Uncategorized


NO KOTA TERBIT PENG JUDUL BUKU KLASIFIKASI
5595 Malang : Universitas Brawijaya, 2000.iv, 391 hal.; ill.: 24 Cm.ISBN: 979-833.246-6 H. Kusnadi { et.al } Pengantar Akuntansi keuangan I ( prinsip, prosedur, dan metode ) PA-1 657.3/KUS/P
         
5596 Jakarta : Indeks kelom[pok gramedia, 2006. xii, 220 hal.; ill.:  23 Cm.ISBN : 979-683-779-x Akmal Pemeriksaan Intern ( Internal audit ) 657.458/AKM/P
         
5597 Jakarta : PT Gramedia pustaka Utama, 2006. viii, 243 hal,; ill.: 24 Cm.ISBN: 979-686-547-x Ruky, Achmad. S Manajemen penggajian & pengupahan untuk karyawan perusahaan 658.303/RUK/M
         
5598 Jakarta : Erlangga, 1978.xvii, 413 hal.; ill.; 25 Cm Gujarati, damodar dan Zain, Sumarno Ekonometrika dasar 330.015.195/GUJ/E
         
5599 Jakarta : PT Gramedia pustaka utama, 2002. xiv, 179 hal.; ill.: 24 Cm. ISBN : 979-686-166-6 Sumarsono { et.al } Pendidikan kewarganegaraan 350/SUM/P
         
5600 New Jersey : Prentice hall, inc, 1999. xxii, 1013 hal.; ill.: 28 Cm. ISBN : 0-13-947870-1 Weber, Ron Information system control and audit. 658.4.038/WEB/I
         
5601 New Jersey : Prentice hall, inc, 1999. xxii, 1013 hal.; ill.: 28 Cm. ISBN : 0-13-947870-1 Weber, Ron Information system control and audit. 658.4.038/WEB/I
         
5602 Jakarta : Bumi Aksara, 2000. xi, 168 hal.; ill.: 24 Cm. ISBN : 979-526-177-0 Muslich, Mohamad Manajemen keuangan modern.Analisis, perencanaan, dan kebijaksanaan 658.8/MUS/M
         
5603 Yogyakarta : Amara books, 2002. x, 339 hal.; ill.: 23 Cm. ISBN : 979-96885-0-7. A.Usmara { et. Al } Paradigma baru. Manajemen sumber daya manusia. Edisi. 2. 658.3/USM/P
         
5604 Jakarta: IIIT. Xii, 238 hal.; ill.: 25  Cm Azwar Karim, Adiwarman Ekonomi Islami. Suatu kajian ekonomi makro. 330.297/AZW/E
         
5605 Bandung : CV. Alfabeta, 2008. ix, 389 hal.; ill.: 24 Cm. ISBN : 979-8433-02-5 Sugiyono dan Nuryanto, Apri. Metode penelitian administrasi. Dilengkapi dengan metode R & D. Cet. 16 , edisi revisi. 001.42.350/SUG/M
         
5606 Jakarta : Binarupa aksara, 1996. xv, 425 hal.; ill.: 25 Cm Taha, Hamdy. A  Alih bahasa : Wijaya, Daniel. Editor : Lyndon Saputra. Riset operasi. Suatu pengantar. Edisi. 5, Jil 1. 658.403.4/TAH/R
         
5607 Jakarta : PT Rineka Cipta, 2004. viii, 199 hal.; ill.: 20 Cm. ISBN : 979-518-173-4 Ahmadi, H. Abu dan Supatmo, A Ilmu alamiah dasar. Komponen MKDU 1991. 302/AHM/I
         
         
5609 Bandung : Pustaka Setia, 2002.204 hal.; ill.: 20 Cm Danim, Sudarwan Inovasi pendidikan.Dalam upaya peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan 370/DA/I
         
5610 Bandung : Sinar baru algensindo, 2004.xi, 397 hal.; ill.: 21 Cm   Dimyati, Tjutju Tarliah dan Dimyati, Ahmad Operations research. Model – model pengambilan keputusan.Cet. 7 001.462/DIM/0
         
5611 Tokyo : International thomson publishing Inc, 2002. xiv, 425 hal.; ill.: 27 Cm. ISBN :0-324-00318-8. Hall. James. A Information system auditing and assurance. 658.0558/HAL/I
         
5612 New Jersey : Prentice hall, inc, 1999. xxv, 1013 hal.; ill.: 28 Cm. ISBN : 0-13-947870-1 Weber, Ron Information system control and audit. 658.4’038/WEB/I
         
5613 Tokyo : International thomson publishing Inc, 2002. xiv, 425 hal.; ill.: 27 Cm. ISBN :0-324-00318-8. Hall. James. A Information system auditing and assurance. 658.0558/HAL/I
         
5614 Singapore : Prentice-hall, Inc, 2009.xiv, 884 hal.; ill.: 28 Cm. ISBN : 978-981-06-8046-6 Elder, Randal. J { et. Al } Auditing and assurance services. An integrated approach. 657.45/ELD/A
         
5615 Bandung : salemba Empat, 2008. xx, 348 hal.; ill.: 26 Cm. ISBN : 978-979-691-492-0 Nurhayati, Sri dan Wasilah Akuntansi syariah di Indonesia. Seri Departemen Akuntansi FEUI. 657.297/NUR/A
         
5616 Bandung : salemba Empat, 2008. xx, 348 hal.; ill.: 26 Cm. ISBN : 978-979-691-492-0 Nurhayati, Sri dan Wasilah Akuntansi syariah di Indonesia. Seri Departemen Akuntansi FEUI. 657.297/NUR/A
         
5617 Tokyo : International thomson publishing Inc, 2002. xiv, 425 hal.; ill.: 27 Cm. ISBN :0-324-00318-8. Hall. James. A Information system auditing and assurance. 658.0558/HAL/I
         
5618 Australia: Thomson south – western,2007.xxi, 457 hal.; ill.: 25 Cm. ISBN : 0-324-37539-5 Brooks, Leonard. J Business & professional ethics. For directors, executives, & accountants. Ed 4 658.47/BRO/B
         
5619 Australia: Thomson south – western,2007.xxi, 457 hal.; ill.: 25 Cm. ISBN : 0-324-37539-5 Brooks, Leonard. J Business & professional ethics. For directors, executives, & accountants. Ed 4 658.47/BRO/B
         
5620 Australia: Cengage, 2008.xvi, 778 hal.; ill.: 28 Cm. ISBN : 13:978-979-691-495-1 James. M. Reeve { et. Al } Principles of accounting. Indnesia adaptations. 657.76/REE/P
         
5621 Australia : Cengage, 2008.xvi, 778 hal.; ill.: 28 Cm. ISBN : 13-978-979-691-495-1 James. M. Reeve { et. Al } Principles of accounting. Indnesia adaptations. 657.76/REE/P
         
5622 Singapore : Prentice-hall, Inc, 2009.xiv, 884 hal.; ill.: 28 Cm. ISBN : 978-981-06-8046-6 Elder, Randal. J { et. Al } Auditing and assurance services. An integrated approach. 657.45/ELD/A
         

PIKIRAN RAKYAT
SENIN ( MANIS ) 18 MEI 2009
22 JUMADIL AWAL 1430 H
JUMADIL AWAL 1942.

ADB DAN MANAJEMEN UTANG

( oleh : Acuviarta , Dosen IE FE Unpas dan peneliti di lembaga Penlitian ( lemlit ) Universitas Pasundan ) ***

Asian Development Bank ( ADB ) baru saja menyelesaikan sidang tahunannya ke- 42 di Bali. Sejumlah kalangan di lingkungan pemerintahan mengklaim bahwa hasil yang di capai sukses dan sesuai dengan harapan. Sebagai tuan rumah sekaligus pemegang saham, logisnya kita memang harus menyukseskan acara itu. Apalagi, menurut Menteri Pariwisata, devisa kita bisa bertambah 7 miliar dolar AS ( kurang lebih Rp. 70 trilliun dengan asumsi kurs saat ini ) dari penyelenggaraan pertemuan itu.
Agenda lain yang juga penting dari pertemuan itu bagaiman kita bisa mendapatkan alokasi utang nonkomersial dari ADB, termasuk dana-dana khusus /darurat yang di anggarkan untuk kebtuhan khusus. Selain itu, karena pertemuan ADB juga dihadiri banyak negara-negara maju, kesempatan itu juga dapat digunakan pemerintah melobi sejumlah negara mengalirkan dana-dana hibah ke sejumlah aktivitas/kegiatan pembangunan.
Hasil kongkret dari pertemuan ADB jelas ditujukan ( paling tidak ) untuk sedikit membantu konsolidasi fiskal yang sekarang dilakukan pemerintah dalam mengatasi potensi membesarnya defisit APBN-P 2009. Stimulan anggaran memang perlu di perhatikan serius karena kita dihadapkan sejumlah persoalan. Tanpa ada skema pinjaman luar negeri nonkomersial, kita justru akan terperangkap pada beban utang jangka panjang yang semakin berat.
Sebelum krisis, total utang Indonesia mencapai sekitar 23 % dari PDB.Setelah terjadinya krisis, jumlah ini membengkak menjadi lebih dari 100 %. Tahun 1997, utang luar negeri Indonesia hanya mencapai Rp. 154 Trilliun, angka itu meningkat drastis menjadi Rp. 812 trilliun tahun 1998 akibat (salah satunya ) karena penerbitan obligasi rekap perbankan.
Alokasi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia ( BLBI ) ketika itu mencapai Rp. 144,5 trilliun dengan total dana yang akhirnya dikeluarkan Rp. 650 trilliun. Belakangan arus modal masuk ke jangka pendek ( hot money ) juga mulai mengalir deras masuk ke bursa saham, begitu juga permintaan terhadap surat utang /obligasi negara.
Masalah yang lebih pentingjustru terletak pada manajemen pemanfaatan utang itu sendiri.Dalam keranga manajemen utang, banyak kalangan merekomendasikan perlunya pengelolaan utang pemerintah yang mempertimbangkan berbagai variable macro dan internasional, seperti tingkat bunga, nilai tukar, dan inflasi.
Penggunaan utang yang berasal dari dalam negeri dengan utang luar negeri idealnya dipisahkan. Kemudian juga disarankan penyaluran utang luar negeri lebih diarahkan pada infrastruktur produktif, sedangkan untuk sofcore project lebih baik didanai dengan pembiayaan domestic.Selain itu, perlu juga di lakukan proyek pembangunan yang bertujuan mengentaskan masyarakat dari kemiskinan, namun pada saat yang sama juga dapat distimulasikan unsure komersialnya.
Keraguan kurang optimalnya manajemen utang pemerintah diduga masih terus berlangsung.Laporan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan ( BPK ) semester II tahun 2008 yang dirilis bulan lalu mengisyaratkan lemahnya manajemen utang luar negeri pemerintah.Atasdasar itu, maka manajemen penggunaan utang luar negeri saat ini harus lebih diperhatikan sehingga hasil yang dicapai bisa optimal. Untuk mendukung itu, peran lembaga donor monitoring/supervisi penggunaan utang juga diharapkan juga lebih ditingkatkan ( oleh : Acuviarta , Dosen IE FE Unpas dan peneliti di lembaga Penlitian ( lemlit ) Universitas Pasundan ) ***

KOLEKSI BARU JURNAL NASIONAL( JURUSAN, AK, MJ, IE)
Tgl, 12 Mei 2009        
           
NO JUDUL EDISI PENERBIT TAHUN EKS
1 Jurnal Riset Akuntansi Vol : 8, No: 1, Januari.  2005 Yogyakarta : UGM 2005 1
           
2 Jurnal Riset Akuntansi Vol : 8, No : 2, Mei 2005 Yogyakarta : UGM 2005 1
           
3 Jurnal Riset Akuntansi Vol : 8, No : 3, September 2005 Yogyakarta : UGM 2005 1
           
4 Jurnal Riset Akuntansi Vol: 9, No: 1, Januari 2006. Yogyakarta : UGM 2006 2
           
5 Jurnal Riset Akuntansi Vol : 9, No: 2, Mei 2006 Yogyakarta : UGM 2006 2
           
6 Jurnal Riset Akuntansi Vol: 9, No : 3, September 2006 Yogyakarta : UGM 2006 2
           
7 Jurnal Riset Akuntansi Vol: 10, No : 1, Januari 2007. Yogyakarta : UGM 2007 2
           
8 Jurnal Riset Akuntansi Vol: 10, No: 2, Mei 2007 Yogyakarta : UGM 2007 2
           
9 Jurnal Riset Akuntansi Vol: 10, No: 3, September 2007 Yogyakarta : UGM 2007 2
           
10 Jurnal Riset Akuntansi Vol: 11, No: 1, Januari 2008 Yogyakarta : UGM 2008 2
           
11 Jurnal Riset Akuntansi Vol: 11, No: 2, Mei 2008 Yogyakarta : UGM 2008 2
           
12 Jurnal Riset Akuntansi Vol: 11, No: 3, September 2008 Yogyakarta : UGM 2008 2
           
13 Infomatek Vol: 10, No: 1, Maret 2008 Bandung: FT, Unpas 2008 1
           
14 Infomatek Vol: 10, No: 2, Juni 2008 Bandung: FT, Unpas 2008 1
           
15 Infomatek Vol: 10, No: 3, September 2008 Bandung: FT, Unpas 2008 1
           
16 Jurnal Manajemen Vol: 7, No: 2, Mei 2008 Bandung : Univ Kristen Maranatha 2008 1
           
17 Indonesian Tax Review.  Dwi Mingguan Vol :1, Edisi : 08, 2008 Jakarta: SmarTaxes Publishing member of Lembaga MJ Formasi 2008 1
           
18 Indonesian Tax Review.  Dwi Mingguan Vol :1, Edisi : 09, 2008 Jakarta: SmarTaxes Publishing member of Lembaga MJ Formasi 2008 1
           
KOLEKSI BARU BULETIN/LAPORAN (JURUSAN, AK, MJ, IE)
Tgl, 13 Mei 2009        
           
           
NO JUDUL EDISI PENERBIT TAHUN EKS
1 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan: Januari 2008 Jakarta : BPS 2008 2
           
2 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan: Pebruari 2008 Jakarta : BPS 2008 2
           
3 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan: Maret 2008 Jakarta : BPS 2008 2
           
4 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan : April 2008 Jakarta : BPS 2008 2
           
5 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan : Mei 2008 Jakarta : BPS 2008 2
           
6 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan : Juni 2008 Jakarta : BPS 2008 2
           
7 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan : Juli 2008 Jakarta : BPS 2008 1
           
8 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan : Agustus 2008 Jakarta : BPS 2008 1
           
9 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan : September 2008 Jakarta : BPS 2008 1
           
10 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan : Oktober 2008 Jakarta : BPS 2008 1
           
11 Indikator Ekonomi ( Economic Indicators ) Buletin Statistik Bulanan : Nopember 2008 Jakarta : BPS 2008 1
           
12 Kajian Ekonomi Regional Provinsi Jawa Barat. Triwulan IV-2008 Jakarta : BI 2008 3
           
13 Statistik Perbankan Indonesia ( Indonesian Banking Statistics ) Vol : 7, No: 1, Desember 2008 Jakarta : BI 2008 2
           
14 Laporan Kinerja BUMN Tahun 2003- 2007   Jakarta: Kementerian Badan Usaha Milik Negara 2007 2
           
KOLEKSI BARU MAJALAH  ( JURUSAN, AK, MJ, IE )  
Tgl, 14 Mei 2009        
           
           
NO JUDUL EDISI PENERBIT TAHUN EKS
1 Pengusaha. Peluang Usaha & Solusinya Edisi:93, April. 2009 Jakarta: PT. Media Info Dunia Usaha 2009 1
           
2 Mix. Marketing Xtra. 04/vi/April 2009 Jakarta : Kelmpok Media Swa 2009 1
           
3 Marketing No: 04/IX/April 2009 Jakarta: PT Info Cahaya Hero 2009 1
           
4 Manajemen Usahawan Indonesia No: 02/TH.XXXVIII/2009 Jakarta: Lembaga Management FEUI, 2009 1
           
5 Info Bank No: 361.Vol : XXXI, April 2009 Jakarta: PT Infoarta Pratama 2009 1
           
6 Eksekutif. Majalah Bisnis dan Manajemen Vol : 29, Edisis 353, April 2009 Jakarta: PT Alberta Media 2009 1
           
7 BUMN.Track No: 20 Tahun II, Maret 2009 Jakarta: PT Mediasuara Shakti. 2009 1
           
8 BUMN.Track No: 21 Tahun II, Aril. 2009 Jakarta : PT Mediasuara Shakti 2009 1
           
9 Swa Sembada No: 05/XXV/5-18 Maret. 2009. Jakarta: Yayasan Sembada Swakarya 2009 1
           
10 Swa Sembada No: 07/XXV/2-15 April 2009 Jakarta: Yayasan Sembada Swakarya 2009 1
           
11 Warta Ekonomi 07. tahun XXI- 13 April- 19 April 2009 Jakarta: PT Obor Sarana Utama 2009 1
           
12 Warta Ekonomi 08.tahun XXI- 27 April- 3 Mei 2009 Jakarta: PT Obor Sarana Utama 2009 1
           
13 BusinessWeek No: 07, 1-8 April 2009 Jakarta : Indomedia Dinamika 2009 1
           
14 BusinessWeek No: 09, 22 April 2009 Jakarta: Indomedia Dinamika 2009 1
           
15 BusinessWeek No: 10, 29 April- 6 Mei 2009 Jakarta: Indomedia Dinamika 2009 1
           

Pengaman Krisis Regional

Pikiran Rakyat
Kamis ( pon) 11 Desember 2008
13 Zulhijah 1429 H
Rayagung 1941.

Oleh : Acu Viarta ( Dosen Ilmu Ekonomi FE Unpas Bandung dan Universitas Widyatama serta pengurus ISEI Bandung Koordinator Jabar***

Ketidak pastian cuaca ekonomi saat ini di pastikan berlanjut hingga tahun depan. Kapan kembali normal? Apakah akan segera pulih ? Mungkin tidak ada seorang pun berani menjawabnya apalagi memastikan kepulihannya.Bukan saja karena episentrum krisis berada jauh di negeri orang ( AS), tetapi karena irisan persoalan ekonomi dalam negeri sudah cukup rumit. Akibatnya, rangkaian itu kemudian intim bersinergi mengoyak-ngoyak stabilitas perekonomian kita. Dari mana kita memulai merapikan benang kusut perekonomian saat ini ? Serta apa yang harus kita lakukan agar infeksi krisis tidak sampai melumpuhkan sendi-sendi perekonomian kita? Itu adalah dua pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama-sama.
Karena serangan krisis ekonomi masuk melalui lintasan sektor keuangan, pertam yang harus di rapikan kembali adalah kemantapan stabilitas sektor keuangan, termasuk di dalamnya stabilitas bisnis perbankan dan pasar modal. Kembali bergairah sektor keuangan akan menambah spirit unt kembali berekpansi ketimbang mengamankan likuiditas. Kalau sektor keuangan mulai berekspansi, sektor riiltiak stress berat mencari alternative tambahan pembiayaan produksi.Agar sektor keuangan tidak main mata mengambil keuntungan dalam kesempitan, peran update regulasi dan pengawasan harus di perkuat.
Sambil merapikan sektor keuangan, tahun depan kita berharap stabilitas harga ( inflasi ) bisa lebih jinak. Tanda- tanda itu akan cukup sinergis, jika UMK 2009 direalisasikan sesuai komitmen hasil kompromi.Batasi barang impor, perkuat ikhtiar mencari pasar ekspor baru, berikan insentif bagi usaha yang benar-benar membutuhkannya, buat kurs rupiah menjadi sedikit kaku, adalah sebagian determinan makro ekonomi yang harus dilakukan tahun depan.
Karena pemerintah masih dinanti terus memberi kontribusi, tahun depan harus di upayakan APBD/APBN bisa berekspansi lebih cepat.Tidak masalah jika konsekkuensinya defisit anggaran menjadi sedikit melebar. Strategi anggaran ekspansi atau sedikit menyerang adalah pilihan yang harus ditempuh pemerintah tahun depan. Itu dibutuhkan karena sektor swasta tampaknya masih akan menerapkan strategi bertahan melihat kejelasan status waspada ekonomi kita tahun depan.
Sebab, leih dari empat tahun terakhir ekonomi kita diserang tingginya harga minyak dunia, kita jga berharap tahun depan pemerintah bisa memetik hasil dari turunnya harga minyak dunia. Kalau naik turunnya harga minyak dunia kurang memiliki efek terhadap penurunan harga BBM bersubsidi di dalam negeri, berarti dugaan selama ini bnar. Masalahnya ada di dalam negeri, ditubuh perekonomian kita sendiri, bukan semata-mata karena tingginya harga minyak dunia. Untuk itu, katakan sejujurnya, kalau memang harga BBM bisa turun. Katakan tidak bisa turun, jika memang itu jalan keluarnya.Jelaskan apa skenario untuk mengompensasi itu, tetapkan waktu dan indikatornya dengan terukur dan pasti. Masalah harga BBM bersubsidi tahun depan jangan dibuat mengambang karena hal itu akan menambah bobot ketidakpastin.Apalagi digiring kepada pencitraan menjelang pemilu.
Pertanyaan kedua, apa yang harus kita lakukan untuk meminimalkan dampak krisis keuangan global ?pertama, bantu lebih aktif sektor swasta menyelesaikan masalahnya. Pastinya sektor swasta saat ini gerah dihantam dua persoalan sekaligus, melemahnya permintaan dan naiknya ongkos produksi. Segera berikan insentif pada sektor swasta, kalau tidak bisa dalam bentuk uang, berikan dalam bentuk lain seperti rgulasi. Untuk mengatasi pengangguran, perkuat kinerja sektor pertanian, perdagangan, dan industri skala UMKM.Sebab, pada sektor dan skala itu biasanya penggangguran menumpahkan kreativitas untuk kembali bekerja.Jadi, jangan ada lagi cerita pupuk langka tahun depan, begitu juga cerita irigasi teknis rusak sehingga akhirnya tidak bisa mengairi lahan- lahan persawahan.Cerita buruk nilai tukar petani ( NTP) di Jabar turun ( “ PR,2/12 ) jangan sampai terulang kembali.
Tahun depan Jabar berpotensi mendapat jatah limpahan pengangguran, sedangkan sektor pertaniannya masih menebarkan cerita menyeramkan. Data BPS Jabar September 2008, dari lima provinsi di pulau Jawa, nilai tukar petani Jabar adalah yang paling rendah.Tingkat kesejahteraan petani Jabar bahkan kalah dibandingkan dengan petani Banten.
Untuk sektor perdagangan, berikan kemudahan pedaang kaki lima ( PKL) ntuk menjalankan usahanya.kalau bukan PKL siapa lagi yang memasarkan produk UMKM di Jabar ? Begitupun perkembangan industri kreatif perlu terus di dorong taun depan. Untk itu, PKL diharapkan mau diatur sepanjang itu akan membawa kearah yang lebih baik, berikan regulasi untuk kepastian, dan tarik retribusi untuk tambahan PAD, ketimbang retribusinya selama ini dinikmati tangan-tangan yang tidak kentara.Tahun depan PKL haram berseteru dengan pemerintah karena keduanya dituntut bersinergi dan saling mengerti.
Untuk industri MKM, perkuat kinerja pusat-pusat pelatihan tenaga kerja dan industri, tonjolkan peran unit-unit pelayanan teknis ( UPT), lanjutkan skim kredit penjaminan, PNPM Mandiri, dan sejenisnya.Peran lembaga pelatihan memang harus dikedepankan, sebab pengangguran limpahan PHK industri besar tidak bisa beitu saja berubah tabiat menjadi serbatahu untuk memulai bekerja di sektor pertanian dan perdagangan.
Kedua, pemerintah daerah dan pusat diharapkan bisa mempercepat dan memprioritaskan program-program bidang infrastruktur.Syukur-syukur program tersebut berhubungan langsung dengan percepatan mobilitas ekonomi masyarakat karena sudah melalui musyawarah perencanaan pembangunan ( musrenbang) dari tingkat kecamatan. Proyek infrastruktur lumrah menjadi sarana penyerapan limpahan tenaga kerja.

Ketiga, perlu diberikan perhatian khusus pada pengembangan usaha di sektor pengolahan hasil- hasil pertanian. Usaha agroindustri harus diberi perhatian lebih tahun depan, kalau bisa diberikan insentif yang lebih banyak. Upaya ini tidak saja berdampak positif bagi penyerapan tenaga kerja, tetapi juga untuk perbaikan kesejahteraan petani. Usaha komoditas pertanian, seperti peternakan sapi, domba, kambing, juga kedelai dan tebu masih mnjanjikan di tahun 2009, dilihat dari posisi sementara demand and supply-nya.
Keempat, tingkatkan koordinasi antar pemerintah daerah dalam hal penanganan dampak krisis. Potensi ekonomi masing-masing daerah tampaknya belum digali optimal, dan hal itu bisa ditingkatkan melalui kerja sama antarwilayah.Tidak usah jauh-jauh mencari calon investor sampai keluar negeri, di dalam negeri pun potensinya masih tersedia. Bukti potensi itu ada terlihat dari dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang setiap tahun meningkat.Diperlukan solusi cerdas mengalirkan uang dingin itu ke usaha-usaha investasi yang lebih produktif.***

Pikiran Rakyat : ( hal 8 ) Seni (Wage ) 11 Mei 2009
15 Jumadil Awal 1430 H. Jumadil Awal 1942
( Oleh :Dr. H.R. Abdul Maqin, SE, MP. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung dan Pengurus ISEI Cabang Bandung Koordinator Jabar )****

Indonesia pernah dijuluki sebagai macan ekonomi Asi Tenggara bahkan pernah disebut-sebut akan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia.Akan tetapi, krisis ekonomi yang meluluh-lantakan negara-negara di Asia dan yang paling parah menimpa Indonesia menghapus predikat tadi dan saat ini kita dihadapkan lagi pada imbas krisis keuangan global.
Begitupun dengan Jabar, menjelang pemilu 2009 banyak perusahaan yang tergerus oleh dampak krisis itu dan mengancam perekonomian Jabar.IMF memperkirakan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,9 % menjadi 2,2 % pada tahun 2009. Pertumbuhan itu tentu saja akan memengaruhi kinerja ekspor yang didalamnya termasuk ekspor Jabar dan pada akhirnya akan berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Kemudian bagaimana dampak guncangan system keuangan global ini terhadap nasib keberlanjutan ekonomi ( economic sustainbality ) Jabar. Ada dua skema skenario yang bisa menjadi pertimbangan pemerintah Jabar dalam menciptakan keberlanjutan ekonomi Jabar termasuk berkaitan dengan investasi.
Skenario kebijakan jangka panjang pertama adalah percepatan investasi pembangunan infrastruktur sebagai langkah vital dalam investasi pertumbuhan ekonomi Jabar.Mengintip peta rencana proyek pembangunan infrastruktur.
Skema kedua adalah skenario jangka pendek yaitu optimalisasi UMKM, bila melihat niat pemprov Jabar yang menggenjot potensi UMKM di Jabar ini sangat wajar,belakangan ini mereka mendesak DPRD Provinsi agar segera mengesahkan perda kolateral.Hal tersebut di anggapnya sebagai suatu usaha dalam keberpihakannya terhadap sector informal ini, selain itu berencana menambah alokasi dana APBD 2009 dari Rp. 100 miliar menjadi Rp. 150 miliar.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana hubungan UMKM dengan keberlanjutan ekonomi atau keberlanjutan ekonomi Jabar, ini akan menarik untuk di selami dengan melihat konten utamanya dari sector UMKM. Skenario yang akan cepat merespons situasi keberlanjutan ekonomi ini bisa dengan memasukkan UMKM sebagai skenario strategis di beberapa daerah khususnya di Jabar.
Memperhatikan prediksi tadi ada beberapa hal yang harus di antisipasi agar pereknomian Jabar tidak terjadi kontraksi, pertama mengantisipasi terjadinya PHK , pemerintah daerah harus memberikan stimulus baik secara moril maupun materiil kepada perusahaan-perusahaan marginal agar jangan sampai melakukan PHK.
Kedua, walaupun sektor perbankan terus berupaya melakukan penurunan suku bunga, dalam situasi ketidakpastian ekonomi seperti ini belum bisa menjadi factor utama yang memengaruhi demand terhadap investasi, ditambah semakin berhati-hatinya sektor perbankan mengucurkan kredit akibat memburuknya ekspektasi ekonomi. Dengan demikian, untuk mendukung ekspansi kredit itu sangat tepat bila pemerintah provinsi Jabar mengeluarkan Perda Kolateral.
Keselarasan dalam memoles kebijakan jangka panjang dan jangka pendek akan menjadi kartu truf dalam menyikapi keberlanjutan ekonomi Jabar, memperhatikan efisiensi anggaran dengan kebutuhan penciptaan sektor riil, keberpihakan terhadap UMKM sebagai suntikan ( injection) pertolongan pertama pada kecelakaan ekonomi yang disebabkan dampak krisis keuangan global, pembangunan infrastruktur sebagai investasi jangka panjang diharapkan akan menjadi fondasi dalam kekuantan perekonomian Jabar sehingga keberlanjutan ekonomi Jabar akan tercipta dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jabar.

« Halaman SebelumnyaHalaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.