Ketenagakerjaan

 Pengangguran di Jabar Menurun

 Selasa, 11 Mei 2010 | 11:39 WIB ( KOMPAS )

BANDUNG, KOMPAS – Jumlah penganggur di Provinsi Jawa Barat pada Februari 2010 tercatat 2,03 juta orang atau turun 226.000 orang dibandingkan dengan jumlah tahun lalu yang mencapai 2,25 juta orang. Hal ini didukung tingkat pengangguran terbuka perempuan yang menurun signifikan sekitar 2,16 persen, jauh di atas penurunan penganggur laki-laki yang hanya 0,8 persen.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jabar Lukman Ismail, Senin (10/5), mengatakan, secara keseluruhan, dari angkatan kerja di Jabar yang kini 19,21 juta jiwa, tingkat pengangguran terbuka mencapai 10,57 persen atau turun dari angka tahun lalu sebesar 11,85 persen.

Sementara penduduk Jabar yang bekerja pada Februari 2010 sebanyak 17,18 juta jiwa atau bertambah 0,39 juta jiwa dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang sebanyak 16,79 juta jiwa. “Dengan kondisi ini kami yakin target penambahan lapangan kerja Jabar sebanyak 400.000 orang di Jabar pada 2010 akan tercapai,” ujarnya.

Menariknya, penyerapan tenaga kerja terbesar masih didominasi sektor informal, yakni 64,4 persen. Hal ini, menurut Lukman, adalah cerminan minimnya kesempatan kerja di sektor formal. Akibatnya, masyarakat cenderung memilih sektor informal yang tidak membutuhkan tingkat pendidikan tinggi.

Berdasarkan data BPS, pertumbuhan penyerapan tenaga kerja terbesar tercatat di tiga sektor, yakni perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi, diikuti sektor pertanian dan industri. Sektor perdagangan, rumah makan, dan akomodasi menyerap 4,32 juta tenaga kerja (25,12 persen). Sektor pertanian menyerap 4,23 juta tenaga kerja (24,88 persen). Adapun sektor industri mempekerjakan 3,11 juta orang (18,11 persen).

Meski demikian, Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Jabar Sri Daty menerangkan, dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja pada Februari 2009 sebanyak 4,5 juta orang, penyerapan lapangan usaha pertanian pada 2010 justru turun signifikan, yaitu 270.000 orang. Ia menduga hal ini diakibatkan semakin meluasnya alih fungsi lahan dan menurunnya minat generasi muda menja di petani, terutama di sektor tanaman pangan.

Lebih teliti

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jabar Mustopa Djamaludin mengakui, permintaan tenaga kerja perempuan, terutama di sektor industri pengolahan, cukup besar. Sebab, pekerjaan industri hilir, terutama tekstil dan produk tekstil (TPT) serta elektronik, membutuhkan ketelitian tinggi. Ini biasanya menjadi kelebihan kaum perempuan.

Mustopa juga menegaskan, pihaknya terus berkoordinasi dengan kalangan industri untuk memetakan kebutuhan kualifikasi tenaga kerja. “Balai-balai latihan akan didesain menyesuaikan dengan kebutuhan pihak industri,” ujarnya.

Pengamat ekonomi Universitas Pasundan, Acuviarta Kartabi, menilai realisasi investasi langsung dan peningkatan jenis investasi padat karya dibutuhkan untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja sektor formal. Ia juga mengingatkan, ketenagakerjaan Jabar akan tertekan dampak perdagangan bebas ASEAN-China (ACFTA). (GRE)