawa Barat adalah investasi asing (PMA). Ketika kita membutuhkan dana besar untuk menggerakkan ekonomi, tingkat suku bunga bank malah naik.

Sederhananya, kalau ingin melihat praktik neolib, lihat saja praktik bisnis perbankan, di mana BI saja yang notabene merupakan bagian dari elemen pemerintah seolah-olah dibuat bertekuk lutut dan tidak mampu berbuat apa-apa. Meskipun BI Rate terus turun, tingkat bunga intermediasi tidak juga kunjung turun ke tingkat yang lebih masuk akal. Perbankan kita telah menempatkan diri di posisi sebagai penunggang bebas ketimbang menjadi agen pembangunan.
   
Untuk itu, harusnya para capres/cawapres lebih menyoroti bagaimana mewujudkan kinerja BUMN yang sehat. Tanpa BUMN yang sehat secara mayoritas maka realitanya akan selalu ada potensi BUMN sehat yang dijual untuk tujuan menutup defisit anggaran atau meningkatkan penerimaan pemerintah.
   
Di sisi lain, mengandalkan pengusaha membeli BUMN di negaranya sendiri jauh dari berani, selain mungkin memang tidak memiliki kemampuan finansial. Kalau pemerintahan ke depan mampu mewujudkan BUMN yang sehat, tidak perlu ada kekhawatiran bahwa kita harus menjual BUMN karena kontribusi kinerja BUMN akan optimal dukungannya terhadap penerimaan pemerintah, bukan sebaliknya seperti saat ini malah membebani APBN.
   
Kalau pengusaha di dalam negeri berani, uang ratusan triliun yang disimpan di bank-bank luar negeri harusnya bisa digunakan untuk membeli BUMN di negaranya sendiri. Untuk itu, bisa dituding, nasionalisme pengusaha kita untuk membesarkan ekonomi negaranya jauh dari harapan.
   
Kemudian menambah utang. Banyak orang tidak melihat begitu besarnya bunga utang dalam negeri ketimbang kita mendapatkan manfaat optimal dari pinjaman-
pinjaman program lembaga sindikasi internasional. Dalam pandangan makro ekonomi, apakah utang luar negeri memberi manfaat atau kerugian, sampai saat ini masih jadi perdebatan. Masalahnya satu, yaitu bergantung pada penggunaan utang luar negeri itu sendiri dan bagaimana cara kita bernegosiasi.
   
Kalau menggunakannya tidak efisien dan tidak ada evaluasi, apakah itu utang luar negeri atau dalam negeri akan sama-sama merepotkan APBN dan generasi yang akan datang. Masalah utang luar negeri juga sering terbentur pada masalah negosiasi di mana lembaga multilateral dan negara maju selalu memasukkan keinginannya terkait pinjaman yang diberikan. Bahasa sederhananya, kalau mereka beri pinjaman, tidak ada yang ikhlas sehingga di belakang itu selalu ada embel-embelnya. Begitu pun utang dalam negeri yang harus dikompensasi dengan bunga tinggi.
   
Penulis melihat perdebatan praktik neolib dalam perspektif utang lebih baik diarahkan kepada bagaimana kita bisa menggunakan utang agar efisien (manajemen utang), kemudian bagaimana kita bisa agar terus menekan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB), dan menjelaskan bagaimana utang bisa mewujudkan multiplier tinggi terhadap hasil-hasil pembangunan.
   
Kemudian dalam hal pengeluaran anggaran kecenderungannya akan tetap besar pada saat kondisi ekonomi sedang dalam situasi apa pun. Tidak peduli sedang krisis  (resesi) ataupun booming (apalagi), pengeluaran anggaran akan meningkat tanpa diikuti kemampuan penerimaan yang sepadan. Mengoptimalkan pajak kondisinya di Indonesia jauh dari ideal, indikatornya lihat saja dari tax ratio dan pendapatan per kapita yang masih berkutat di angka 2.000 dolar AS. Jika kondisinya seperti itu, tekanan defisit anggaran an semakin sulit dinetralkan dalam kondisi apa pun. Belum lagi jika kita memasukkan besaran subsidi (BBM dan listrik) tentunya akan lebih sulit lagi.

Oleh sebab itu, yang penting bagi kita saat ini adalah bagaimana tawaran kebijakan ekonomi yang diusung para kandidat presiden bisa menyelesaikan masalah-masalah perekonomian aktual dan bersifat jangka pendek. (*)

Dibaca 1529 kali  |  Dikomentari 0 kali

A A A Cetak

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA.

komentar

Name

Email

Alamat

Komentar

Security Code

Galeri Foto

TES KADAR GULA

more on galeri foto

  • ARTIKEL LAINNYA  Senin, 23 November 2009 | 12:33 WIB

    Sosialisasikan dengan Benar Bukan Sekadar Habiskan Anggaran


    Senin, 28 September 2009 | 10:28 WIB

    Perppu Plt KPK Penuh Kontroversi


    Senin, 7 September 2009 | 10:49 WIB

    Pengemis dan Pemaksaan Rasa Iba


    Senin, 22 Juni 2009 | 00:43 WIB

    Pesta Politik, Menu Ekonomi


    Senin, 15 Juni 2009 | 11:45 WIB

    Kemandirian Pertahanan Nasional Suatu Keharusan


    Surat Kabar
    ————-KompasBangka PosBanjarmasin PostPos KupangSerambi IndonesiaSriwijaya PosSuryaWarta KotaTribun BatamTribun KaltimTribun PekanbaruTribun TimurTribun PontianakTribun ManadoTribun Lampung

    Majalah dan Tabloid
    ————-AngkasaBolaChipGaya Hidup SehatHaiInfo KomputerKontanMotor PlusNakitaNational Geographic IndonesiaNovaOtomotif NetPC PlusSedapSinyalSoccerIdea

    Penerbit
    ————-Elex Media KomputindoGramedia MajalahGramedia Pustaka UtamaGrasindoKepustakaan Populer Gramedia

    Media Elektronik
    ————-Kompas Cyber MediaSonoraOtomotion

    Industri dan Lain-lain
    ————-Bentara BudayaDyandra PromosindoPT Gramedia Printing GroupUniversitas Media Nusantara

    Hotel & Resort
    ————-Amaris HotelSantika Indonesia Hotels & ResortsThe Kayana – Boutique VillasThe Samaya – Luxurious Boutique Villas

    Pesta Politik, Menu Ekonomi 

    ACUVIARTA KARTABI, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Pasundan Bandung 

    dokumentasi 

    Acuviarta Kartabi, Dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Pasundan Bandung 

    Senin, 22 Juni 2009 | 00:43 WIB 

    SUHU politik terus memanas. Pertarungan tiga kandidat presiden merebut hati sekitar 176 juta pemilih yang tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) terus berkobar terbuka di berbagai kesempatan. Sejauh ini topik hangatnya masih di seputar topik-topik ekonomi.
       
    Di balik semua topik yang ditawarkan, sesungguhnya ada harapan lain agar para kandidat capres/cawapres untuk tidak terlalu larut pada analisis-analisis jangka panjang dari kondisi perekonomian kita saat ini. Sebab, satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah hari ini kita sedang dihadapkan pada tekanan fluktuasi ekonomi jangka pendek akibat dampak krisis keuangan global dan tekanan masalah-masalah struktural perekonomian.
       
    Kita memerlukan kebijakan yang implementatif untuk menyikapi kondisi darurat saat ini. Artinya, lebih realistis jika solusi topik-topik permasalahan ekonomi jangka pendek yang kita hadapi saat ini lebih banyak disoroti oleh para kandidat ketimbang memperdebatkan parameter praktik neoliberalime yang belum tentu akan mencapai kata sepakat dalam waktu yang cepat.
       
    Jangan sampai kita berlama-lama berdebat tentang platform ekonomi, orang asing justru mencuri ikan kita di laut dan sumber daya alam dikuras seolah tidak bertuan. Perdebatan praktik neoliberal saat ini tidak lebih bisa diibaratkan sekadar melihat semut di seberang lautan tampak, tapi gajah dipelupuk tidak tampak.
       
    Oleh karena itu, secara kolektif keinginan menolak neoliberalisme lebih baik dilihat sebagai komitmen bersama untuk mewujudkan platform ekonomi Indonesia yang lebih mandiri serta menjunjung nilai-nila religius dan semangat gotong royong. Masalah kemandirian juga harus didukung oleh seluruh pranata ekonomi, baik itu terkait pemerintah maupun swasta. Persoalannya sekarang tinggal bagaimana membangun kemandirian itu melalui cara-cara yang konstruktif.
       
    Untuk kasus ekonomi Indonesia, di mana ketimpangan pendapatan masih tinggi, pengelolaan ekonomi hanya pada segelintir orang, sektor pertanian yang masih terbengkalai, pendapatan petani rendah, ketimpangan pembangunan antardaerah tinggi, jumlah penduduk miskin, dan pengangguran tinggi adalah sangat tidak mungkin untuk mengurangi peran pemerintah kemudian menyerahkannya kepada mekanisme ekonomi pasar, kecuali jika ingin bunuh diri.
       
    Penulis melihat ada kecenderungan janji-janji ekonomi kandidat presiden belakangan ini hanyalah sebatas angin surga. Perlu dijelaskan lebih lanjut kepada masyarakat seperti apa merealisasikan janji-janji itu dan kapan janji itu bisa dipenuhi. 
       
    Praktik menjual BUMN, menambah utang luar negeri dan dalam negeri, dan tuntutan pengeluaran APBN yang semakin besar adalah indikasi bahwa kita akan menemui batu sandungan yang tidak sedikit jika kita ingin benar-benar drastis mandiri dari sisi anggaran. Oleh sebab itu, saatnya kita menguji capres/cawapres kita saat ini dalam mengatasi kendala-kendala yang dapat memperlambat proses kemandirian  perekonomian.
       
    Praktik menjual BUMN ke investor asing, misalnya, harus dilihat dari kondisi aktual ekonomi kita saat ini. Cobalah lihat, sebagian besar realisasi investasi di Jawa Barat adalah investasi asing (PMA). Ketika kita membutuhkan dana besar untuk menggerakkan ekonomi, tingkat suku bunga bank malah naik.

    Sederhananya, kalau ingin melihat praktik neolib, lihat saja praktik bisnis perbankan, di mana BI saja yang notabene merupakan bagian dari elemen pemerintah seolah-olah dibuat bertekuk lutut dan tidak mampu berbuat apa-apa. Meskipun BI Rate terus turun, tingkat bunga intermediasi tidak juga kunjung turun ke tingkat yang lebih masuk akal. Perbankan kita telah menempatkan diri di posisi sebagai penunggang bebas ketimbang menjadi agen pembangunan.
       
    Untuk itu, harusnya para capres/cawapres lebih menyoroti bagaimana mewujudkan kinerja BUMN yang sehat. Tanpa BUMN yang sehat secara mayoritas maka realitanya akan selalu ada potensi BUMN sehat yang dijual untuk tujuan menutup defisit anggaran atau meningkatkan penerimaan pemerintah.
       
    Di sisi lain, mengandalkan pengusaha membeli BUMN di negaranya sendiri jauh dari berani, selain mungkin memang tidak memiliki kemampuan finansial. Kalau pemerintahan ke depan mampu mewujudkan BUMN yang sehat, tidak perlu ada kekhawatiran bahwa kita harus menjual BUMN karena kontribusi kinerja BUMN akan optimal dukungannya terhadap penerimaan pemerintah, bukan sebaliknya seperti saat ini malah membebani APBN.
       
    Kalau pengusaha di dalam negeri berani, uang ratusan triliun yang disimpan di bank-bank luar negeri harusnya bisa digunakan untuk membeli BUMN di negaranya sendiri. Untuk itu, bisa dituding, nasionalisme pengusaha kita untuk membesarkan ekonomi negaranya jauh dari harapan.
       
    Kemudian menambah utang. Banyak orang tidak melihat begitu besarnya bunga utang dalam negeri ketimbang kita mendapatkan manfaat optimal dari pinjaman-
    pinjaman program lembaga sindikasi internasional. Dalam pandangan makro ekonomi, apakah utang luar negeri memberi manfaat atau kerugian, sampai saat ini masih jadi perdebatan. Masalahnya satu, yaitu bergantung pada penggunaan utang luar negeri itu sendiri dan bagaimana cara kita bernegosiasi.
       
    Kalau menggunakannya tidak efisien dan tidak ada evaluasi, apakah itu utang luar negeri atau dalam negeri akan sama-sama merepotkan APBN dan generasi yang akan datang. Masalah utang luar negeri juga sering terbentur pada masalah negosiasi di mana lembaga multilateral dan negara maju selalu memasukkan keinginannya terkait pinjaman yang diberikan. Bahasa sederhananya, kalau mereka beri pinjaman, tidak ada yang ikhlas sehingga di belakang itu selalu ada embel-embelnya. Begitu pun utang dalam negeri yang harus dikompensasi dengan bunga tinggi.
       
    Penulis melihat perdebatan praktik neolib dalam perspektif utang lebih baik diarahkan kepada bagaimana kita bisa menggunakan utang agar efisien (manajemen utang), kemudian bagaimana kita bisa agar terus menekan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB), dan menjelaskan bagaimana utang bisa mewujudkan multiplier tinggi terhadap hasil-hasil pembangunan.
       
    Kemudian dalam hal pengeluaran anggaran kecenderungannya akan tetap besar pada saat kondisi ekonomi sedang dalam situasi apa pun. Tidak peduli sedang krisis  (resesi) ataupun booming (apalagi), pengeluaran anggaran akan meningkat tanpa diikuti kemampuan penerimaan yang sepadan. Mengoptimalkan pajak kondisinya di Indonesia jauh dari ideal, indikatornya lihat saja dari tax ratio dan pendapatan per kapita yang masih berkutat di angka 2.000 dolar AS. Jika kondisinya seperti itu, tekanan defisit anggaran an semakin sulit dinetralkan dalam kondisi apa pun. Belum lagi jika kita memasukkan besaran subsidi (BBM dan listrik) tentunya akan lebih sulit lagi.

    Oleh sebab itu, yang penting bagi kita saat ini adalah bagaimana tawaran kebijakan ekonomi yang diusung para kandidat presiden bisa menyelesaikan masalah-masalah perekonomian aktual dan bersifat jangka pendek. (*) 

    Dibaca 1529 kali  |  Dikomentari 0 kali 

    A A A Cetak 

    Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau bermaksud SARA. 

    komentar 

    Name
     

    Email
     

    Alamat
     

    Komentar
     

    Security Code 

    Galeri Foto 

    TES KADAR GULA 

    more on galeri foto 

    • ARTIKEL LAINNYA  Senin, 23 November 2009 | 12:33 WIB 

      Sosialisasikan dengan Benar Bukan Sekadar Habiskan Anggaran  


      Senin, 28 September 2009 | 10:28 WIB 

      Perppu Plt KPK Penuh Kontroversi  


      Senin, 7 September 2009 | 10:49 WIB 

      Pengemis dan Pemaksaan Rasa Iba  


      Senin, 22 Juni 2009 | 00:43 WIB 

      Pesta Politik, Menu Ekonomi  


      Senin, 15 Juni 2009 | 11:45 WIB 

      Kemandirian Pertahanan Nasional Suatu Keharusan  


      Surat Kabar
      ————-KompasBangka PosBanjarmasin PostPos KupangSerambi IndonesiaSriwijaya PosSuryaWarta KotaTribun BatamTribun KaltimTribun PekanbaruTribun TimurTribun PontianakTribun ManadoTribun Lampung 

      Majalah dan Tabloid
      ————-AngkasaBolaChipGaya Hidup SehatHaiInfo KomputerKontanMotor PlusNakitaNational Geographic IndonesiaNovaOtomotif NetPC PlusSedapSinyalSoccerIdea 

      Penerbit
      ————-Elex Media KomputindoGramedia MajalahGramedia Pustaka UtamaGrasindoKepustakaan Populer Gramedia 

      Media Elektronik
      ————-Kompas Cyber MediaSonoraOtomotion 

      Industri dan Lain-lain
      ————-Bentara BudayaDyandra PromosindoPT Gramedia Printing GroupUniversitas Media Nusantara 

      Hotel & Resort
      ————-Amaris HotelSantika Indonesia Hotels & ResortsThe Kayana – Boutique VillasThe Samaya – Luxurious Boutique Villas 

HARGA DAN KEGAGALAN KOORDINASI

 

Thursday, 29 January 2009 05:51
Oleh: AcuviartaTURUNNYA harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan tarif dasar listrik (TDL) untuk industri, diharapkan bisa berdampak signifikan dan tidak terlalu lama terhadap penurunan harga-harga komoditas barang dan jasa. Akan tetapi, tampaknya jangankan penurunan harga-harga komoditas yang murni tidak diatur pemerintah, untuk harga-harga yang diatur pemerintah saja penurunannya masih tersendat-sendat.

Pelajaran penting pertama dari kondisi ini bahwa pertimbangan apa pun terkait kebijakan yang bisa mendorong kenaikan harga harus diperhitungkan secara cermat. Menaikkan harga BBM mungkin bisa semudah membalik telapak tangan, tetapi membalikkan (menurunkan) efek kenaikan harga BBM terhadap harga-harga komoditas terbukti tidak semudah itu.

Pelajaran kedua, perlunya dibangun komunikasi sekaligus komitmen antara pengusaha dan pemerintah. Jangan sampai ketika harga komoditas harus naik bisa dibangun komitmen, tetapi ketika harga harus turun tidak bisa. Untuk membangun komitmen sekaligus kepercayaan, pemerintah memang tidak harus masuk terlalu dalam mengatur dinamika yang terjadi pada setiap lapangan usaha. Berbekal informasi dampak kenaikan harga BBM terhadap cost of production, sebenarnya secara logis bisa terukur berapa level ideal penurunan cost of production akibat penurunan harga BBM (ceteris paribus).

Hasil survei Blinder yang dipublikasikan University of Chicago Press tahun 1994, menunjukkan bahwa (1) harga kaku cukup umum terjadi, di mana perusahaan menyesuaikan harga sekali atau dua kali dalam setahun. (2) Ada perbedaan yang mencolok kondisi antarperusahaan dilihat dari frekuensi penyesuaian harga. Hasil survei tersebut menyebutkan kira-kira 10% perusahaan mengubah harga lebih sering dalam sepekan. Di sisi lain, dengan persentase yang hampir sama, sejumlah perusahaan mengubah harga kurang dari sekali dalam setahun. (3) Di antara 12 teori kekakuan harga, ternyata problem kegagalan koordinasi menduduki posisi nomor wahid atau berada di peringkat atas. Tafsir penting dari teori kegagalan koordinasi ini adalah perusahaan akan menahan perubahan harga karena menunggu perusahaan lain melakukannya terlebih dahulu.

Penelitian Kelompok Riset Ekonomi dari Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia (2005) menyatakan: (1) sebagian besar perusahaan manufaktur di Indonesia dalam menentukan harga menggunakan strategi cost based pricing. Perubahan biaya produksi akan direspons dengan melakukan perubahan harga dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. (2) Dampak biaya energi secara umum tidak mempunyai peran yang besar dalam memengaruhi harga output. Nilai koefisien elastisitas harga energi berkisar antara 0,03 sampai dengan 0,16 (kecuali industri semen). Tidak terlalu besarnya pengaruh harga energi terhadap harga output tersebut sejalan dengan share biaya energi dalam total biaya produksi yang hanya berkisar antara 6% sampai dengan 13%. (3) Pengaruh tingkat upah, harga input material lokal dan impor, harga energi dan kapital terhadap perubahan harga berbanding lurus dengan share masing-masing faktor input tersebut dalam fungsi produksi. Pada kebanyakan industri, harga input material lokal merupakan faktor utama yang memengaruhi penentuan harga produk. Di samping itu, upah dan harga input impor memegang peranan yang signifikan. Sementara itu, harga energi hanya mempunyai peran yang relatif kecil dalam pembentukan harga. (4) Dilihat dari sisi besarnya peranan masing-masing faktor input dalam pembentukan biaya, secara umum peranan harga impor cenderung lebih besar dibandingkan dengan biaya bunga (Nugroho, Yanuarti, Tjahjono, 2005).

Melihat perkembangan sekaligus perilaku harga-harga saat ini, persoalannya memang cukup rumit. Kemungkinan-kemungkinan yang dapat dipertimbangkan di antaranya, pertama, memperkuat koordinasi pemerintah dengan asosiasi usaha (termasuk Kadin) serta koordinasi antarpelaku usaha dalam satu asosiasi. Hal tersebut juga perlu memperhatikan karakteristik masing-masing kluster usaha (industri). Untuk mengatasi kegagalan koordinasi, peran asosiasi usaha tergolong cukup dominan. Asumsinya, asosiasi usaha jauh lebih tahu struktur biaya dalam kelompok usahanya dan bagaimana perilaku masing-masing pelaku usaha di dalamnya.

Kedua, tindakan jangka pendeknya bisa dilakukan dengan melakukan operasi pasar. Tindakan ini ditujukan untuk mendistorsi harga di tingkat konsumen jangka pendek dengan harapan ada akselerasi penurunan harga dalam jangka menengah.

Ketiga, langkah agresi/ menyerang kekakuan harga (rigidity prices) pada tahap yang sangat kronis mungkin bisa mempertimbangkan untuk menempuh langkah represif melalui penetapan harga eceran tertinggi (HET). Kelemahan langkah ini memang harus dilakukan lebih cermat karena jika salah dan tidak hati-hati (apalagi tanpa koordinasi dan analisis spesifik) bisa menimbulkan efek samping yang kurang baik karena variatifnya kondisi masing-masing unit bisnis.

Keempat, untuk mencapai penurunan harga-harga yang cukup signifikan, diperlukan akselerasi stimulus penurunan harga di luar dampak kebijakan menurunkan harga BBM dan TDL. Kebijakan tersebut misalnya mempercepat realisasi paket-paket stimulus pertumbuhan, efektivitas stimulus fiskal, percepatan perbaikan infrastruktur, menekan korupsi dan pungli/hight cost economic, penurunan tingkat bunga, serta stabilitas nilai tukar.

Kelima, langkah pemerintah menggantung penurunan harga BBM berkali-kali perlu dipertimbangkan kembali agar tidak lebih sering dilakukan. Apalagi kita berpacu dengan waktu, setiap hari penurunan harga minyak dunia harus bisa ditransmisikan menjadi insentif untuk mendorong kemajuan ekonomi. Masalah ini sedikit teratasi dengan penetapan batas atas kenaikan harga BBM bersubsidi sehingga pengusaha bisa menyiapkan sejumlah skenario (optimis, moderat, atau pesimis).

Keenam, untuk pabrikan besar yang memproduksi banyak komoditas, pendekatannya bisa dilakukan pemerintah lebih agresif dan langsung. Harga-harga di tingkat konsumen sangat bergantung kepada harga beli dalam setiap rantai distribusi. Kalau harga pabrikan besar turun (kemudian didukung penurunan biaya transportasi, dan lain-lain), harga di tingkat konsumen akhir tampaknya juga akan mengikuti. ***


Penulis: Dosen Jurusan Ilmu Ekonomi FE Unpas dan pengurus ISEI Bandung Koordinator Jabar.Sumber: Harian Pikiran Rakyat, Kamis 29 Januari 2009

< Prev   Next >

 

 

Slide

Popular

                          IDEOLOGI PANCASILA

                          488 TENAGA HONORER DIANGKAT JADI PNS 2009

                          BIODATA ANGGOTA KABINET INDONESIA BERSATU II (2009-2014)

                          IDEOLOGI POLITIK DI INDONESIA

                          9.566 GURU DI JAWA BARAT LULUS SERTIFIKASI 2008

                          SERTIFIKASI PROFESI BAGI PENGAWAS SEKOLAH

                          PELUANG USAHA DARI PEMBAYARAN LISTRIK

                          SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME

                          SAJAK “BODOR” WABUP LESTARIKAN BAHASA SUNDA

                          MENEGAKKAN DISIPLIN DI SEKOLAH

                          MAJALENGKA DAPAT JATAH 368 CPNS

                          RATUSAN GURU HONORER MENUNTUT SEGERA DIANGKAT

                          PROFESIONALISME GURU DI TAHUN 2009

                          SANG PEMIMPIN BELANJA SAYUR

                          STIMULUS DAN EFEKTIVITAS KEBIJAKAN FISKAL

Berita Lain

                          RISIKO EKONOMI-POLITIK 2009

                          TARIF TRANSPORTASI TURUN, OGAH AH

                          PERAN REGULATOR DAN EFEKTIVITAS STIMULUS

                          TRIK IKLAN POLITIK

                          PEMIMPIN (BUKAN) SALING KRITIK

                          SALING KLAIM, SALING MENJATUHKAN

                          POLITIK PENCITRAAN CALEG

                          MEWUJUDKAN JABAR KREATIF

                          MENDONGKRAK DAU JAWA BARAT

                          MEMPERTAHANKAN INVESTASI

                          SWASEMBADA BERAS, USAHA SIAPA?

                          MEMBANGUN BANGSA DENGAN CINTA

                          IBARAT CITA-CITA DAN TAKDIR TUHAN

                          KETIDAKWARASAN DI BALIK PEMILU

                          KOMUNIKASI POLITIK PKS

                          MENIMBANG SBY TANPA JK DAN IMPLIKASINYA

                          MENCERMATI SPEKULASI KOALISI DEMOKRAT-PDI-P

                          MENAKAR EFEKTIVITAS DUET SBY-BOEDIONO

                          SISTEM EKONOMI KERAKYATAN VS NEOLIBERALISME

Kurs Rupiah Terus Melemah

Jum’at, 07 November 2008 , 00:06:00

BANDUNG, (PRLM).- Cadangan devisa Indonesia yang terus menurun sekitar 7 miliar dolar AS menjadi 51 miliar dolar AS dari 58 miliar dolar AS (posisi September 2007) dikhawatirkan bisa mengurangi tingkat kepercayaan investor asing terhadap Indonesia. Akibatnya, kurs rupiah terancam terus terdepresiasi (pelemahan) dibandingkan dengan mata uang internasional lainnya.

Bahkan, cadangan devisa Indonesia per 31 Oktober 2008 sudah sebesar 50,58 miliar dolar AS atau terendah selama tahun ini. “Kalaupun BI benar-benar sepenuhnya menggunakan cadangan devisa ini untuk menjaga kurs rupiah, tentu nilai tukar rupiah tidak akan labil dan tinggi fluktuasinya seperti yang terjadi sekarang ini,” ujar pengamat ekonomi, Acuviarta, di Bandung, Kamis (6/11).

Dia mengungkapkan itu terkait pernyataan Bank Indonesia (BI) bahwa posisi cadangan devisa saat ini dinilai dalam kondisi tidak mengkhawatirkan dan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan impor lebih dari empat bulan. “Posisi 51 miliar dolar AS sudah cukup besar dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu,” kata Deputi Gubernur BI, Hartadi A. Sarwono, di Jakarta, Kamis (6/11).

Acuviarta menjelaskan, tergerusnya cadangan devisa selama beberapa bulan terakhir ini bukan semata karena Bank Indonesia melakukan intervensi dalam menjaga kurs rupiah di pasar terbuka. “Kalaupun BI benar-benar sepenuhnya menggunakan cadangan devisa, tentu nilai tukar rupiah tidak akan labil dan tinggi fluktuasinya seperti yang terjadi sekarang,” tuturnya.

Acuviarta menilai, tergerusnya cadangan devisa diperkirakan lebih banyak digunakan untuk pembayaran utang luar negeri baik dari kalangan swasta maupun pemerintah yang banyak membutuhkan dolar AS, terlebih menjelang akhir tahun. “Sinyal tentang ini sebenarnya sudah terungkap juga saat Presiden SBY kemarin menyatakan agar Indonesia tidak melakukan pinjaman dulu di tengah kondisi krisis global saat ini,” ungkapnya. (A-68/A-147)***

BERITA TERKAIT

  • BANDUNG RAYA

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

PORTAL LAIN

>> Go To Site

Lihat juga portal lain Pikiran Rakyat

Berita dari PR CETAK

POJOK ACARA

>> Go To Site

Copyright © 2009 Pikiran Rakyat.

Rasio Pajak Indonesia Terendah di ASEAN

Kamis, 07 Mei 2009 , 08:26:00

BANDUNG, (PRLM).- Pajak seharusnya dapat menjadi alat moneter untuk menyejahterakan masyarakat. Sayangnya, penggunaan dana pajak di Indonesia tidak jelas sehingga benefit pajak tidak dapat dirasakan masyarakat.

Menurut pengamat masalah pajak Acuviarta, buruknya administrasi pajak menjadi salah satu faktor penyebab, masyarakat kurang merasakan keuntungan atas pajak yang telah mereka bayar.

Selain itu, alokasi pajak yang tidak jelas menyebabkan masyarakat enggan untuk menjadi wajib pajak yang taat. Masih tingginya jumlah masyarakat berpendapatan rendah, juga menjadi pemicu minimnya pajak yang dapat dikumpulkan oleh negara.

Semua faktor tersebut dapat menjelaskan mengapa rasio pajak Indonesia dibandingkan negara-negara lainnya di ASEAN, seperti Vietnam, sangat rendah.

Saat ini rasio pajak Indonesia, kata Acuviarta, sekitar 16%. “Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, rasio pajak Indonesia adalah yang terendah,” kata Acuviarta. (A-133/das)***

BERITA TERKAIT

  • BANDUNG RAYA

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

>> More

PORTAL LAIN

>> Go To Site

Lihat juga portal lain Pikiran Rakyat

Berita dari PR ADV

POJOK ACARA

>> Go To Site

Copyright © 2009 Pikiran Rakyat.

Agar BLT Lancar, Pemerintah Perlu Beri Pengertian

Artikel Terkait:

 

Senin, 26 Mei 2008 | 21:52 WIB

BANDUNG, SENIN - Pemerintah berharap, bantuan langsung tunai atau BLT dalam jangka pendek mampu menahan turunnya tingkat konsumsi keluarga miskin akibat kenaikan harga bahan bakar minyak. Agar pemanfaatan uang BLT dialokasikan secara benar, pemerintah perlu memberikan pengertian dan himbauan kepada masyarakat.

Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta mengatakan, pada prinsipnya kebijakan pemerintah memberikan bantuan di saat kenaikan bahan bakar minyak (BBM) tepat. Namun, keputusan pemberian bantuan berupa uang tidak akan menyelesaikan permasalahan ekonomi rakyat.

Karena berupa uang tunai, maka dana BLT memiliki tingkat likuiditas tinggi. Siapa saja dapat memanfaatkan uang tersebut untuk keperluan apa pun. “Jika sekedar untuk konsumsi, dana BLT sebesar Rp 100.000 per bulan hanya akan berfungsi sebagai penyambung kebutuhan saja, ” kata Acuviarta, Senin (26/5) di Bandung .

Bagi Acuviarta, bantuan yang bermanfaat haruslah memiliki efek berantai dan nilai tambah sehingga mampu meningkatkan produktifitas masyarakat. Karena itu, pemerintah perlu meningkatkan sosialisasi berbagai macam program yang mampu memberdayak an ekonomi masyarakat.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengungkapkan, pemberian BLT merupakan bantuan yang bersifat sementara. Selanjutnya, pemerintah akan mempersiapkan program jaring pengaman sosial yang lebih permanen.

Menurut Mari Elka, pemerintah menerapkan tiga kluster program pengentasan kemiskinan, yaitu program kluster satu, seperti BLT, Raskin, Askeskin, dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Selanjutnya, pemerintah menyediakan kluster kedua yang berisi program pemberdayaan masyarakat, dan kluster ketiga yaitu pemberdayaan usaha mikro dan kecil (UMK).

Program BLT sebagai program pengentasan kemiskinan diperkuat dengan beberapa program lain, seperti Raskin, Askeskin, dan Bantuan Operasional Sekolah atua BOS, kata Mari Elka.

Untuk memberdayaan ekonomi masyarakat, pemerintah melalui Program Nasional Pengembangan Masyarakat memberikan bantuan langsung sebesar Rp 3 miliar per kecamatan per tahun. Selain itu, pada kluster ketiga, pemerintah juga memberikan bantuan kredit usaha rakyat kepada usaha mikro dan kecil (UMK) sebesar Rp 5 juta ke bawah.

Sebanyak 5.535 RTS

Kepala Humas Kantor Pos Bandung Suyud Suhendar mengatakan, sampai dengan hari ketiga, penyaluran BLT di Kota Bandung baru mencapai sekitar enam persen atau 5.535 rumah tangga sasaran (RTS) dari total 84.287 RTS. Sejak hari pertama, Sabtu (24/5), penyaluran BLT di Kota Bandung terus bertambah dari 1.052 RTS pada hari pertama, 1.865 RTS pada hari kedua, dan 2.618 RTS pada hari ketiga.

Menurut Suyud, jika Minggu (25/5) kemarin, pembayaran BLT berlangsung di sembilan kantor pos cabang, kini pembayaran BLT akan dilayani di 12 kantor pos cabang. Sebenarnya ada 37 kantor pos cabang yang siap melayani pendistribusian BLT, namun banyak lurah, RT, atau RW yang belum selesai melakukan verifikasi penerima BLT, ujarnya.

Selain melayani pembayaran di kantor pos, pihak Kantor Pos Bandung juga melayani pembayaran BLT kepada warga yang sedang sakit atau jompo. “Kepada masyarakat penerima BLT yang sakit atau jompo, kami menyediakan nomor layanan (022) 4207081, ” jelas Suyud.

Direktur Keuangan PT Pos Indonesia Hani Johanis menambahkan, PT Pos akan berusaha semaksimal mungkin menyalurkan BLT kepada masyarakat. Selama ini, tidak ada kendala dari PT Pos dalam pendistribusian, karena waktu penerimaan setiap RTS rata-rata hanya dua menit. “Kami juga akan melayani pembayaran pada hari Minggu, ” ucapnya.

(A01)  

Share on Facebook

- Beri Rating Artikel ———–Sangat BaikBaikCukupKurangSangat KurangA A A

Ada 0 Komentar Untuk Artikel Ini. Posting komentar Anda

Posting komentar anda

Nama

Email

Komentar

Security Code

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.