Konsumen Masih Optimistis

MESKIPUN gejolak politik di parlemen mencapai eskalasi puncak, tetapi efeknya tidak begitu besar memengaruhi spektrum pasar domestik. Hampir tidak ada faktor dominan yang dapat melemahkan optimisme konsumen terhadap kondisi perekonomian saat ini. Konsumen menilai pemerintah cukup mampu mengendalikan dinamika pasar, terutama berkenaan dengan indikasi kenaikan harga barang kebutuhan pokok.

Sebelumnya memang terdapat kekhawatiran konsumen atas kenaikan harga beras diakhir bulan Oktober atau awal Desember 2009. Kekhawatiran terkait dengan rencana pemerintah menaikkan harga pokok pembelian (HPP) gabah dan beras. Akan tetapi, kenaikan harga beras rata-rata 10 persen tidak terlalu menciptakan pengaruh negatif bagi harga-harga komoditas lainnya. Jadi, derajat keyakinan konsumen terkesan masih positif.

Berdasarkan laporan survei konsumen Bank Indonesia (BI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2009 berada pada level optimis meskipun sedikit terkoreksi 2,3 poin dari bulan sebelumnya. Setidaknya terdapat tiga faktor yang membuat IKK terkoreksi. Pertama, ekspektasi konsumen sangat cepat berubah bila terdapat rumor mengenai perekonomian masa akan datang. Kedua, faktor kebijakan pemerintah yang mengaitkan pada kemungkinan menaikkan harga komoditas berkategori utilitas, seperti listrik, gas elpiji, dan air bersih. Ketiga, faktor bencana alam. Sementara faktor-faktor lain, seperti nilai tukar rupiah, ketersediaan pasokan barang dan stabilitas fiskal, kemampuan membiayai impor, konsumen tidak terlalu terpengaruh.

Walaupun demikian, tetap saja memerlukan kewaspadaan di setiap waktu. Tidak ada satu alasan pun yang menjamin perekonomian selalu dalam kondisi stabil. Artinya, perekonomian sewaktu-waktu dapat saja berubah.

Pengalaman ini sudah dirasakan ketika perekonomian Amerika Serikat terpuruk tiga tahun yang lalu serta meningkatnya harga minyak mentah dunia yang melampaui asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Faktor eksternal tersebut dapat berpotensi jadi risiko yang sewaktu-waktu terjadi. Artinya, optimisme konsumen harus disikapi dengan hati-hati.

Beberapa kondisi yang dapat mengantisipasi risiko perekonomian adalah pemerintah tidak memberikan suatu informasi yang tidak kondusif bagi pasar, seperti misalnya tarik ulur menaikkan kenaikan tarif dasar listrik.

Pemerintah sebaiknya dapat memastikan kondisi perekonomian yang stabil dengan kompensasi yang jelas bagi terciptanya kesempatan kerja. Di samping itu, pemerintah dapat memberikan suatu jaminan semakin sederhananya jalur birokrasi berkenaan dengan kemudahan untuk berinvestasi dan membuat suatu skenario yang dapat memastikan bertumbuh dan berkembangnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). (Coki Ahmad Syahwier, ekonom ISEI Bandung)***

Penulis:  Pikiran Rakyat : Senin 8 Maret 2010