Pikiran Rakyat : ( hal 8 ) Seni (Wage ) 11 Mei 2009
15 Jumadil Awal 1430 H. Jumadil Awal 1942
( Oleh :Dr. H.R. Abdul Maqin, SE, MP. Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pasundan Bandung dan Pengurus ISEI Cabang Bandung Koordinator Jabar )****

Indonesia pernah dijuluki sebagai macan ekonomi Asi Tenggara bahkan pernah disebut-sebut akan menjadi kekuatan ekonomi baru dunia.Akan tetapi, krisis ekonomi yang meluluh-lantakan negara-negara di Asia dan yang paling parah menimpa Indonesia menghapus predikat tadi dan saat ini kita dihadapkan lagi pada imbas krisis keuangan global.
Begitupun dengan Jabar, menjelang pemilu 2009 banyak perusahaan yang tergerus oleh dampak krisis itu dan mengancam perekonomian Jabar.IMF memperkirakan terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia dari 3,9 % menjadi 2,2 % pada tahun 2009. Pertumbuhan itu tentu saja akan memengaruhi kinerja ekspor yang didalamnya termasuk ekspor Jabar dan pada akhirnya akan berdampak pada laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Kemudian bagaimana dampak guncangan system keuangan global ini terhadap nasib keberlanjutan ekonomi ( economic sustainbality ) Jabar. Ada dua skema skenario yang bisa menjadi pertimbangan pemerintah Jabar dalam menciptakan keberlanjutan ekonomi Jabar termasuk berkaitan dengan investasi.
Skenario kebijakan jangka panjang pertama adalah percepatan investasi pembangunan infrastruktur sebagai langkah vital dalam investasi pertumbuhan ekonomi Jabar.Mengintip peta rencana proyek pembangunan infrastruktur.
Skema kedua adalah skenario jangka pendek yaitu optimalisasi UMKM, bila melihat niat pemprov Jabar yang menggenjot potensi UMKM di Jabar ini sangat wajar,belakangan ini mereka mendesak DPRD Provinsi agar segera mengesahkan perda kolateral.Hal tersebut di anggapnya sebagai suatu usaha dalam keberpihakannya terhadap sector informal ini, selain itu berencana menambah alokasi dana APBD 2009 dari Rp. 100 miliar menjadi Rp. 150 miliar.
Pertanyaan berikutnya adalah bagaimana hubungan UMKM dengan keberlanjutan ekonomi atau keberlanjutan ekonomi Jabar, ini akan menarik untuk di selami dengan melihat konten utamanya dari sector UMKM. Skenario yang akan cepat merespons situasi keberlanjutan ekonomi ini bisa dengan memasukkan UMKM sebagai skenario strategis di beberapa daerah khususnya di Jabar.
Memperhatikan prediksi tadi ada beberapa hal yang harus di antisipasi agar pereknomian Jabar tidak terjadi kontraksi, pertama mengantisipasi terjadinya PHK , pemerintah daerah harus memberikan stimulus baik secara moril maupun materiil kepada perusahaan-perusahaan marginal agar jangan sampai melakukan PHK.
Kedua, walaupun sektor perbankan terus berupaya melakukan penurunan suku bunga, dalam situasi ketidakpastian ekonomi seperti ini belum bisa menjadi factor utama yang memengaruhi demand terhadap investasi, ditambah semakin berhati-hatinya sektor perbankan mengucurkan kredit akibat memburuknya ekspektasi ekonomi. Dengan demikian, untuk mendukung ekspansi kredit itu sangat tepat bila pemerintah provinsi Jabar mengeluarkan Perda Kolateral.
Keselarasan dalam memoles kebijakan jangka panjang dan jangka pendek akan menjadi kartu truf dalam menyikapi keberlanjutan ekonomi Jabar, memperhatikan efisiensi anggaran dengan kebutuhan penciptaan sektor riil, keberpihakan terhadap UMKM sebagai suntikan ( injection) pertolongan pertama pada kecelakaan ekonomi yang disebabkan dampak krisis keuangan global, pembangunan infrastruktur sebagai investasi jangka panjang diharapkan akan menjadi fondasi dalam kekuantan perekonomian Jabar sehingga keberlanjutan ekonomi Jabar akan tercipta dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jabar.