Mahalnya Biaya di PTN Menyebabkan Naiknya Pendaftar ke PTS

BANDUNG, (PR).-
Tingginya uang masuk di program studi (prodi) prospektif perguruan tinggi negeri (PTN), dinilai turut menyebabkan meningkatnya jumlah pendaftar di perguruan tinggi swasta (PTS) tahun ini. Namun, peningkatan jumlah pendaftar hanya terjadi di PTS yang mapan.

“Masyarakat semakin rasional dalam memilih tempat kuliah. Mereka mempertimbangkan biaya tetapi tetap memikirkan kualitas,” ujar Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Jawa Barat dan Banten Didi Turmudzi di Bandung, Minggu (6/9). Naiknya uang masuk prodi strategis di sejumlah PTN, menurut dia, membuat masyarakat memilih PTS dengan kualitas yang relatif sama dengan PTN tadi.

“Sekarang sudah tidak ada lagi PTN dan PTS. Yang membedakan hanyalah akreditasinya,” ujarnya. PTS dengan akreditasi A, kata dia, bisa dipastikan menerima pendaftar yang tidak bisa mendaftar ke PTN karena tingginya uang masuk. “Calon mahasiswa justru diuntungkan karena dari sisi fasilitas dan kurikulum, PTS tadi sudah bagus. Di sisi lain, dia tidak harus membayar semahal di PTN,” ujar Rektor Universitas Pasundan (Unpas) Bandung itu.

Lebih tingginya uang masuk di prodi prospektif PTN daripada PTS, contohnya terjadi di ekonomi manajemen dan kedokteran. Mahasiswa jurusan ekonomi manajemen melalui jalur khusus salah satu PTN di Kota Bandung, harus membayar Rp 25 juta sebagai uang masuk. Sementara di Unpas, Rp 20 juta sudah mencakup biaya kuliah hingga meraih gelar S-1. Begitu juga yang terjadi di fakultas kedokteran.

Namun, Didi mencatat kenaikan jumlah pendaftar hanya terjadi di PTS dengan akreditasi minimal B. Dari 474 anggota Aptisi, PTS yang termasuk kategori mapan adalah dua puluh persennya atau sekitar 95 PTS.

Ketua Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta Indonesia Jawa Barat Sali Iskandar menuturkan, untuk PTS dengan akreditasi C atau D, jumlah pendaftarnya pun menyesuaikan kualitas PTS tersebut. Namun, jumlah pendaftar PTS pun, menurut dia, juga dipengaruhi oleh daya dukung industri prodi.

“Untuk prodi teknik mesin misalnya, karena sektor industri sedang lesu, maka cenderung mengikuti. Makanya kalau akreditasinya kurang bagus dan memiliki prodi yang sedang lesu, jumlah pendaftarnya semakin menurun,” katanya. (A-167)***

Penulis:

Back

Pikiran Rakyat  : 07 September 2009