PIKIRAN RAKYAT
SABTU ( KLIWON ) 6 JUNI 2009
12 JUMADIL AKHIR 1430 H
JUMADIL AKHIR 1942

EKOWISATA,ETIKA, & PEMBANGUNAN EKONOMI

Pariwisata telah menjadi salah satu kegiatan ekonomi glo- bal terbesar dan menjadi industri sipil terpenting di Dunia. Hampir 10 % jumlah pekerja di dunia, bekerja di sektor pariwisata dan tidak kurang dari 11 % GDP seluruh dunia berasal dari sektor ini. Di Indonesia, pariwisata juga memberikan kontribusi yang besar terhadap devisa negara. Seiring dengan perkembangannya, pariwisata di negara-negara berkembang telah menjadi sorotan para pemerhati lingkungan karena dampak yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut cukup memprihatinkan. Pariwisata merupakan usaha yang sangat menguntungkan namun jika dilakukan secara missal ( mass tourism) dapat menimbulkan dampak negarif sebagai akibat dari kunjungan yang terlalu berlebihan.
Selain itu, pemeliharaan lingkungan alam tidak hentinya menjadi isu penting dalam berbagai forum dunia. Pariwisata merupakan salah satu industri yang tidak luput dari tuntutan aplikasi pengembangan industri berwawasan pemeliharaan lingkungan alam. Kerangka berpikir dan bekerja industri pariwisata berubah menjadi bagaimana mengembangkan pariwisata tanpa merusak alam namun justru memperbaiki dan memelihara alam.
Perumusan kerangka pengembangan pariwisata berwawasan pemeliharaan lingkungan adalah hal mendesak yang perlu direa-lisasikan. Makin mencuatnya isu pemeliharaandan pelestarian alam diekspresikan antara lain dalam bentuk greenspeak. Greenspeak itu sendiri berkonotasi mendalam untuk kemaknaan “ alam yang hijau dan terpelihara.” Oleh karena itu, serta merta muncul isu go green ( Cooper ; 1997 ; WTO ; 2000 ).
Isu lain yang lama mengglobal adalah back to nature. Kembali kea lam menjalar bukan saja di negara – negara maju tetapi jga Indonesia, Khususnya Jawa Barat. Jawa Barat berpeluang membangun kepariwisataan yang berkelanjutan melalui pemeliharaan lingkungan alam, dan ini sejalan dengan tujuan etika lingkungan yaitu untuk melindungi lingkungan,udara,air,bumi,dari kegiatan bisnis dan individu.
Wisata ekologis sebagai alternatif pengelolaan pariwisata “ ramah lingkungan.” Dalam model ekowisata ( ecotourism ), kegiatan pariwisata dikembangkan sebagai sebuah perjalanan ( wisata ) bertanggung jawab ke wilayah- wilayah alam, yang melindungi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat ( Western dalam Lindberg & Hawkins, 1993 ).
Menurut World Tourism Organization ( WTO ) dan United Nation Ecotourism Program ( UNEP), ekowisata setidaknya harus melingkupi, tidak hanya memberi perhatian pada alam, tetapi juga pada penduduk asli dan kultur umumnya di wilayah itu sebagai bagian dari pengalaman menarik pengunjung ( wisatawan). Wisata ekologis memliki muatan pendidikan dan interpretasi sebagai bagian yang ditawarkan pada wisatawan. Dengan demikian, wisata ekologis sebenarnya berupaya mengembangkan sumber- sumber lokal dan peluang kerja lokal menjadi potensi-potensi wisata dan peningkatan pendapatan masyarakat setempat, sekaligus meningkatkan perhatian penduduk lokal dan pengunjung pda pelestarian alam. Selain itu, wisata ekologis ditujukan untuk mengurangi pengaruh negative pada alam dan social budaya masyarakat setempat, serta mendukung perlindungan dan pelestarian alam dengan memberikan manfaat dari pengelolaan alam tersebut.
Setiap daerah dituntut mengelola ekonominya untuk mendapatkan hasil- hasil pembangunan yang nyata untuk kesejahteraan masyarakat. Atas dasar itu, disadari atau tidak, setiap daerah berupaya mengelola potensi ekonominya dengan segala keselarasan dan keseimbangan, alternatifnya adalah dengan mengembangkan ekowisata.
Kegiatan pariwisata dapat dikategorikan sebagai pariwisata ekologi jika memenuhi lima prinsip ekoturisme ( Cooper ; 1997 ) ( 1 ) prinsip sustainable adalah pariwisata yang berkonsntrasi pada penyokongan pelestarian alam ( 2 ) Lingkungan alam harus aman dan terjamin keselamatannya untuk dijadikan harta warisan bagi generasi mendatang ( 3 ) Pemeliharaan beragam makhluk yang ada di sekitarnya, baik manusia, hewan, tumbuhan, dan lain-lainnya appun yang berasal dari alam dan hidup di alam bersangkutan ( 4 ) Merumuskan perencanaan secara holistik dan mengimplementasikannya secara holistik pula. Harmonisasi alam dengan manusia dan totalitas lingkungan ( environmental integrity ) harus jadi kenyataan.5) Carring capacity, artinya seluruh pihak yang terlibat dalam kegiatan pariwisata tersebut mendapat manfaat.Tingkat kemanfaatan harus di peroleh baik secara dimensional baik penyedia ataupun bagi wisatawan.
Pada tingkatan tertentu, pengembangan ekonomi berbasis wisata ekologis diyakini tidak semudah yang dibayangkan. Kendala utama yang menjadi persoalan adalah bagaimana menggunakan ruang ekologi sehingga bisa bersanding dengan pengembangan pariwisatanya.Disisi lain, dengan kesadaran penuh semua pemangku kepentingan ( stakeholder ) bahwa pemanfaatan yang ada tidak mungkin mengganggu eksistensi segala entitas yang menjadi komunitas obyek ekologi.Sebagai contoh adalah pemanfaatan hutan.Pemanfaatan hutan sebagai salah satu obyek wisata yang dapat mendatangkan nilai ekonomi harus sepenuhnya memperhatikan factor- factor yang sangat pundamental. Faktor- factor tersebut di antaranya menyangkut status / klasifikasi hutan, kesesuaiannya dengan rencana tata ruang dan wilayah ( RTRW ), dan keselarasan dengan daya dukung lingkungan.
Dengan memperhatikan prinsip- prinsip tadi dan dengan kesadaran brbuat etis terhadap lingkungan oleh semua pemangku kepentingan, penulis yakin ekowisata ini akan lebih berkembang di Jawa Barat. Love, care environment.***

Penulis : Dr. Hj. Erni R. Rusyani, SE, MSIE
Sekretaris Lemlit Unpas dan penulis buku “ Etika Lingkungan “