Pemerintah Revitalisasi  

Industri Tahun 2011,  Disiapkan

Anggaran Rp 274,8 Miliar

JAKARTA, (PR).-
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sedikitnya menyiapkan alokasi anggaran untuk dana revitalisasi industri Rp 274,8 miliar pada 2011. Alokasi tersebut diberikan pada program revitalisasi industri yang menjadi prioritas nasional.

Industri yang dimaksudkan, antara lain industri pupuk, industri gula, pengembangan kluster industri berbasis pertanian oleochemical, pengembangan kluster industri berbasis migas dan kondensat, dan fasilitas pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK).

“Untuk revitalisasi industri lainnya sedang dihitung anggarannya untuk tahun 2011 akan ada alokasinya,” kata Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun di Jakarta, Selasa (8/6).

Alex memaparkan, alokasi anggaran revitalisasi industri pupuk Rp 232,8 miliar mencakup fasilitas pembangunan pabrik Rp 17,8 miliar, subsidi bunga untuk pembangunan pabrik Rp 210 miliar, dan pemetaan potensi bahan baku pupuk organik Rp 5 miliar. Sementara untuk revitalisasi industri gula memperoleh alokasi Rp 2 miliar untuk restrukturisasi permesinan tiga pabrik gula.

Selanjutnya, pengembangan kluster industri berbasis pertanian oleochemical mendapat alokasi Rp 13 miliar yang berbentuk fasilitas pengembangan kawasan industri berbasis kelapa sawit.

Pengembangan kluster industri berbasis migas dan kondensat terdiri atas Rp 5 miliar bagi kluster industri migas dan petrokimia, pengamanan bahan baku Rp 1 miliar, subsidi bunga Rp 1 miliar, insentif pengembangan kluster sektor petrokimia Rp 1 miliar, dan pembangunan center of excellence kluster industri petrokimia Rp 10 miliar. Kemudian, Rp 8,5 miliar untuk fasilitas pengembangan KEK.

Selain itu, juga terdapat sektor industri lainnya yang saat ini masuk dalam prioritas bidang perekonomian, tetapi belum final rencana alokasi anggarannya. Di antaranya, revitalisasi industri material dasar logam, revitalisasi industri kimia hilir, seperti pembangunan semen Papua (satu packing plant), revitalisasi industri garam.

Kemudian, revitalisasi industri tekstil dan aneka, pengembangan kluster industri pengolahan kelapa, kakao, dan gula, pengembangan kluster industri karet, furnitur, dan kertas, pengembangan industri bahan bakar nabati dan revitalisasi industri hasil laut dan lain-lain.

Dihubungi secara terpisah, pengamat ekonomi Acuviarta Kartabi mengatakan, langkah tersebut memang sudah semestinya diambil pemerintah. Pada faktanya, tidak semua sektor industri di Indonesia memiliki kekuatan. Hanya, ia berharap revitalisasi yang dilakukan tidak saja menyangkut aspek strategis dari sisi kebutuhan domestik, tetapi juga pada yang berorientasi ekspor.

“Revitalisasi pun harus mencakup seluruh aspek, baik aspek nonteknis atau produksi maupun aspek administrasi dan birokrasi. Bagaimanapun, aspek administrasi dan birokrasi memiliki pengaruh dalam meningkatkan daya saing produk kita,” katanya.

Acuviarta menambahkan, agar revitalisasi tersebut tepat sasaran, program tersebut harus memiliki blue print yang baik. Dengan demikian, pencapaian yang dimaksudkan menjadi terukur. Ia pun berharap revitalisasi yang dilakukan juga menjangkau sektor UMKM. “Ke depan, revitalisasi mendorong industri penyedia bahan baku dan barang antara sehingga ketergantungan terhadap kandungan impor secara bertahap dapat berkurang,” ujarnya. (Dtc/A-188)***

Penulis: Pikiran Rakyat :Rabu ,09 Juni 2010  ( Acuviarta Kartabi )

Back