PIKIRAN RAKYAT
KAMIS ( WAGE ) 30 JULI 2009
8 SABAN 1430 H
REWAH 1942

MEMACU DAYA SAING EKONOMI JABAR SELATAN

Akselerasi percepatan pembangunan eknomi Jawa Barat Selatan atau Jabar Selatan, sudah berulang- ulang menjadi obyek pembicaraan berbagai pihak. Bahkan, bermacam pola perencanaan silih berganti dicanangkan dengan rasa optimisme yang tinggi. Terakhir, kebijakan penguatan pengembangan ekonomi Jabar Selatan, kembali di kemukakan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah ( BAPPEDA ) Provinsi Jawa Barat. Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri ( KADIN ) Provinsi Jawa Barat berencana meningkatkan peranan dunia usaha, dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal kawasan Jabar Selatan memiliki potensi yang strategis dan prosfektif bagi pertumbuhan ekonomi Jawa Barat, khususnya dan nasional pada umumnya. Kawasan Jabar Selatan terdiri atas Kabupaten / Kota Sukabumi, Kabupaten Garut, Kabupaten, Kabupaten / kota Tasikmalaya, Kabupaten Ciamis, dan Kota Banjar dengan potensi sumber daya alamnya yang berlimpah.
Namun, perhatian yang begitu besar terhadap Jabar Selatan, ternyata tidak serta merta mencerminkan keadaan yang simetris dengan kemajuan yang di capai kawasan Jabar Selatan saat ini. Kondisi existing kawasan Jabar Selatan masih memperlihatkan ketertinggalan yang signifikan dibandingkan dengan daerah lain, yang sudah lama berkembang dan bertumbuh. Sementara itu, beberapa daerah Jabar Selatan di perkirakan berpotensi menjadi daerah mengalami penurunan kualitas pembangunan, yang dalam akibat dampak krisis yang berlarut- larut. Sedangkan penyediaan infrastruktur guna mendukung proses pemanfaatan sumber daya eknomi lokal, terkesan berlangsung tidak berjalan dengan optimal. Kondisi ini semakin tertekan, dengan ketersediaan aksebilitas terhadap upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat yang terbilang masih terbatas. Akibatnya, potensi alam dan smber daya manusia tidak tereksplorasi dengan efektif. Dengan demikian, kawasan Jabar Selatan tidak saja di hadapkan pada persoalan kemiskinan, melainkan juga persoalan kemiskinan, melainkan juga persoalan kelebihan tenaga kerja.
Fenomina kualitas perekonomian Jabar Selatan tersebut, dapat dilihat dari laju pertumbuhan ekonomi ( LPE ) sebagai salah satu indicator, yang menggambarkan kemajuan perekonomian daerah. Rata – rata LPE kawasan ini sebelum krisis keuangan global hanya mencapai sekitar 3,5 % hingga 4,5 %. Angka pertumbuhan ini lebih rendah dibandingkan dengan LPE yang dicapai provinsi Jawa Barat maupun nasional. Sementara itu, pendapatan asli daerah ( PAD ) juga kurang menggembirakan, terutama dalam mendukung pembiayaan proses pembangunan daerah. Keadaan ini mengakibatkan sebagian besar daerah kawasan Jabar Selatan, masih tergantung pada dana alokasi umum ( DAU ) dan dana alokasi khusus ( DAK ) yang di berikan pemerintah pusat.
Berdasarkan kondisi tersebut tampaknya Jabar Selatan betul – betul memerlukan penanganan yang lebih serius, baik dari segi pengolahan potensi alamnya maupun pencapaian terciptanya redistribusi pendapatan yang merata dan berkeadilan. Sebab, prospek kawasan ini sama besarnya dengan prospek yang dimiliki daerah lain di Jawa Barat. Dengan demikian, diperlukan suatu langkah- langkah kongkret yang benar- benar terukur keberhasilanny

KEUNGGULAN POTENSI
Ditinjau dari sudut pandang struktur ekonomi, kawasan Jabar Selatan memiliki keunggulan potensi yang besar terutama sektor pertanian berbasis industri.Jabar Selatan juga memiliki kawasan bahari, dengan potensi laut yang dapat berdaya saing apabila dikelola dengan teknologi perikanan dan produk makanan yang modern. Kabupaten Sukabumi dan Ciamis merupakan daerah Jabar Selatan, yang dikenal sebagai kawasan daerah mempunyai konfigurasi lengkap bagi pengembangan agroindustri dan industri produk makanan berbahan baku ikan. Potensi sama juga dimiliki kawasan Garut Selatan.Namun, Garut Selatan terkendala dengan kondisi topografi tanah yang curam. Masalah utama di kedua sektor ani adalah masalah persepsi dan ekspektasi yang rendah, terhadap pengembalian investasi ditanamkan apabila apabila membuka usaha ekonomi di sektor ini. Persepsi investor dipengaruhi kondisi infrastruktur yang lemah, kepastian dalam berusaha, pembebasan tanah, perkiraan jalur birokrasi perizinan yang lama, dan persoalan tenaga kerja dengan skill competence memadai. Disamping itu, pencapaian nilai tukar petani ( NTP ) cenderung belum mencerminkan kemampuan yang kuat, untuk menciptakan skala usaha ekonomis ( economics of scale ) yang menguntungkan dalam jngka panjang. Hal itu, menimbulkan kekhawatiran atas keberhasilan menciptakan total penerimaan yang lebih rendah dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan.Padahal, sektor ini membutuhkan tingkat penjualan yang tinggi dengan jumlah biaya rata- rata terendah agar kegiatan usaha dapat terlanjutkan.
Sektor yang juga berpotensi besar adalah perdagangan, hotel, dan restoran. Sektor ini merupakan representasi dari sektor pariwisata yang cukup memberikan arti besar, bagi penerimaan devisa negara dan daerah. Beberapa obyek wisata Jabar Selatan, sangat kesohor di penjuru dunia terutama obyek wisata kawasan laut pelabuhan Ratu, pantai Pangandaran, serta kawasan laut Garut Selatan. Kawasan Jabar Selatan juga memiliki kawasan rimba dan pegunungan yang mengagumkan. Hanya, kendala utama sektor ini adalah kemampuan promosi dan pemasaran yang lemah. Persoalan utama pariwisata Jabar Selatan hanya terletak pada jarak tempuh( destination ) yang relatif jauh
Oleh karena itu, pemerintah dan pemangku kepentingan ( stakeholder ) pariwisata , hendaknya lebih focus mempersiapkan moda transfortasi dengan tingkat harga yang terjangkau. Aspek lainnya adalah kemampuan member jaminan atas tingkat keselamatan serta kenyamanan yang tinggi.
Sementara itu, kawasan Jabar Selatan juga memiliki potensi pertambangan dan kandungan energi yang diperkirakan berkapasitas sangat besar. Seperti yang dimiliki kawasan Kamojang Garut dan sekitarnya, yang menyimpan energi panas Bumi ( geothermal ) dengan kapasitas energi mampu berkontribusi besar terhadap peningkatan industri nasional. Bukan mustahil bentangan urat tanah Kamojang, tersambung dengan daera lain di kawasan Jabar Selatan lainnya. Untuk keperluan itu diperlukan suatu pemetaan dan proses survey lapangan. Dalam hal ini pemerintah daerah harus lebih proaktif
Sektor ekonomi juga diperkirakan dapat menciptakan akumulasi capital yang besar adalah industri manufaktur. Selama ini, kegiatan industri manufaktur menjadi ikon kawasan Jabar Utara, dengan industri berskala nasional dan internasional. Sebaiknya, kawasan Jabar Selatan memang memosisikan industri manufakturnya sebagai penyedia bahan baku pokok, bhan baku pendukung, dan bahan baku antara bagi kebutuhan industri manufaktur nasional. Peran demikian, tidak kalah arti posisi strategisnya dibandingkan dengan industri penghasil barang – barang konsumsi sehari- hari ( consumer goods ) maupun elektronik dan otomotif . Peran ini justru mampu menciptakan efek sebar bagi perluasan kesempatan kerja dan teroptimalisasikannya, pemanfaatan sumber daya ekonomi lokal lainnya.
Masyarakat Jabar Selatan juga berpotensi melakukan pengembangan kemampuan kreativitas yang tinggi. Sejak era sebelum kemerdekaan, masyarakat Jabar Selatan dikenal dengan hasil produksi kegiatan industri rumah tangga yang bernilai estetika dan nilai pasar tinggi. Proses kreativitas yang terbentuk pada masyarakat merupakan elemen dasar atas berkembangnya ekonomi dan industri kreatif di Jabar Selatan selama ini. Kemampuan kreativitas ini akan bernilai guna dan berdaya saing tinggi, apabila difasi litasi dengan dukungan pendanaan dan promosi serta manajemen usaha yang efektif. Selain itu, diperlukan suatu aliansi strategis usaha ekonomi kreatif, yang berpola vertical integrative. Pola kemitraan jenis ini menempatkan usaha ekonomi kreatif , sebagai kegiatan bisnis inti dan lebih mengedepankan suatu keterkaitan usaha dengan usaha- usaha yang dapat memanfaatkan hasil produksi sektor ekonomi industri kreatif. Kemitran kegiatan usaha kreatif dapat dilakukan dengan pendekatan equity financing antara swasta dan pemerintah kabupaten/kota,antara swasta dan swasta serta antara perusahaan binaan pemerintah kabupaten/ kota dan swasta. Kemitraan hendaknya didasarkan kontrak usaha yang memenuhi prinsip- prinsip kesetaraan ( equalpartnership ) dengan sasaran terbentuknya sikap dan tindakan yang saling membutuhkan, saling membesarkan, dan saling menguntungkan.

Sejalan dengan perkembangan ekonomi dunia, pengelolaan perekonomian Jabar Selatan hendaknya juga memperhatikan aspek daya saing. Terdapat lima factor utama manakala suatu daerah akan membangun daya saing yang kuat. ( 1 ) Kemampuan keterampilan tenaga kerja yang diukur melalui indeks produktivitas. (2 ) Kualitas tingkat kependidikan. ( 3 ) Pengeluaran anggaran belanja pemerintah. ( 4 ) Efektivitas penerapan teknologi ( 5 ) Tingkat kesesuaian faktor – faktor produksi ( input ) terhadap proses produksi yang di jalankan.
Beberapa kebijakan dapat ditempuh agar kawasan Jabar Selatan berdaya saingtinggi. (1) Menciptakan kesempatan kerja yang luas, melalui pemberian insentif yang produktif di semua sektor ekonomi potensial agar pengeluaran rumah tangga masyarakat, mampu membentuk tabungan masyarakat yang besar. (2) Meningkatkan peranan sektor perbankan melalui penguatan sinergitas, koordinsi, dan aliansi kesetaraan antara pemerintah kabupaten/kota, asosiasi pengusaha, dan dunia perbankan di daerah. ( 3 ) Menciptakan pola kemudahan dan kenyamanan berinvestasi melalui peraturan daerah yang ramah investasi dan mampu memberikan suatu gambaran pengembalian investasi menguntungkan, dalam jangka panjang baik bagi investor mupun daerah. ( 4) Meningkatkan daya serap anggaran publik melalui pemetaan infrastruktur publik prioritas, dengan pengukuran yang tepat bagi pengembangn sektor- sektor ekonomi yang menghasilkan efektivitas hasil ( output ) ( 5 ) Mengembangkan inovasi dan teknologi mendukung terciptanya nilai tambah atas utilitas produk, yang dihasilkan sekto- sektor ekonomi melalui pendirian pusat- pusat pengembangan riset dan teknologi di daerah. ( 6 ) Membangun jaringan perdagangan luar negeri, yang menghubungkan sentra-sentra produksi daerah dengan mitra usaha di luar negeri dengan efektif melalui kontak bisnis secara langsung antara pelaku usaha ekonomi daerah dengan pembeli luar negeri.

CATATAN AKHIR

Melalui kebijakan- kebijakan dan gagasan ideal konstruktif tersebut, besar harapan perekonomian jabar Selatan kelak akan mencapai tingkat performa daya saingnya yng tinggi. Selanjutnya, dam waktu yang bersamaan disparitas pembangunan antarkawasan di Jawa Barat secara perlahan tetapi psti dapat terkurangi. Dengan demikian, visi yang dicanangkan Gubernur dan Wakil Gubernur Provinsi Jawa Barat untuk periode 2008-2013 yakni “ Mencapai Masyarakat Jawa Barat Mandiri, Dinamis dan Sejahtera “ mampu direalisasikan. Semoga****

PENULIS : PENGAMAT PEREKONOMIAN JAAR, SEKRETARIS LP3E KADIN JABAR, WAKIL KETUA DPE KOTA BANDUNG, DAN ANGGOTA ISEI.