Mahasiswa Menggali Ilmu tak Hanya dari Buku Cetak Perpustakaan

Ditargetkan Penuhi Standar Internasional

 

 BANDUNG, (PR).- Di tengah menurunnya minat baca masyarakat pada umumnya, minat baca kalangan mahasiswa sebenarnya masih tinggi. Dalam hal ini minat mahasiswa menggali ilmu dari bacaan, tidak harus selalu diartikan membaca buku atau literatur cetak lainnya. Namun, bisa juga dilihat dari minat baca mereka terhadap literatur lain seperti media elektronik, media digital, dan jaringan situs global. Kepala Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia Luki Wijayanti mengatakan, dengan perkembangan teknologi dan hadirnya konvergensi media, tidak berarti menurunkan minat baca mahasiswa. “Membaca itu tidak dari buku saja, tetapi bisa juga dengan mengakses internet, membaca koran. Bahkan, di televisi selain tontonan berita, ada juga bacaan informasi penting yang bisa diperoleh,” ujarnya di sela-sela acara Sampoerna Corner: Summit Meeting on “Evaluation and Planning Program 2010”, di Jln. Dr. Djunjunan, Bandung, Rabu (23/2). Hadirnya fasilitas internet dan berbagai kemudahan mengakses informasi di era perkembangan teknologi, sebenarnya suatu kemajuan yang dapat digunakan untuk merangsang minat baca di kalangan masyarakat umum. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bagaimana caranya seseorang bisa menyaring informasi dari media apa pun menjadi suatu yang berguna bagi dirinya. “Sudah seharusnya mahasiswa sekarang bisa lebih menanamkan minat baca yang tinggi, karena dengan membaca, karakter dalam diri itu bisa terbentuk,” kata Luki yang juga Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi itu. Luki menjelaskan, mahasiswa harus bisa memanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh kampus seperti perpustakaan. “Perpustakaan adalah hak mahasiswa dan lembaga pendidikan berkewajiban memfasilitasi mahasiswa dengan perpustakaan,” katanya. Perpustakaan perguruan tinggi kata Luki, dalam dekade millennia memiliki tantangan kerja yang lebih berat, menyesuaikan dengan kebutuhan civitas academica. Tidak saja dari sisi resources, tetapi teknologi informasi yang harus mampu menjawab semua kebutuhan di tengah banjirnya arus informasi global. “Standar idealnya harus memiliki sejuta eksemplar pustaka buku dan harus tersedia satu unit komputer untuk sepuluh pengunjung perpustakaan. Selain itu, harus ditunjang juga oleh sistem basis data yang terkomputerisasi,” kata Luki. Luki menegaskan, pihaknya saat ini menargetkan perpustakaan di tujuh perguruan tinggi se-Indonesia, untuk bisa memenuhi standar internasional dalam waktu dekat. Ketujuh perguruan tinggi tersebut adalah Universitas Sriwijaya Palembang, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjadjaran Bandung, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Universitas Diponegoro Semarang, Institut Teknologi 10 November Surabaya, dan Universitas Brawijaya Malang. (A-178)*** Penulis: Pikiran Rakyat 25 Februari 2010 ( hari Kamis ) Back