PIKIRAN RAKYAT

SENIN ( PAHING ) 8 JUNI 2009
14 JUNADIL AKHIR 1430 H
JUMADIL AKHIR 1942

EVALUASI DAMPAK KRISIS KEUANGAN GLOBAL

Krisis keuangan global terus menekan perekonomian Jabar. Tak urung banyak kalangan dibuat larut dalam kegamangan. Seberapa besar dampak krisis keuangan global melanda perekonomian Jabar hingga hari- hari belakangan ini tampaknya perlu kita evaluasi perjalanannya. Penularan krisis, salah satunya, masuk melalui jalur perdagangan ( trade channel ). Melalui jalur perdagangan, implikasinya kinerja ekspor pasti akan tertekan. Tertekannya kineja ekspor akan menstimulasi penurunan penyerapan tenaga kerja dan investasi.
Masalah desakan terhadap penyerapan tenaga kerja dan investasi dapat diatasi jika konsumsi regional tumbuh.Dengan demikian, melalui insentif ( kenaikan konsumsi ) regional bisa mengimbangi tekanan dampak penurunan ekspor.Peningkatan konsumsi rumah tangga regional sebenarnya sangat memungkinkan jika memperhatikan kenaikan pendapatan nominal dan rendahnya inflasi.
Masalahnya apakah cukup seimbang, antara kenaikan konsumsi domestik dan penurunan ekspor. Melihat pertumbuhan ekonomi yang melambat saat ini, beradunya dua kekuatan itu tidak seimbang. Karena faktor konsumsi rumah tangga inilah pertumbuhan eknomi Jabar masih positif.
Ada beberapa harapan yang masih bisa di kembangkan saat ini, meskipun pertumbuhan ekonomi sejumlah negara Asia negative. Akan tetapi, laju pertumbuhan ekonomi ( LPE) Cina dan India masih tetap positif. Disisi lain, muncul juga harapan berhasilnya upaya stimulus perekonomian yang dikembangkan sejumlah negara seperti Jepang dan Amerika Serikat.Termasuk stimulus perekonomian yang juga di keluarkan oleh sejumlah negara mitra dagang kita di Asia Tenggara. Menyikapi kondisi ini, diperlukan langkah agresif , baik itu dilakukan oleh pemerintah maupun pengusaha. Langkah itu di antaranya meningkatkan kemampuan mengembangkan pasar ( market size ) ke negara- negara kawasan Afrika dan Timur Tengah.langkah tersebut tidak kalah penting dengan tetap berupaya memperkuat eksistensi peningkatan permintaan domestic ( regional ). Dengan demikian, melalui langkah itu reaksi langsung melambatnya permintaan ekspor sejumlah negara mitra tradisional bisa dibayangkan jika ekspor terus melambat tahun ini.Dengan berkurangnya aktivitas produksi ( riil ) yang kemudian bisa menekan kenaikan tingkat pengangguran dan pertumbuhan ekonomi dalam spectrum yang lebih luas.***

(Penulis : Acuviarta Kartabi, pengurus ISEI Bandung Koordinator Jabar dan dosen IE Unpas serta STIE Ekuitas )