PERSAINGAN TPT MAKIN SENGIT
 

 

Monday, 19 April 2010
BANDUNG(SI) – Persaingan industri tekstil dalam negeri dipastikan semakin sengit jika rencana relokasi pabrik tekstil dan produk tekstil (TPT) asal China ke Indonesia dilakukan.Ekonom Universitas Pasundan (Unpas) Bandung Acuviarta Kartabi mengatakan, kendati rencana tersebut masih bersifat prematur, pemerintah dituntut mampu melakukan persiapan untuk melindungi industri tekstil lokal. ”Pemerintah harus melakukan penelaahan secara komprehensif khususnya terkait dampak persaingan usaha, meskipun rencana ini masih sangat prematur untuk disikapi positif, karena belum ada kejelasan rencana investasinya,” kata Acu kepada wartawan di Bandung kemarin.Meskipun rencana relokasi ini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, lanjut dia, pemerintah harus tanggap mengantisipasi kemungkinan dampak negatif yang akan diterima pelaku usaha lokal. Dia menjelaskan, relokasi ini juga memiliki dampak positif karena pelaku usaha dalam negeri bisa melakukan transfer teknologi,serta mampu menyerap tenaga kerja dalam dalam jumlah besar.

Sedikitnya 200.000 tenaga kerja diproyeksikan terserap pada program ini, meskipun pada kenyataannya sebagian besar pabrik TPT China merupakan industri padat modal bukan industri padat karya. Menurut dia, pemberlakukan ACFTA beberapa waktu lalu membuat industri tekstil lokal terpukul. Kondisi pelaku usaha sektor ini diprediksi akan semakin terpuruk dengan relokasi industri tersebut. Apalagi,jika tidak ada jaminan yang menghindarkan industri TPT China itu tidak mengambil pasar lokal.

Tetapi sisi positifnya,pelaku usaha tekstil dalam negeri akan terus terpacu untuk meningkatkan kualitas produksinya. Sebagai langkah antisipasi,lanjut dia, pemerintah diharapkan menyusun sebuah kesepakatan yang mengatur aturan main ketika proses industrialisasi berlangsung sebelum merealisasikan rencana tersebut. Kepala Badan Koordinasi, Promosi, danPenanamanModalDaerah (BKPPMD) Jawa Barat Agus Gustiar menambahkan,pihaknya berjanji akan memberikan perlindungan kepada pelaku usaha kecil yang diprediksi tergerus relokasi ini.

Dia menilai,selama ini program perlindungan bagi pengusaha lokal sudah berjalan, meskipun persaingan tetap diserahkan pada mekanisme pasar. Dia juga memberi garansi pemerintah tidak akan tinggal diam jika industri kecil menjadi korban relokasi tersebut. ”Motivasi China merelokasi pabrik TPT ini saya kira lebih karena kapasitas produksi yang sudah berlebih,” tambah dia. (irvan christianto)

  Penulis : Accuviarta  Kartabi   ( Harian Seputar Indonesia : Senin, 19 April 2010 )