Ekonomi Global 2010, Melangkah

Optimistis

Oleh COKI AHMAD SYAHWIER

KRISIS ekonomi global memang belum selesai secara tuntas. Sejumlah indikator ekonomi dunia termasuk pertumbuhan, belum menunjukkan perubahan yang drastis. Bahkan, beberapa negara merevisi kembali target-target ekonomi yang telah dicanangkan sebelumnya. Ekspektasi terhadap pemulihan ekonomi dunia masih rendah. Para investor cenderung menahan aktivitas, untuk melepas dana investasi jangka panjang. Mereka cenderung menunggu dan melihat (wait and see), terhadap pergerakan indeks ekonomi dunia ke depan. Akibatnya, denyut dinamika pasar dunia berdetak lemah di tengah kepanikan yang tak kunjung juga reda.

Inikah pertanda krisis ekonomi dunia masih terus berlanjut? Atau sebaliknya, adakah rasa optimisme membumbung setinggi harapan, atas kembali bertumbuhnya ekonomi dunia? Apabila ditengok ke belakang, sebenarnya ekonomi dunia terkonsentrasi di kawasan pasar Eropa dan sebagian kawasan Asia. Pergerakan pasar, sangat dipengaruhi faktor permintaan hasil industri, sedangkan persediaan dan distribusi barang mengalami stagnasi yang berlebihan. Sementara itu sektor keuangan dan perbankan mengalami pelemahan daya untuk menyalurkan dana investasi. Akibatnya, kapasitas ekonomi menyusut dari potensi ekonomi yang sebenarnya.

Berdasarkan analisis sejumlah institusi, sektor keuangan merupakan biang keladi terciptanya kemunduran ekonomi dunia. Sektor ini berupaya keluar dari cengkraman kesulitan likuididasi dan kemacetan kredit bermasalah. Proses konsolidasi internal melalui pendekatan moneter terkadang kurang lazim dan terlalu berhati-hati, seperti memberlakukan tingkat suku bunga 0 persen dan pembatasan penyaluran kredit.

Berkurangnya kontribusi sektor keuangan, turut memperparah lini produksi dalam soal kapitalisasi bahan baku dan energi. Padahal, proses pendinginan sektor keuangan dan perbankan yang sempat panas di Amerika Serikat dan bank-bank terkemuka di Eropa sudah berjalan dua tahun. Namun, pertumbuhan produksi industri dunia belum beranjak dari terpaan krisis. Pertumbuhan industri masih di bawah bayang-bayang pertumbuhan industri periode 2005-2006. Penurunan produksi juga merupakan dampak semburan balik pendapatan penduduk dunia yang turun drastis akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) berlebihan.

Penurunan produksi, mencerminkan kapitalisasi sektor riil berlangsung lambat dan menjemukan. Keadaan ini pertanda pengangguran besar-besaran telah terjadi, terutama pada pemanfaatan faktor-faktor produksi. Dampak sistemik tersebut membuat perekonomian dunia benar-benar berada di titik terendah. Oleh karena itu, banyak negara melakukan sejumlah kebijakan ekonomi dalam rangka melakukan counter cyclical dan program stimulus.

Namun, pada kenyataannya efektivitas kebijakan belum mampu mengangkat perekonomian global untuk bertumbuh dan berkembang. Pertumbuhan masih berada di kisaran 2 persen-3 persen. Tampaknya, untuk mencapai pertumbuhan sebaik tiga hingga empat tahun lalu diperlukan suatu big push policy. Kebijakan semacam ini dimaksudkan, agar pasar mampu mendinamisasi sektor industri hingga mencapai  performans yang menciptakan efek sebar terhadap tumbuhnya sektor-sektor bisnis dunia.

Sektor bisnis internasional ini, diharapkan dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan (engine of growth), terutama dalam pemanfaatan faktor-faktor produksi yang menganggur. Selanjutnya, sektor bisnis internasional dapat menjadi batu loncatan dalam membentuk keseimbangan ekonomi dunia, yang memengaruhi seluruh kawasan perdagangan dunia. Keseimbangan ekonomi diartikan sebagai wahana perekonomian, yang mampu meleburkan semua kepentingan perekonomian setiap negara. Tanpa semua itu, sulit untuk menyeimbangkan pasar dunia. Pasar yang tidak seimbang akan berpotensi menurunkan permintaan dan penawaran produksi. Apalagi, isu-isu pemanasan global dan perubahan iklim  setiap saat, terus mengintai dan mengancam kelangsungan persediaan dan distribusi produksi.

Oleh karena itu, konsetelasi ekonomi dunia harus benar-benar terpelihara melalui seperangkat landasan berupa kesepakatan-kesepakatan hitam di atas putih. Dengan demikian, perekonomian dunia mampu menciptakan suatu mainstream yang kokoh dan kuat , khususnya dalam mengantisipasi gejolak pasar. Cara lain adalah memperkuat komitmen bersama, sebagaimana dikumandangkan oleh pertemuan pemimpin negara berpengaruh G-20 di Pittsburgh AS 24-25 September 2009. Terbersit para pemimpin kelompok negara G-20, sebenarnya menginginkan adanya kesepakatan yang kongkret yang mengandung tujuan bersama, untuk menghapus ketimpangan perdagangan dunia. 

Pemulihan

Berdasarkan sumber-sumber pemberitaan internasional, pemulihan ekonomi dunia sudah menunjukkan sinyal pergerakan yang positif. Para pemimpin kelompok G-20 yang menguasai 80 persen dari Gross Domestic Product (GDP) menatap ekonomi 2010, telah berada pada lintasan yang optimistis. Pemulihan ekonomi terlihat pada meningkatnya intensitas transaksi ekspor dan impor antarnegara, penguatan indeks harga saham, stabilitas nilai tukar negara-negara berpengaruh, dan indeks kepercayaan konsumen yang masih positif.

Pemulihan ekonomi dunia juga terlihat dari segi volume produksi, yang tumbuh signifikan terutama produksi bagi kebutuhan pangan dan industri. Ekspansi swasta pun mulai merambat naik, meskipun dalam kapasitas ruang terbatas.

Akan tetapi, para pemimpin G-20 menyadari perlunya setiap negara menjaga bersama-sama momentum pemulihan tersebut. Sejalan dengan  keinginan bersama itu, para pemimpin G-20 akan membangun suatu aliansi kebijakan ekonomi. Terutama, sinergitas kebijakan yang mendorong perekonomian global bertumbuh (global growth). Sinergitas ditopang dengan keterikatan regulasi dengan dukungan sektor keuangan, yang ketat dan berhati-hati (financial sector prudently). Meskipun G-20 memberi sinyal ekonomi global membaik, bukan berarti risiko terhadap perekonomian setiap negara akan menurun. Dibutuhkan kejelian dalam mengikuti pergerakan dan perubahan perekonomian 2010.

Kewaspadaan

Di tengah pergerakan ke arah pemulihan, setiap negara tidak boleh lengah. Banyak negara berlomba-lomba meningkatkan pengeluaran anggaran negaranya, guna menghadapi kemerosotan kualitas dan kapasitas ekonomi. Sedangkan di sektor moneter, masing-masing negara di dunia cenderung menurunkan suku bunga dan menciptakan likuiditas yang lebih besar. Kebijakan-kebijakan tersebut secara teoritis, tentu berpotensi menaikkan inflasi terutama dalam jangka menengah pada 2010.

Faktor risiko lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya penawaran surat utang negara (SUN). Penerbitan SUN merupakan langkah dalam menutupi defisit anggaran negara, yang terkuras oleh kebijakan stimulus fiskal. Akan tetapi, penerbitan SUN yang tidak rasional dan realistis juga berpotensi meningkatnya kewajiban negara. Keadaan ini berpeluang besar menciptakan kondisi crowding out. Faktor risiko dari segi fiskal ini akan semakin menguat, jika harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan berfluktuatif. Sebab, kenaikan harga minyak mentah dunia akan memengaruhi alokasi pengeluaran dan transfer of payment berupa subsidi.

Ancaman yang tidak kecil pengaruhnya juga datang dari dampak pemberlakuan Free Trade Area (FTA). Penerapan tarif impor 0 persen menjadi penghambat yang sangat mampu menohok industri dalam negeri. Sebab, bagi negara-negara berkembang yang pemerintahnya kurang atraktif dan proaktif melindungi industri dalam negerinya, tentu akan menerima pil pahit berupa menurunnya produksi. Banyak negara memberikan insentif besar-besaran kepada pelaku industrinya, seperti penghapusan pajak, kemudahan perizinan, mempromosikan produk unggulan, peningkatan penggunaan teknologi/inovasi, dan kemudahan dalam aksesibilitas permodalan.

Fenomena ekonomi dunia memperlihatkan betapa perubahan kerap terjadi mengikuti arah pasar yang dinamis. Setiap waktu perubahan bisa saja terjadi, karena adanya goncangan. Diperkirakan perubahan juga menyebabkan perekonomian berada pada performa stabilitasnya. Untuk itu, perekonomian setiap negara dipersyaratkan untuk mampu mengimbangi perubahan dengan kebijakan ekonomi berdaya counter cyclical.

Kebijakan ekspansi fiskal dan moneter merupakan rangkaian utama dalam rangka menstimulasi pasar bisnis internasional. Dampak sistemik yang diharapkan adalah intensitas volume produksi meningkat dan pengangguran diharapkan menurun. Dengan demikian, pemulihan ekonomi dunia benar-benar berkontribusi bagi bertumbuhnya perekonomian global. Sebab, optimisme itu memang masih ada!***

Penulis, dosen teori ekonomi dan bisnis internasional, Wakil Ketua DPE Kota Bandung, Sekretaris LP3E Kadin Jabar, salah seorang Ketua Bidang ISEI Bandung Koordinator Jabar .

Penulis:

Back

© 2007 – Pikiran Rakyat Bandung  Senin 8 Maret 2010