BANDUNG, (PR). – 28 Januari 2008

Kenaikan harga terutama pada kelompok bahan makanan harus terus diwaspadai untuk mengendalikan inflasi yang masih berpotensi besar meningkat ke depan. Antisipasi terhadap kenaikan harga itu, di antaranya dengan memberikan insentif produksi dan kelancaran distribusi. Mengingat, ketergantungan beberapa komoditas pangan masih tinggi terhadap impor selama ini.

“Kalau kelompok bahan makanan ini harganya bisa segera distabilkan pada awal tahun, tingkat inflasi dapat terkendali. Bulan Januari merupakan waktu yang sangat strategis untuk mengendalikan inflasi pada bulan-bulan selanjutnya,” ujar pengamat ekonomi dari Unpas, Acuviarta, pada diskusi ekonomi tentang Instabilitas Harga, di Unpas Bandung, Sabtu (26/1).

Diskusi tersebut dihadiri pula, Rektor Unpas Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si., Pembantu Rektor II Prof. Dr. Rully Indrawan, M.Si., Ketua ISEI Cabang Bandung-Koordinator Jabar Dr. Ina Primiana, Dekan Fakultas Ekonomi Unpas Dr. Abdul Maqin, M.S., Ketua Jurusan Studi Pembangunan FE Unpas Dikdik Kusdiana, S.E., M.T., dan beberapa staf pengajar FE Unpas.

Acuviarta menjelaskan, pengendalian inflasi pada awal tahun akan memengaruhi pergerakan inflasi di bulan-bulan mendatang. Jika upaya untuk meredam kenaikan berbagai bahan kebutuhan pokok tidak bisa dilakukan, dikhawatirkan inflasi akan terus meningkat. Terlebih, akhir-akhir ini hampir semua harga bahan pokok terus naik terutama akibat bertambahnya beban biaya produksi, lemahnya distribusi, dan persoalan tata niaga impor.

“Contoh komoditas kedelai, yang meningkat tajam dan secara nyata telah merugikan para produsen tahu tempe dan para pedagang makanan yang berbahan baku itu. Naiknya harga kedelai ini akibat kenaikan harga kedelai impor atau terjadi imported inflation, yang di antaranya akibat diversifikasi sumber bahan energi penggunaan biofuel oleh negara penghasil kedelai,” tuturnya.

Dia mengakui, potensi kenaikan harga dari kelompok bahan makanan memang masih sangat dominan terhadap kenaikan inflasi selama ini. Tingkat inflasi Jabar yang sebesar 5,10% selama tahun 2007 misalnya, sumbangan terbesar terjadi pada kelompok bahan makanan sebesar 1,96%. Dengan demikian, pengendalian harga bahan makanan harus menjadi perhatian sangat serius dari berbagai pihak terutama pemerintah daerah.

 

Terjadi gejolak harga

Hal senada diungkapkan PR II Unpas Prof. Rully Indrawan, kenaikan harga bahan makanan sangat berpotensi memicu inflasi terus naik. Diperkirakan, tahun 2008 masih akan terjadi gejolak harga luar biasa dan berimbas besar terhadap daya beli masyarakat. Ini dikhawatirkan menghambat sektor riil dan pertumbuhan ekonomi. “Untuk mengantisipasi, kita harus membangkitkan kembali ekonomi kerakyatan, terutama melalui usaha kecil dan koperasi,” ujarnya.

Terkait kenaikan harga beberapa bahan makanan selama ini, Ketua Jurusan Studi Pembangunan FE Unpas, Dikdik Kusdiana, menjelaskan hal itu memang tidak terlepas dari struktur industri kita yang sangat besar ketergantungannya terhadap impor. Hal ini mengindikasikan pula bahwa kebijakan ekonomi kita memang masih rapuh. Apalagi selama ini, ekonomi kita menganut sistem ekonomi terbuka, sehingga faktor eksternal sangat besar pengaruhnya.

Selain telah berdampak buruk terhadap produsen terutama para pelaku usaha kecil di dalam negeri, kenaikan harga-harga bahan makanan itu jelas telah merugikan pula kalangan konsumen karena, semakin tinggi tingkat inflasi akan terus menurunkan kemampuan dan daya beli masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya. Sebenarnya, ini tidak perlu terjadi jika aspek produksi dan distribusi bisa berjalan dengan baik.

Sementara itu, Rektor Unpas Prof. Didi Turmudzi menilai terus melemahnya daya beli masyarakat akibat kenaikan harga bahan makanan ini merupakan kegagalan dalam kebijakan sosial. Mengingat, selama ini pemerintah cenderung hanya fokus pada (kepentingan) segelintir orang, sehingga rakyat banyak tidak terpikirkan. (A-68)***