Jum’at, 19 September 2008 , 10:21:00

BANDUNG, (PRLM).- Data-data yang berkaitan dengan bisnis orang Bandung, idealnya bisa diakses dengan mudah dan cepat oleh masyarakat. Sehingga tak hanya Pemkot Bandung, tapi juga oleh berbagai stakeholder perekonomian Bandung.

“Misalnya saja ada barang Cina berharga murah dan berkualitas bagus masuk Bandung, apakah harus ditolak atau diterima. Karena di satu sisi akan menguntungkan masyarakat, tapi di sisi lain produsen barang serupa akan habis. Untuk mengambil keputusan paling tidak Pemkot harus memilki data produsen produk serupa, data serupa juga bisa digunakan pengusaha untuk membentuk kaukus, mencari jalan keluarnya,” kata penelitisi ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) Bandung, Acuviarta, Jumat (19/9).

Menurut Acuviarta, untuk kota seperti Bandung  peranan data-data menjadi lebih penting lagi. Karena dengan memilki potensi ekonomi yang tinggi, Bandung menjadi banyak diserbu investor. Padahal di sisi lain dengan berlangsungnya globalisasi dan pasar bebas, ritme perekonomian makin cepat dan makin kompleks. Artinya dibutuhkan langkah langkah antisipasi yang juga lebih cepat lagi.

Pelaku UKM di bidang cetakan, Edwin Miftahudin membenarkan pentingnya data. Menurut dia data adalah modal mutlak untuk keberhasilan sebuah strategi bisnis. Terutama data yang terkait dengan konsumen, pesaing, pasar dan perubahan-perubahan.

“Kegunaan pertama data-data tersebut adalah untuk mengetahui seberapa jauh usaha saya telah berjalan (perubahan), lalu bagaimana untuk menentukan strategi dalam persaingan (data kompetitor), bagaimana penilaian konsumen terhadap layanannya (konsumen), dan peluang apa yang bisa digarap produk di masa yang akan datang (pasar),” ujar Edwin.

Tapi diakuinya sejauh ini baru urusan konsumen yang bisa ditanganinya dengan relatif baik, karena data-datanya dia susun sendiri. Sementara data-data lain, sekalipun dicari kemana-mana tetap susah didapat.

“Saya tak pernah bisa menemukan data tentang jumlah pengusaha barang cetakan di Bandung. Tanya ke Pemkot, ke Kadin, ke asosiasi, Tak ada yang bisa memberikan data pasti. Angkanya sih ada, tapi hanya kira-kira, artinya itu sama saja dengan data abstrak. Jelas, tidak akan bisa mengambil keputusan berdasarkan hal yang abstrak. Nanti bisnis saya jadi ikut-ikutan abstrak,” katanya.

Kesulitan mendapatkan data juga dikemukakan Sekum DPE (Dewan Pengembangan Ekonomi) Kota Bandung, Iwan Gunawan. Menurut dia, pokja-pokja yang dibentuk DPE untuk mengkaji masalah-masalah ekonomi Kota Bandung, seringkali harus memberlakukan waktu ekstra. Karena seringkali harus menunggu terkumpulnya data-data yang diperlukan.

“Mending kalau datanya ada, sering juga terjadi sudah menunggu lama, sang data tidak juga didapat. Misalnya saat mengkaji industri kreatif, kami mencoba mencari jumlah industri kreatif di Bandung untuk titik tolaknya. Ternyata belum ada SKPD (satuan kerja pemerintah daerah) yang memilikinya,” katanya.

Padahal menurut Iwan, data sangatlah penting, terutama sebagai landasan untuk berbagai pekerjaan. Mulai dari membuat analisis, perencanaan, hingga pengambilan keputusan. Semua pekerjaan tersebut memang bisa saja dilakukan tanpa menggunakan data, tapi cara itu bisa diibaratkan sebagai jalan buta.  (A-135/A-147)*** http://www.pikiran-rakyat.com/index.php?mib=news.detail&id=33785