MENGURANGI  PESIMISME KONSUMEN

 

Oleh : Coki Ahmad Syahwier ( Dosen  FE Unpas Bandung )

Pikiran Rakyat : Senin, 10 Nopember 2008

 

Bandung PR

    Hasil survey konsumen Bank Indonesia menunjukan indeks keyakinan konsumen ( IKK ) bulan lalu mencapai 94. Indeks ini tertinggi sejak oktober 2005 saat IKK berada pada titik terendah. Meskipun IKK tersebut  cukup tinggi, namun konsumen masih pesimistis terhadap kondisi ekonomi saat ini. Sebab indeks dihitung dengan metode balance score = 100, sehingga jika indeks di tas 100 berarti konsumen optimis, sebaliknya jika di bawah 100 berarti konsumen pesimistis.

    Beberapa komponen  pembentuk IKK diyakini menjadi penyebab  konsumen belum begitu yakin dengan kondisi ekonomi sepanjang tahun ini.. Salah satunya adalah ketersediaan lapangan kerja. Harapan konsumen  akan tingkat kehidupan yang layak sangat besar. Konsumen merasakan impitan beban hidup tidak seharusnya berlangsung dalam waktu yang lama. Kondisi ini menggambarkan ketersediaan lapangan kerja tidak sebanding dengan ekspektasi.

    Sikap konsumen tidak terlepas dari semakin pesimistisnya konsumen terhadap indeks kondisi ekonomi ( IKE ) saat ini dibandingkan dengan indeks awal tahun ini. Sama halnya dengan  indeks ekspektasi konsumen ( IEK) yang mengalami penurunan ekspeksi terutama pada komponen penghasilan dan ketersediaan  lapangan kerja.

    Di tengah rasa pesimistis konsumen terhadap kondisi ekonomi saat in, ternyata masih tersimpan optimisme terhadap ekspektasi penghasilan. Hal itu di tunjukan dengan indeks ekspektasi penghasilan yang berada di atas 100.

    Kebijakan pemerintah yang akan menurunkan harga sejumlah BBM dalam waktu dekat ini di perkirakan dapat membentuk ekspektasi positif  terhadap harga- harga. Ekspektasi penurunan hargaakan terjadi pada kelompok barang dan jasa disebabkan adanya sedikit kepastian atas ketersediaan barang esensial.

    Ekspektasi positif masih dapat diharapkan dengan semakin stabilnya situasi politik dan keamanan, serta rasa percaya diri pemerintah dalam menyikapi perubahan ekonomi global yang dramatis.

    Apapun alaannya sikap optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini harus terbangun sebagai modal  dasar bagi terjaminnya keberlangsungan perekonomian yang bertumbuh.Untuk keperluan itu diperlukan adanya suatu kebijakan yang bersinergi agar distribusi barang kebutuhan pokok tidak terganggu. Dengan demikian diharapkan distorsi terhadap harga tidak lagi terjadi.

    Selanjutnya penguatan program pembangunan nasional untuk mengurangi jumlah pengangguran hendaknya lebih ditingkatkan khususnya dalam mengurangi factor- factor penghambatnya. Selain itu, dunia perbankan nasional hendaknya tetap meningkatkan komitmennya memperlancar aksesibilitas pelaku- pelaku ekonomi berskala kecil dan menengah dalam mendapatkan kredit investasi dan modal kerja.( Penulis :Ketua Bidang Pengembangan Ilmu ISEI bandung Koordinator Jawa barat )***