Kamis, 06 September 2007
 
 
 
Fungsi Intermediasi “Bankir yang kemampuannya rendah pun mampu bila hanya menyimpan dananya dalam bentuk portofolio. Sedangkan gaji mereka ada yang sampai ratusan juta rupiah per bulan,” kata peneliti Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia atau ISEI Cabang Bandung Koordinator Jabar Acu Viarta.

Belakangan ini penyimpanan dana perbankan dalam bentuk portofolio bank sentral semakin banyak. Salah satunya adalah Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Namun, ketika itulah peran para bankir dipertanyakan karena dinilai tidak produktif, terutama terhadap sektor riil.

Bisnis inti perbankan, kata Acu, adalah penyaluran kredit dan bukan penempatan dana pada portofolio bank sentral. Jika masih banyak penempatan dana pada portofolio, profesionalisme bank yang bersangkutan dapat dikatakan kurang baik.

Di sisi lain, bank sentral juga perlu melonggarkan aturan untuk mendorong perbankan, seperti ketentuan loan to deposit ratio. Perbankan juga seharusnya menempatkan diri sebagai mitra dengan masuk dalam wilayah proses aktivitas sektor riil.

Selama ini, kata Acu, perbankan menganggap dirinya sebagai investor. Akibatnya, sektor riil dianggap hanya tergantung pada sisi permodalan. Hambatan yang dialami sektor riil di lapangan adalah agunan dan persyaratan yang tidak mampu dipenuhi.

Sebenarnya banyak kredit yang dianggarkan, namun kurang tersosialisasi, terutama di daerah-daerah. Kondisi usaha sektor riil saat ini belum selancar dibandingkan dengan masa-masa sebelum krisis moneter. Dampaknya, masalah yang lebih besar pun terjadi, seperti ekspor yang seharusnya dapat meningkat.

Melalui pengembangan sektor riil, pengiriman barang keluar seharusnya tumbuh sehingga cadangan devisa lebih terjamin. Namun, sektor riil yang tidak didorong mengakibatkan ketergantungan terhadap impor menjadi sangat tinggi, terutama dari China.

Sementara itu, sektor riil masih membutuhkan penyaluran kredit dari perbankan. Sektor-sektor tertentu bahkan sangat memerlukannya, seperti pertanian yang selama ini dibelenggu dengan ketidakpercayaan lembaga keuangan. Padahal, menurut Acu, sektor tersebut layak sekali dibiayai.

Persoalannya, perbankan selalu mengasumsikan bahwa pertanian adalah tanaman pangan. Pertanian juga mencakup perkebunan, kehutanan, dan perikanan. Di luar industri dan perdagangan yang diminati, sebenarnya banyak sektor yang bisa menyerap kredit.

Perbankan harus mendalami masalah sektor riil agar mengetahui risiko setiap sektor usaha dan tidak menyamaratakannya. Seluruh jenis usaha di sektor pertanian umumnya dipandang sama oleh perbankan. Acu mencontohkan, budidaya ubi jalar memiliki prospek bagus.

“Saya pernah survei ubi jalar di Kabupaten Kuningan. Potensinya sangat besar dan belum tersentuh perbankan. Belum lagi, paprika yang didorong Bank Indonesia,” katanya.

Mengingat itu, perbankan harus lebih mendalami permasalahan tersebut dan tidak hanya mengintermediasikan sektor keuangan. Ketimbang menyimpan di SBI, dana itu sebaiknya disalurkan untuk kredit sektor riil yang lebih besar.

Belum lagi, penyerapan tenaga kerja pertanian yang sangat tinggi. Beberapa tahun belakangan ini, menurut Acu, sektor dengan tenaga kerja terbesar adalah pertanian. Namun, kontribusi sektor itu terhadap produk domestik regional bruto serta pajak bumi dan bangunan justru semakin menurun.

Kemerosotan secara nasional itu menunjukkan bahwa terjadi ketidakseimbangan antara perkembangan dan daya serap tenaga kerja.

Butuh bantuan

Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Daerah Jabar Iwan Dermawan Hanafi mengatakan, sektor riil saat ini masih sangat membutuhkan bantuan kredit dari perbankan. Faktor paling penting adalah diperlukan format pengembangan untuk sektor riil.

Pemerintah sudah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2007 tentang Kebijakan Percepatan Pengembangan Sektor Riil dan Pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Inpres itu sendiri masih perlu direalisasikan.

Berbagai regulasi lain juga sudah ditetapkan. Meski demikian, kata Iwan, regulasi tersebut perlu diaplikasikan secara nyata untuk mendukung sektor riil. Di sisi lain, penyebab besarnya dana perbankan yang disimpan dalam bentuk SBI harus ditelusuri. (dwi bayu radius)

 

 

http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0709/06/Jabar/26151.htm