Kamis, 17 Januari 2008

 

 

Sujana (41) bersama dua karyawan sibuk melayani pembeli di warung kelontong miliknya di sudut utara Pasar Kosambi, Senin (14/1). Tangannya tak henti membungkus barang yang dibeli konsumen.

“Wah Mas, sekarang harga minyak goreng naik lagi. Hari Sabtu (12/1) lalu masih Rp 9.800 per kilogram (kg), tetapi sekarang naik jadi Rp 10.000 per kg. Padahal, harga awal Januari Rp 8.000 per kg,” ujar Sujana.

Bukan hanya harga minyak goreng yang berlomba naik. Banyak sekali harga kebutuhan pokok yang naik. Yang jelas terlihat pada pembukaan tahun adalah minyak tanah. Harga jual eceran naik sampai 40 persen, dari harga yang ditetapkan Pertamina.

Dari harga Rp 2.500 per liter, dengan sangat terpaksa ibu-ibu rumah tangga membayar Rp 3.500 untuk mendapatkan satu liter minyak tanah. Tak tanggung-tanggung, antrean panjang pun mengekor di pangkalan-pangkalan minyak di Kota Bandung. “Nggak apa-apa Mas mahal sedikit, yang penting ada untuk masak,” ungkap polos Wati (47), seorang ibu yang ikut antre di pangkalan minyak.

Belum tuntas masalah minyak goreng, masyarakat mulai dipusingkan oleh langkanya makanan rakyat, yaitu tempe dan tahu. Itu karena harga kedelai naik sampai dua kali lipat dari harga normal. Ditambah lagi harga tepung terigu naik 10-20 persen, sejak akhir Desember 2007. Tak pelak, rentetan kenaikan harga ini akan memicu angka inflasi Januari.

Pengamat ekonomi dari Universitas Pasundan, Acuviarta, menegaskan, kenaikan harga kebutuhan pokok selama Januari dipastikan memicu inflasi pada bulan pertama 2008. Diperkirakan, inflasi akan menyentuh satu persen, bahkan lebih. Penyebab inflasi terbesar adalah kenaikan harga kebutuhan pokok (volatile food).

“Saya perkirakan, melihat kondisi seperti ini, inflasi bulan Januari justru di atas satu persen. Kemungkinan berkisar 1,3-1,4 persen,” ujar Acuviarta, Rabu (16/1).

Angka inflasi perkiraan Acuviarta merupakan yang tertinggi dari inflasi bulanan satu tahun terakhir. Sebab, selama Januari-Desember 2007 inflasi tertinggi 0,90 persen pada Agustus. Bahkan, inflasi di atas 0,5 persen hanya tujuh kali, dan dua bulan berturut sempat terjadi deflasi (April dan Mei).

Kekhawatiran tingginya angka inflasi bulan Januari sebenarnya akan berdampak serius pada laju inflasi bulan-bulan selanjutnya. Lebih-lebih jika pemerintah terlambat bereaksi, atau malah diam mengamini kenaikan harga yang terjadi ini.

Kepedulian pemerintah

Sebenarnya meroketnya laju inflasi tersebut bisa diredam dengan melakukan perbaikan tata niaga komoditas kebutuhan pokok, diikuti pengawasan distribusi. Selain itu, percepatan produksi serta antisipasi gap produksi dengan mempertimbangkan faktor cuaca juga perlu menjadi perhatian pemerintah.

Namun, untuk yang pertama-tama, kata Acuviarta, kelangkaan minyak tanah harus segera diatasi. “Percuma saja kalau respons telat. Pemantauan dan pengendalian harga tersebut seharusnya dilakukan sejak awal agar tak terjadi seperti sekarang,” ungkap Acuviarta.

(THT) http: //www2.kompas.com/kompas-cetak/0801/17/Jabar/31245.htm