Jumat , 10 Oktober 2008 ,
Darajat Arianto
BANDUNG, TRIBUN – Ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) dari Jawa Barat diperkirakan tidak terlalu banyak terpengaruh krisis keuangan yang melanda Amerika Serikat.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jabar, Ade Sudrajat, mengatakan, untuk tahun ini dampak krisis di AS masih belum terasa karena ekspor tahun ini berdasarkan kontrak yang sudah disepakati. Kontrak biasanya dilakukan pada akhir tahun.
Menurutnya, pasar ekspor TPT Jabar ke AS tahun 2007 lalu sebesar 4,3 miliar dolar AS. Pasar AS merupakan pasar ekspor terbesar industri TPT Jabar. Kendati demikian, hanya empat persen pangsa pasar di AS yang dikuasai oleh industri TPT di Jabar.
Sebetulnya ada pertumbuhan pasar ekspor TPT Jabar ke AS sebesar dua persen pada 2008 ini. Namun pertumbuhan pasar ekspor ini terancam setelah terjadi krisis di AS.  “Kalaupun masih ada ekspor ke AS, maka nilai ekspor diperkirakan turun. Turunnya daya beli masyarakat AS membuat mereka mengurangi pembelian sandang,” terang Ade, Kamis (9/10).
Sedangkan nilai pasar TPT di Indonesia secara keseluruhan mencapai 2,5 miliar dolar per tahun. Sementara penjualan TPT Jabar di pasar lokal hanya sebesar 600 juta dolar per tahun.
Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta, pun optimistis ekspor TPT Jabar ke AS tidak terlalu terpengaruh. “Minimal dalam jangka pendek, ekspor TPT dari Jabar ke AS belum terpengaruh. Tapi saya kira dalam jangka panjang pun ekspor TPT tidak terpengaruh,” kata Acuviarta, kemarin.
Kemungkinan tidak banyak terpengaruh, jelasnya, lantaran produk TPT merupakan kebutuhan primer. Jadi meski tengah krisis, untuk memenuhi kebutuhan primer ini tak mudah mencari barang substitusinya. Sehingga mau tidak mau produk TPT tetap diperlukan.
Selain itu, produk asal Indonesia juga memiliki beberapa keunggulan dengan kualitas cukup baik. Terlihat dari kepercayaan pasar yang masih kuat. Ini berbeda dengan produk TPT asal Cina. Meski harga bisa lebih murah namun banyak yang kurang percaya terhadap kualitasnya. Jadi saingan yang kuat ada dari India yang juga produsen TPT.
“Untuk ekspor TPT ini bisa juga dengan membuka pasar yang baru. Misalnya ke Afrika dan Timur Tengah. Potensi ekspor ke arah sana bisa diupayakan semaksimal mungkin, karena selama ini ekspor ke sana terus meningkat,” papar Acu.
Untuk itulah, Acu menilai  pemerintah dan API bisa duduk bersama. Khususnya untuk mencari jalan keluar agar ekspor lebih meningkat. Untuk mendukungnya, bisa juga meminta pemerintah memberi insentif khusus dalam hal pengadaan mesin impor.  (dar) http://tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=22398&kategori=15