Label Bernama “World Class University”

Berbicara mengenai kualitas dan daya saing bangsa, Indonesia baru menempati urutan ke-42 dunia, masih di bawah beberapa negara Asia lain yang notabene sama-sama negara berkembang. Lebih jauh, indeks pembangunan manusia (IPM) negeri ini berada di posisi 111 dari 182 negara. Masih kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga Malaysia yang berada di urutan ke-66 dan Thailand di urutan ke-87.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, ada tiga komponen utama untuk meningkatkan daya saing suatu bangsa, realitas kualitas sumber daya manusia (SDM), kualitas dan peran perguruan tinggi, serta upaya strategis yang dilakukan pemangku kebijakan untuk meningkatkan daya saing bangsa. “Ini adalah tiga substansi yang harus diperdalam demi meningkatkan daya saing bangsa,” ujarnya di Bandung beberapa waktu lalu.

Muhaimin mengatakan, perguruan tinggi harus dapat memainkan perannya sebagai salah satu instrumen penting untuk mendorong daya saing bangsa di level nasional dan internasional. Perguruan tinggi di negara ini harus didorong untuk memiliki kualitas internasional. Sampai 2008, sekitar dua ratus perguruan tinggi terbaik masih didominasi Jepang dan Cina.

Terlepas dari harapan Muhaimin agar perguruan tinggi menjadi instrumen untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia, Depdiknas memang memiliki target tersendiri agar perguruan tinggi di Indonesia dapat bersaing dengan perguruan tinggi lain di dunia. Terobosan yang dilakukan adalah mendorong perguruan tinggi yang ada untuk memenuhi kualifikasi world class university (WCU). Langkah konkret yang dilakukan belum lama ini, Ditjen Dikti memberi bantuan pembiayaan Evaluation dan Annual License Fee bagi empat belas perguruan tinggi se-Indonesia untuk mengejar kualifikasi WCU versi The QS World University Ranking. Dari empat belas perguruan tinggi tersebut, Jabar diwakili tiga perguruan tinggi negeri, Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), serta Universitas Pasundan (Unpas) sebagai wakil perguruan tinggi swasta tanah Priangan.

Sementara sepuluh wakil lain di luar Jabar adalah Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, Institut Sepuluh November, Universitas Diponegoro, Universitas Hasanuddin, Universitas Gunadarma, Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Syiah Kuala, Universitas Muhammadiyah Malang, dan Universitas Negeri Malang. Selain itu, beberapa perguruan tinggi juga ikut serta dalam penilaian dengan pembiayaan mandiri.

Hasil yang dicapai memang cukup membanggakan. Enam perguruan tinggi masuk jajaran seratus besar perguruan tinggi terbaik tingkat Asia 2009. Universitas Gadjah Mada meraih peringkat tertinggi ke-24, diikuti oleh Universitas Indonesia di peringkat ke-28, ITB ke-38, Universitas Airlangga ke-87, IPN ke-90, dan Undip peringkat ke-95.

Kendati demikian, perlu disadari bahwa tidak semua perguruan tinggi sanggup untuk memenuhi kualifikasi WCU. Kendala utama yang dihadapi tentunya masalah pembiayaan. Betapa tidak, syarat untuk menjadi sebuah WCU tidaklah ringan. Untuk versi The QS World University Ranking misalnya, ada enam bobot penilaian yang harus dipenuhi, academic peer review dengan bobot nilai 40 persen, employer review (10 persen), rasio mahasiswa dalam satu fakultas (20 persen), performa penelitian (20 persen), proporsi fakultas internasional (5 persen), dan proporsi mahasiswa asing (5 persen).

Untuk academic peer review dan employer review dilakukan dengan survei online oleh pihak QS. Namun untuk bisa dikenal oleh responden di seluruh dunia, suatu perguruan tinggi tentunya harus menjalankan promosi dengan biaya yang tidak sedikit. Belum lagi untuk membuat satu fakultas internasional dan menarik mahasiswa asing.

Dalam pandangan Ketua Majelis Rektor Indonesia Djoko Santoso, WCU adalah universitas yang mampu menghadapi perubahan zaman. Artinya, yang harus ditekankan di sini adalah perguruan tinggi mampu menafsirkan tantangan masa depan. “Akan tetapi kan di negara kita orang bersekolah kebanyakan cuma untuk mencari ijazah. Oleh karena itu, sebagian besar perguruan tinggi di sini pun bertujuan hanya memberikan ijazah, bukan memenuhi kapasitas keahlian mahasiswanya,” tuturnya.

Berkaitan dengan itu, Djoko belum bisa memastikan kesiapan perguruan tinggi di Indonesia dalam mencapai world class university.

Namun, Djoko melanjutkan, kesiapan menghadapi era global lebih ditunjukkan oleh perguruan tinggi negeri daripada perguruan tinggi swasta. Alasannya, PTN dinilai lebih tua sehingga secara tidak langsung diartikan mampu bertahan dari dinamika zaman selama ini. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan PTS pun ada yang siap seperti UII (Universitas Islam Indonesia Yogyakarta). “Umur PTS itu pun sudah tua dan tetap mampu bertahan,” ucapnya.

Koordinator Kopertis Wilayah IV Jabar dan Banten Abdul Hakim Halim sependapat dengan Djoko. Ia merasa pencapaian WCU tidak harus membedakan status PTN atau PTS. “Jika kita lihat, dari 82 PTN yang ada hanya tiga yang masuk peringkat 500 besar dunia. Kita lihat juga PTS, toh banyak juga yang masuk jajaran 500 besar,” kata Hakim menjelaskan.

Sementara dalam pandangan Wakil Ketua Asosiasi Peguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Pusat dan Ketua Bidang Organisasi Aptisi Wilayah IV Jabar-Banten M. Budi Djatmiko, kebijakan untuk arah kualifikasi menuju WCU memang lebih baik dibebankan kepada perguruan tinggi negeri. Untuk meraih kualifikasi WCU membutuhkan dana besar, sedangkan dana perguruan tinggi swasta tidak semuanya besar. Terlebih dengan tantangan yang semakin berat di kalangan pengelola PTS pada tahun-tahun mendatang.

Menanggapi persoalan itu, Hakim menilai, PTS dengan pembiayaan kurang besar memang tidak perlu fokus mengejar status WCU. Yang penting PTS tersebut memanfaatkan dana yang ada untuk terus meningkatkan kualitas. “Percuma jika meraih status WCU tetapi tidak bisa memberikan layanan terbaik bagi masyarakat dan toh sebagian besar penghuni PTS adalah mahasiswa lokal,” katanya.

Di mata Koordinator Koordinasi Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta (Kopertais) Wilayah IV Nanat Fatah Natsir, kualifikasi WCU memang perlu ditargetkan, tetapi bukan sesuatu yang mendesak. Yang penting sekarang adalah menjadikan perguruan tinggi sebagai penghasil inovasi dari penelitian yang dapat diaplikasikan di masyarakat. “Jika belum mampu membiayai penelitian internasional untuk memenuhi kualifikasi WCU, lakukan saja penelitian lokal,” kata Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD) ini.

Menurut dia, UIN SGD baru menargetkan kualifikasi WCU pada 2018 mendatang. “Tahun 2004-2011 target kami adalah mengembangkan diri guna menjadi salah satu perguruan tinggi unggulan yang kompetitif. Tahun 2011-2018 kami mengarah ke research university, setelah itu baru mengejar kualifikasi WCU,” tuturnya. (Handri/Amaliya/Nuryani/”PR”)***

Penulis:

Back

PIKIRAN RAKYAT

JUMAT ( PON ) 11 DESEMBER 2009

24 ZULHIJAH 1430 H

RAYAGUNG 1942