Harga Komoditas Turun Mengikuti Tarif Angkutan

BANDUNG, (PR).-
Ketua Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Jabar Dadang Suganda mengatakan, turunnya harga BBM akan berpengaruh secara otomatis terhadap turunnya harga komoditas pasar. “Karena ongkos transportasi akan berkurang, begitu pula dengan ongkos angkut bahkan ongkos produksi. Perkiraan saya, dalam satu atau dua minggu ke depan harga-harga komoditas pasar terutama sayur-mayur akan turun,” ucapnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Jabar Henri Hendarta mengatakan, ritel-ritel akan melakukan adjusment (penyesuaian) harga jika produsen melakukan penyesuaian. “Karena ongkos produksi sudah bisa berkurang, jadi seharusnya harga-harga sudah bisa diturunkan. Tapi kami juga belum akan menurunkan harga jika produsen belum menurunkan harga,” katanya.

Meski begitu, saat ini sudah ada beberapa fast moving item yang mulai turun harga secara bertahap seperti minyak goreng bukan curah. “Dari sejak akhir tahun lalu, harga minyak goreng terus turun bertahap hingga kini berada di bawah Rp 20.000,00 untuk jenis refill 2 liter,” tutur Henri.

Menanggapi penurunan BBM, pengamat ekonomi Universitas Pasundan Acuviarta Kartabi meminta para pengusaha mengikuti menurut harga BBM. Jika tidak, masyarakat bisa menilai produsen dan pengusaha tidak fair dalam memberikan harga atau tarif kepada masyarakat.

Tuduhan seperti itu beralasan, menurut Acuviarta, sebab ketika BBM naik, produsen ramai-ramai menaikkan harga dan meminta stimulus. Akan tetapi, ketika BBM turun, mereka sulit menurunkan harga.

Selain itu, respons konsumen juga bisa berubah. Nantinya konsumen cenderung menyimpan uangnya atau mencari barang serupa yang kualitasnya lebih baik seperti barang impor. Jika hal ini terjadi, tentunya akan berpengaruh buruk terhadap produsen lokal,” ungkapnya.

Acuviarta mengakui, memang tak bisa serta-merta begitu. “Paling tidak, dilihat satu bulan mendatang. Apakah terjadi kesesuaian (penurunan-red.) harga yang signifikan atau tidak. Karena pengaruh naik turunnya harga BBM sangat berpengaruh pada saat produksi,” ucapnya.

Bahkan, Acuviarta menganjurkan pemerintah agar ikut menentukan harga eceran tertinggi (HET) untuk seluruh komoditas terutama bahan pokok. Kesulitannya, komoditas sembako begitu banyak dan bervariasi. “Menurut saya, sebaiknya dilakukan pendekatan terhadap pabrikannya. Karena jika diperhatikan dari sekian banyak komoditas, ada beberapa pabrikan yang memproduksi lebih dari satu macam produk,” katanya. (A-176)***

Penulis:

Back