Kamis , 01 Mei 2008 ,
Daya Saing Era Global
COKI AHMAD SYAHWIER – Dosen Unpas FE Unpas

BIAYA

ekonomi tinggi merupakan salah satu faktor penyebab industri dalam negeri berdaya saing rendah. Beberapa hal yang menjadi pemicu biaya ekonomi tinggi adalah administrasi birokrasi yang panjang dan rumit serta tidak tersedianya jaringan fasilitas perdagangan luar negeri berstandar global.
 

 

Kondisi tersebut tidak terjadi di negara industri maju. Mereka sangat responsif terhadap kebutuhan industri agar mampu meningkatkan nilai ekspor. Sebagai negara berkembang, Indonesia mempunyai kepentingan besar terhadap ekspor.

 

Ketika APBN mengalami defisit, maka penerimaan dari ekspor menjadi pilihan tumpuan utama. Bahkan ekspor menjadi penentu bangkitnya ekonomi nasional dari keterpurukan krisis.

 

Agar ekspor produk industri dalam negeri berperan positif, sudah saatnya Indonesia membangun kawasan ekonomi khusus (KEK). KEK berfungsi bagi kegiatan ekspor dan kebutuhan dalam negeri.

 

KEK dapat menggerakkan sejumlah sumber daya ekonomi memfasilitasi industri pendukung, jasa jasa, pengembangan teknologi, penelitian dan pengembangan serta peningkatan kualitas  tenaga kerja.

 

KEK dikelola oleh sebuah badan otorita yang memiliki kewenangan dan mandat sepenuhnya atas pengelolaan industri industri berbasis sumber daya dalam negeri dan berteknologi tinggi.

 

Sebenarnya terdapat beberapa tujuan utama pembangunan KEK. Pertama, menciptakan iklim bisnis yang efisien dan kompetitif dalam waktu yang pendek. Prosedur perdagangan dan investasi dipersingkat.

 

Termasuk pembebasan sejumlah pungutan dan pembayaran. Kedua, membangun infrastruktur modern yang diperlukan bagi kegiatan bisnis guna mencapai skala ekonomi yang tepat. Dengan begitu lingkaran bisnis akan terintegrasi berdasarkan efisiensi usaha.

 

Ketiga, membangun “linkage” (keterkaitan) antarindustri secara terintegratif. Pola ini lebih terfokus pada “core of busness” dan “core of competence”.

 

Keempat, merupakan wahana terwujudnya suatu aglomerasi antarkawasan terpadu. Proses aglomerasi akan mempertautkan antar kawasan bisnis tumbuh di sejumlah negara yang berdekatan secara geografis. Hal ini tentu meningkatkan percepatan bisnis dan industri dalam mencapai efisiensi.

 

Sayangnya keinginan para eksportir domestik terhadap berdirinya KEK belum terealisasikan. Padahal potensi industri dalam negeri begitu besar. Oleh karena itu “goodwill” para pemutus kebijakan baik di jajaran eksekutif maupun legislatif sangat diharapkan.

 

Beberapa faktor yang dapat mengakselerasi pendirian KEK adalah pertama, menyosialisikan kegunaan dan keuntungan KEK kepada warga masyarakat yang terkena ekses pembangunan KEK.

 

Kedua, membuat suatu kebijakan insentif yang menguntungkan kepada para calon investor, misalnya kemudahan prosedur ijin, pembebasan biaya kepabeanan, tenaga kerja yang ramah terhadap bisnis kompetitif, perlindungan usaha, dan lingkungan usaha yang steril dari penyakit membahyakan.

 

Ketiga, penyediaan infrastruktur energi yang cukup dalam skala yang besar dan ketersediaan teknologi informasi dan telekomunikasi yang canggih. Keempat, menyediakan informasi yang lengkap dan akurat mengenai perusahaan dalam negeri yang layak untuk melakukan kerjasama.

 

Kelima, adanya ukuran standarisasi keberhasilan KEK berdasarkan rentang waktu yang tidak terlalu lama. Dengan letak geografis yang sangat strategis, maka Indonesia seharusnya tidak tertinggal dari KEK di China seperti : Shenzen, Hainan, Shantou di Guangdong.

 

Demikian pula dengan KEK Malaysia (Sungai Way di Kuala Lumpur, Butterwoth di Penang, Stulang Laut di Johor). Termasuk KEK India (Santa Cruz di Mumbai, Noida di Uttar Pradesh, Cochin di Kerala).
Indonesia tentu mempunyai kawasan yang berpotensi dan menarik bagi pendirian KEK. Kawasan tersebut adalah Batam, Sabang, Medan, Dumai, Bangka Belitung, Cilegon/Merak, Kerawang, Semarang, Surabaya, Makasar, Menado, dan sejumlah kawasan Timur Indonesia.
Dengan berdirinya KEK diharapkan industri dalam negeri akan bangkit dalam menghadapi era globalisasi perdagangan dan investasi.(*)