Menimbang RAPBN 2010

Oleh ACUVIARTA KARTABI

KONDISI perekonomian 2010 diprediksi sejumlah kalangan akan lebih baik dibandingkan tahun ini. Kalimat kunci menjanjikan yang dipakai untuk memperkuat argumen itu adalah keyakinan mulai terkikisnya sedikit demi sedikit dampak virus krisis keuangan global. Dalam beberapa hal, perkiraan itu sedikitnya juga memengaruhi ekspektasi pemerintah dalam menetapkan asumsi-asumsi makro penyusunan RAPBN 2010 sebagaimana yang disampaikan Presiden SBY.

Pertumbuhan ekonomi diasumsikan menjadi 5% atau lebih tinggi 0,7% dibandingkan dengan asumsi APBN-P 2009 4,3%. Tipisnya kenaikan asumsi pertumbuhan mengindikasikan pemerintah tidak terlalu berani mengambil risiko dengan berandai-andai cepatnya perbaikan kondisi perekonomian global semudah sim salabim, cepat bisa berpartisipasi optimal terhadap pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini sekaligus mengindikasikan multiplier pertumbuhan ekonomi 2010 lebih mengandalkan sumber pertumbuhan dalam negeri (sama dengan 2009), konsumsi rumah tangga, dan investasi.

Untuk investasi, selain tetap mendorong PMDN, untuk mencapai pertumbuhan juga dibutuhkan PMA. Untuk PMA murni agak sulit karena pertimbangan kondisi ekonomi dunia belum pulih, tetapi investasi tandem antara pengusaha lokal dan pengusaha asing sangat memungkinkan sebagai bentuk distribusi risiko. Peningkatan kapasitas produksi dari perusahaan yang beroperasi juga sangat memungkinkan mendorong tumbuhnya investasi. Pertimbangan itu terutama melihat konsisten tumbuhnya konsumsi dalam negeri, terutama jika sifat investasi tersebut berorientasi pasar domestik. Apalagi dikabarkan ratusan pengusaha dalam negeri gerilya mencari sumber pendanaan investasi dari luar negeri, karena tingginya bunga kredit di dalam negeri. Upaya itu lumayan berhasil, sehingga meskipun devisa hasil ekspor terkikis dan aplikasi lalu lintas rezim devisa bebas tidak karuan, kurs rupiah tetap tegar dan tidak ada tekanan berarti terhadap cadangan devisa, di luar faktor capital inflow melalui pasar modal dan skenario taktis pembiayaan defisit APBN.

Penulis menduga, belanja RAPBN 2010 naik tipis hanya sekitar Rp 4 triliun dibandingkan APBN-P 2009 terkait dengan topik perkiraan membaiknya perekonomian dunia, tetap diberikannya stimulus terbatas, mengurangi rasio utang terhadap PDB dalam jangka menengah, memperkuat basis public service dibandingkan dengan public good karena ongkosnya lebih murah, memberi ruang gerak sektor riil dan BUMN untuk menata ulang kinerja usaha dan investasi (terlihat dari bagian laba BUMN yang turun). Tahun depan, taruhannya adalah efektivitas dan efisiensi anggaran, sehingga pengawasan juga harus lebih berkualitas.

Untuk konsumsi, kalau melihat asumsi tingkat inflasi 5%, peranannya dalam pertumbuhan ekonomi tidak akan jauh berbeda dibandingkan dengan tahun ini. Tentu kita berharap agar harga minyak dunia bisa stabil dan tidak ada tekanan yang berarti terhadap produksi komoditas bahan makanan. Sebab dampak produksi komoditas pertanian dan perkebunan, terhadap tingkat inflasi cukup dominan. Cukup disayangkan, subsidi pupuk 2009 (APBN-P) mencapai Rp 18,4 triliun, pada 2010 (RAPBN) tinggal Rp 11,2 triliun. Akan tetapi, mudah-mudahan penurunan subsidi pupuk ini bisa diimbangi dengan kenaikan subsidi benih dan subsidi bunga kredit program (khususnya terkait rumah tangga produksi pertanian).

Konsumsi layak diandalkan sebagai stimulasi pertumbuhan. Fakta menunjukkan, pangsa rata-rata konsumsi rumah tangga dalam PDB meningkat. Pada 1988-1997 pangsanya rata-rata 58%, tetapi pada 1998-2008 rata-rata pangsa konsumsi dalam PDB meningkat hingga 64%. Sejumlah analisis mengatakan, kenaikan ini menunjukkan adanya kenaikan ukuran pasar secara permanen. Pola ini dikenal dalam makro ekonomi sebagai domestic-demand led growth. Bisa dikatakan, pasar dalam negeri kita menggiurkan, tinggal bagaimana kita memanfaatkan dan mengelolanya. Inilah satu di antara dua alasan yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih positif dibandingkan dengan banyak negara tetangga. Di sisi lain, upaya menjaga permintaan domestik tetap berpartisipasi penuh menopang pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan upah.

Selanjutnya, SBI tiga bulan rata-rata dipatok 6,5%. Ini sejalan dengan tingkat inflasi yang diasumsikan stabil di kisaran 5%. Trend tingkat bunga SBI mengikuti tingkat inflasi, mudah-mudahan cerita bunga intermediasi juga mengikuti pola ini. Jika tingkat bunga intermediasi mengikuti pola ini dan asumsi inflasi mendekati kenyataan, konsumsi domestik dan investasi langsung akan semakin perkasa.

Untuk urusan harga minyak dunia dan produksi minyak dalam negeri, pemerintah mengambil skenario optimis. Harga minyak dunia tahun depan diasumsikan 60 dolar AS/barel. Akurasi hipotesis yang diharapkan dari asumsi ini, kita berharap ekonomi dunia pulih tetapi tidak drastis meningkatkan konsumsi minyak dunia. Padahal kita tahu sama tahu, untuk urusan harga minyak variabelnya yang mempengaruhinya cukup banyak. Dalam hal asumsi lifting minyak kita berharap bisa konsisten dengan asumsi, sebab sangat memungkinkan untuk itu, bahkan bisa lebih besar. ***

Penulis, dosen FE Unpas dan STIE Ekuitas, serta peneliti ISEI Bandung Koordinator Jabar.

Penulis:

Back

 

 

PIKIRAN RAKYAT :

JUM’AT ( PAHING ) 7 AGUSTUS 2009

16 SABAN 1430 H

REWAH 1942