PIKIRAN RAKYAT

RABU (PON) 20 MEI 2009
24 JUMADIL AWAL 1430 H
JUMADIL AWAL 1942

POTENSI PASAR INDUSTRI EKONOMI KREATIF

PENULIS : PROF : DR. H. EDDY JUSUF, GURU BESAR KOPERTIS WILAYAH IV JABAR-BANTEN , PR I UNIVERSITAS PASUNDAN BANDUNG.

Potensi pasar domestik yang melimpah, tampaknya belum dimanfaatkan secara maksimal oleh jutaan pelaku usaha kecil menengah ( UKM ) di Indonesia. Seperti halnya produk kerajinan, makanan khas olahan daerah, dan kerajinan industri ekonomi kreatif lainnya. Khusus pasar domestic, produk kerajinan industri ekonomi kreatif UKM yang tersebar di berbagai wilayah, belum terekspos secara merata, karena terbentur persoalan pemasaran.
Kalau melihat kontribusi industri ekonomi kreatif pada 2008 yakni mencapai 6,3 % GDP nasioal ( Produk Domestik Bruto ). Sektor ini juga menyumbang 10,6 % dari total ekspor nasional.Nilai ini jah lebih tinggi, dibandingkan dengan kontribusi ekspor industri kreatif Singapura ( total ekspor 2,8 % ) dan Inggris ( total ekspor 7,9 % ).
Berdasarkan laporan United Nations Conference on Trade and Development ( UNCTAD ), Creative Economy Report 2008, dalam kurun 2000-2005, pertumbuhan perdagangan barang dan jasa berbasis industri kreatif rata-rata 8,7 % pertahun.Ekspor dunia dari industri kreatif 2005 sebesar 424,4 trilliun dolar AS, sementara pada 1996 sekitar 227,5 trilliun dolar AS. Dalam konteks ini, secara global Indonesia belum menjadi pemain penting dalam produk keseluruhan industri kreatif.Mungkin baru seni lukis yang endapat posisi ketiga, setelah Cina dan Thailand dengan total ekspor 83 juta dolar AS ( 2,92 % dari global) pada 2005.
Pengalaman dari negara lain bahwa membangun basis industri kreatif yang kokoh dan mengakar serta mampu mentransformasikan gagasan, yang akan menyentuh benak konsumen sebagai pasarnya merupakan tahapan yang cukup unik.Mulai dari proses seleksi, penguatan kapasitas, pematangan di inkubator, mempertemukan dengan distributor, sampai kepada pemberi modal, dan membangun pasar, semestinya peran ini diambil pemerintah agar berlangsung kesinambungan.Terutama, industri kreatif yang berbasis budaya.Sebab, sektor ini yang banyak di geluti UKM dan tersebar di seluruh Indonesia. Namun, keunggulan lain industri kreatif berbasis budaya adalah dari kekuatan pasar, yang masih bisa di andalkan untuk bertahan hidup tidak melakukan PHK.
Sementara perdagangan pernak-pernik dan pakaian di Indonesia didominasi barang impor, termasuk barang bekas, bisnis distro berbasis keativitas desain menjadi pengisi pasar tersebut. Pengetatan impor pakaian jadi oleh pemerintah khususnya pakaian bekas, menjadi berkah bagi bisnis distro ini. Maka fenomena produk distro yang berdasar elemen industri kreatif berbahan baku local dengan orientasi pasar lokal, menjadi tawaran membangun fondasi ekonomi yang kuat saat menghadapi krisis.
Sejauh ini, industri kreatif di Indonesia tumbuh dan berkembang hanya mengandalkan ide-ide personal.. Pemerintah belum memberi dukungan memadai untuk pengembangan industri kreatif secara permanent. Industri kreatif baru dijalani orang-orang muda kreatif yang kerap menghadapi tantangan, terutama masalah modal. Selain itu, perkembangan industri kreatif dihadapkan pada lemahnya pengembangan kapasitas dan pemasaran permanen.
Eksistensi produk industri kreatif Indonesia di pasar Internasional, tidak terlepas dari ciri khas yang mencerminkan keanekaragaman budaya yang unik. Jadi, prospek pasar ekspor produk industri kreatif Indonesia sangat besar.Potensi ini harus dimanfaatkan semua kalangan pelaku industri kreatif.
Hal paling penting adalah mempermudah pemasaran semua produk lokal.Adanya “ Klinik Industri Ekonomi Kreatif UKM “ sebagai bentuk pembinaan bagi para pelaku UKM yang tentunyadi fasilitasi lembaga pemerintah, setidaknya dapat membantu industri kreatif dalam persoalan pemasaran ekspor. Saying, Klinik ini belum merata di setiap daerah, sehingga agak sulit dilakukan penataan secara permanen. Padahal, klinik ini penting sebagai media untuk menyambungkan agar UKM bisa berintregasi dengan investor.
Selain tempat pertemuan, juga menjadi pusat aneka produk unggulan dari pelaku UKM dan mereka diberi kesempatan memajang semua produk unggulannya. Untuk jangka panjangnya, “ Klinik Industri Ekonomi Kreatif UKM “ bisa menjadi lokasi pariwisata alternatif.
Industri kreatif merupakan ide yan menjadi kekuatan utama, menggantikan barang modal seperti yang terjadi dalam ekonomi industrial . Industri kreatif dapat menawarkan demokratisasi dalam penciptaan nilai ekonomi. Dengan industri kreatif, kesempatan terbuka bagi siapa saja yan memiliki ide-ide bernilai ekonomis. Akhirnya, ukuran keberhasilan industri kreatif bisa dilihat dari makin besarnya kontribusi industri ini terhadap total PDB.akan lebih membanggakan lagi, jika pelaku industri kreatif menjadi penyumbang devisa terbesar bagi negara.***