Penghapusan SBI Satu Bulan,

Hambat Sektor Riil

BANDUNG, (PR).-
Penghapusan SBI satu bulan yang dilakukan Bank Indonesia beberapa waktu lalu dinilai akan mengganggu pertumbuhan sektor riil. Dengan demikian, keinginan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan dunia usaha dikhawatirkan tidak berjalan sesuai dengan harapan.

Hal itu dikemukakan pengamat ekonomi Laboratorium Manajemen Fakultas Ekonomi (LM FE) Unpad Aldrin Herawany, di Bandung, Rabu (7/4).

Aldrin mengatakan, pada prinsipnya penghapusan tersebut dimaksudkan BI untuk mendorong peningkatan intermediasi bank. Dana yang awalnya digunakan untuk SBI diharapkan dengan penghapusan menjadi disalurkan ke sektor riil melalui penyaluran kredit.

Hanya pada praktiknya, tujuan itu tidak terealisasi dengan baik. Justru dana itu beralih kepada SBI yang lebih panjang, yakni tiga bulan dan selebihnya. Akibatnya, dana yang mengendap di SBI menjadi lebih lama karena SBI yang tersedia saat ini minimal tiga bulan.

“Ini tentunya akan menganggu intermediasi,” ujarnya.

Aldrin menuturkan, kondisi itu tercipta karena kemauan masing-masing bank. BI, menurut dia, tidak dapat mengubah kebiasaan itu. Hanya, ia menilai, semestinya BI lebih memihak kepada pengembangan sektor riil.

Sementara pengamat ekonomi dari ISEI Bandung, Acuvarta Kartabi mengatakan, melalui perubahan itu pemerintah ingin mengalirkan likuiditas pasar ke pembelian surat utang pemerintah, korporasi, dan pasar modal. Pemerintah berupaya mengatur uang beredar dari jangka pendek ke jangka menengah.

Kebijakan itu, menurut dia, berdampak pada kebijakan moneter karena inflasi relatif stabil sehingga likuiditas harus di sebar. “Mungkin, BI melihat SBI tidak terlalu efektif,” ujarnya.

Acu mengungkapkan, perubahan itu juga akan berdampak ke sektor riil. Namun, penggerakkan sektor riil tergantung pada kebijakan yang diambil perbankan. (A-188)***

Penulis: Acuviarta Kartabi ( Pikiran Rakyat , Rabu 7 April 2010 )

Back