PIKIRAN RAKYAT
SELASA ( PAHING ) 19 MEI 2009
23 JUMADIL AWAL 1430 H
JUMADIL AWAL 1942

TERTANTANG PEMBUKTIAN

( OLEH : PROF.Dr H.M. Didi Turmudzi, M.Si. Rektor Unpas Bandung

Menjadi Rektor Universitas Pasundan ( UNPAS ) Bandung, bagi Prof. Dr. H.M. Didi Turmudzi, M.Si. ( 59 ), merupakan puncak atas perjalanan kariernya yang bisa di bilang cukup panjang.Memulai karier sebagai Dosen pada Tahun 1980, lalu menjadi dekan, pembantu rektor I, pembantu rektor III, semuanya sudah pernah dia alami. “Sepertinya, hanya saya yang sudah merasakan semuanya,” ujarnya setengah bercanda di ruang kerjanya, Jalan Tamansari 6, Bandung, Rabu ( 13/5).
Bisa jadi, tidak banyak yang tahu bahwa Didi yang juga ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia ( APTIS ) Jawa Barat dan Banten tersebut, saat menjadi dosen di Unpas, dia juga mengajar di Institut Teknologi Bandung ( ITB ). “ saya mengajar pendidikan Pancasila karena saya orang social dan pendidikan agama Islam,” tuturnya.
Membicarakan mata kuliah pendidikan agama Islam, Guru Besar Ilmu Sosiologi itu mengaku, memang tidak berlatar belakang ilmu tersebut.” Namanya anak ITB, pemikirannya macam-macam, ketika saya mengajarkan pendidikan Agama Islam, “ katanya.
Satu yang paling dia ingat yaitu ketika mahasiswa Teknik Industri ITB menanyakan kelogisan wudu. “Mereka menilai, wudu itu tidak logis. Mereka bilang ke saya, kentut itu dianggap membatalkan wudu. Tapi masa yang kentut bagian pantat, tapi yang di basuh mukanya ? Wudu itu berarti enggak logis,pak, “ ujarnya, menirukan pernyataan mahasiswanya kala itu.
Sontak saja,Didi merasa tertantang untuk pembuktian.Tak habis akal, diapun akhirnya menyuruh mahasiswa itu ke depan kelas. “ Begitu anaknya sudah maju, lalu saya injak kakinya.Si anak menjerit begitu saya injak.Langsung saya bilang ke dia, kamu juga tidak logis.Masa yang diinjak kakinya, tapi yang menjerit mulutnya,” ujar Sekjen PB Paguyuban Pasundan itu, dengan perasaan menang.
Tak cukup, Didi pun kembali berseloroh kepada mahasiswanya.” Nah, kalau kamu kentut the, yang malu mukanya, makanya mukanya yang di basuh,” katanya diselingi tawa.***