Pengaman Krisis Regional

Pikiran Rakyat
Kamis ( pon) 11 Desember 2008
13 Zulhijah 1429 H
Rayagung 1941.

Oleh : Acu Viarta ( Dosen Ilmu Ekonomi FE Unpas Bandung dan Universitas Widyatama serta pengurus ISEI Bandung Koordinator Jabar***

Ketidak pastian cuaca ekonomi saat ini di pastikan berlanjut hingga tahun depan. Kapan kembali normal? Apakah akan segera pulih ? Mungkin tidak ada seorang pun berani menjawabnya apalagi memastikan kepulihannya.Bukan saja karena episentrum krisis berada jauh di negeri orang ( AS), tetapi karena irisan persoalan ekonomi dalam negeri sudah cukup rumit. Akibatnya, rangkaian itu kemudian intim bersinergi mengoyak-ngoyak stabilitas perekonomian kita. Dari mana kita memulai merapikan benang kusut perekonomian saat ini ? Serta apa yang harus kita lakukan agar infeksi krisis tidak sampai melumpuhkan sendi-sendi perekonomian kita? Itu adalah dua pertanyaan besar yang harus kita jawab bersama-sama.
Karena serangan krisis ekonomi masuk melalui lintasan sektor keuangan, pertam yang harus di rapikan kembali adalah kemantapan stabilitas sektor keuangan, termasuk di dalamnya stabilitas bisnis perbankan dan pasar modal. Kembali bergairah sektor keuangan akan menambah spirit unt kembali berekpansi ketimbang mengamankan likuiditas. Kalau sektor keuangan mulai berekspansi, sektor riiltiak stress berat mencari alternative tambahan pembiayaan produksi.Agar sektor keuangan tidak main mata mengambil keuntungan dalam kesempitan, peran update regulasi dan pengawasan harus di perkuat.
Sambil merapikan sektor keuangan, tahun depan kita berharap stabilitas harga ( inflasi ) bisa lebih jinak. Tanda- tanda itu akan cukup sinergis, jika UMK 2009 direalisasikan sesuai komitmen hasil kompromi.Batasi barang impor, perkuat ikhtiar mencari pasar ekspor baru, berikan insentif bagi usaha yang benar-benar membutuhkannya, buat kurs rupiah menjadi sedikit kaku, adalah sebagian determinan makro ekonomi yang harus dilakukan tahun depan.
Karena pemerintah masih dinanti terus memberi kontribusi, tahun depan harus di upayakan APBD/APBN bisa berekspansi lebih cepat.Tidak masalah jika konsekkuensinya defisit anggaran menjadi sedikit melebar. Strategi anggaran ekspansi atau sedikit menyerang adalah pilihan yang harus ditempuh pemerintah tahun depan. Itu dibutuhkan karena sektor swasta tampaknya masih akan menerapkan strategi bertahan melihat kejelasan status waspada ekonomi kita tahun depan.
Sebab, leih dari empat tahun terakhir ekonomi kita diserang tingginya harga minyak dunia, kita jga berharap tahun depan pemerintah bisa memetik hasil dari turunnya harga minyak dunia. Kalau naik turunnya harga minyak dunia kurang memiliki efek terhadap penurunan harga BBM bersubsidi di dalam negeri, berarti dugaan selama ini bnar. Masalahnya ada di dalam negeri, ditubuh perekonomian kita sendiri, bukan semata-mata karena tingginya harga minyak dunia. Untuk itu, katakan sejujurnya, kalau memang harga BBM bisa turun. Katakan tidak bisa turun, jika memang itu jalan keluarnya.Jelaskan apa skenario untuk mengompensasi itu, tetapkan waktu dan indikatornya dengan terukur dan pasti. Masalah harga BBM bersubsidi tahun depan jangan dibuat mengambang karena hal itu akan menambah bobot ketidakpastin.Apalagi digiring kepada pencitraan menjelang pemilu.
Pertanyaan kedua, apa yang harus kita lakukan untuk meminimalkan dampak krisis keuangan global ?pertama, bantu lebih aktif sektor swasta menyelesaikan masalahnya. Pastinya sektor swasta saat ini gerah dihantam dua persoalan sekaligus, melemahnya permintaan dan naiknya ongkos produksi. Segera berikan insentif pada sektor swasta, kalau tidak bisa dalam bentuk uang, berikan dalam bentuk lain seperti rgulasi. Untuk mengatasi pengangguran, perkuat kinerja sektor pertanian, perdagangan, dan industri skala UMKM.Sebab, pada sektor dan skala itu biasanya penggangguran menumpahkan kreativitas untuk kembali bekerja.Jadi, jangan ada lagi cerita pupuk langka tahun depan, begitu juga cerita irigasi teknis rusak sehingga akhirnya tidak bisa mengairi lahan- lahan persawahan.Cerita buruk nilai tukar petani ( NTP) di Jabar turun ( “ PR,2/12 ) jangan sampai terulang kembali.
Tahun depan Jabar berpotensi mendapat jatah limpahan pengangguran, sedangkan sektor pertaniannya masih menebarkan cerita menyeramkan. Data BPS Jabar September 2008, dari lima provinsi di pulau Jawa, nilai tukar petani Jabar adalah yang paling rendah.Tingkat kesejahteraan petani Jabar bahkan kalah dibandingkan dengan petani Banten.
Untuk sektor perdagangan, berikan kemudahan pedaang kaki lima ( PKL) ntuk menjalankan usahanya.kalau bukan PKL siapa lagi yang memasarkan produk UMKM di Jabar ? Begitupun perkembangan industri kreatif perlu terus di dorong taun depan. Untk itu, PKL diharapkan mau diatur sepanjang itu akan membawa kearah yang lebih baik, berikan regulasi untuk kepastian, dan tarik retribusi untuk tambahan PAD, ketimbang retribusinya selama ini dinikmati tangan-tangan yang tidak kentara.Tahun depan PKL haram berseteru dengan pemerintah karena keduanya dituntut bersinergi dan saling mengerti.
Untuk industri MKM, perkuat kinerja pusat-pusat pelatihan tenaga kerja dan industri, tonjolkan peran unit-unit pelayanan teknis ( UPT), lanjutkan skim kredit penjaminan, PNPM Mandiri, dan sejenisnya.Peran lembaga pelatihan memang harus dikedepankan, sebab pengangguran limpahan PHK industri besar tidak bisa beitu saja berubah tabiat menjadi serbatahu untuk memulai bekerja di sektor pertanian dan perdagangan.
Kedua, pemerintah daerah dan pusat diharapkan bisa mempercepat dan memprioritaskan program-program bidang infrastruktur.Syukur-syukur program tersebut berhubungan langsung dengan percepatan mobilitas ekonomi masyarakat karena sudah melalui musyawarah perencanaan pembangunan ( musrenbang) dari tingkat kecamatan. Proyek infrastruktur lumrah menjadi sarana penyerapan limpahan tenaga kerja.

Ketiga, perlu diberikan perhatian khusus pada pengembangan usaha di sektor pengolahan hasil- hasil pertanian. Usaha agroindustri harus diberi perhatian lebih tahun depan, kalau bisa diberikan insentif yang lebih banyak. Upaya ini tidak saja berdampak positif bagi penyerapan tenaga kerja, tetapi juga untuk perbaikan kesejahteraan petani. Usaha komoditas pertanian, seperti peternakan sapi, domba, kambing, juga kedelai dan tebu masih mnjanjikan di tahun 2009, dilihat dari posisi sementara demand and supply-nya.
Keempat, tingkatkan koordinasi antar pemerintah daerah dalam hal penanganan dampak krisis. Potensi ekonomi masing-masing daerah tampaknya belum digali optimal, dan hal itu bisa ditingkatkan melalui kerja sama antarwilayah.Tidak usah jauh-jauh mencari calon investor sampai keluar negeri, di dalam negeri pun potensinya masih tersedia. Bukti potensi itu ada terlihat dari dana pihak ketiga (DPK) perbankan yang setiap tahun meningkat.Diperlukan solusi cerdas mengalirkan uang dingin itu ke usaha-usaha investasi yang lebih produktif.***