Mengelola Pendapatan

Oleh ACUVIARTA KARTABI

USAHA meningkatkan pendapatan masyarakat harus terus didorong. Jika kenaikan pendapatan nominal klop dengan stabilitas inflasi, dari situ daya beli masyarakat bisa meningkat. Jika daya beli meningkat, nyaris tak terhitung sisi positifnya. Porsi konsumsi dalam pendapatan, misalnya, akan meningkat. Begitu juga tabungan serta investasi dan seterusnya. Dari sisi ekonomi ketenagakerjaan, naiknya upah tergantung pada perubahan produktivitas tenaga kerja. Strategi meningkatkan produktivitas merupakan pekerjaan yang tidak mudah. Dukungan pelaku usaha, pemerintah, dan pekerja, ikut menentukan kualitas tenaga kerja, teknologi produksi, dan dukungan input lainnya.

Melihat sejenak kondisi di dalam negeri, tarik-menarik rencana kenaikan harga-harga komoditas yang diatur pemerintah, seperti tarif dasar listrik (TDL), elpiji, tarif tol, dan harga bahan bakar minyak (BBM), inginnya tidak selalu menuai kontroversi. Hal ini dapat terjadi jika keputusan tersebut dijamin tidak bersinggungan dengan kemungkinan melorotnya daya beli masyarakat. Contohnya di negara-negara maju. Perubahan harga-harga terlihat sangat minim resistensi atau penolakan. Kuncinya karena pendapatan masyarakatnya sudah tinggi. Jika pendapatan masyarakat tinggi, pelayanan/fasilitas publik yang diberikan pemerintah maksimal, ketimpangan pendapatan juga rendah, dan stabilitas inflasi lebih terkendali, dijamin tidak ada resistensi.

Kondisi di Indonesia, kinerja peningkatan pendapatan masih sangat minim. Wajar jika terjadi kenaikan harga-harga, masyarakat sering meresponsnya dengan meningkatkan pinjaman (contohnya). Diperkirakan setengah PNS sejumlah daerah dikabarkan sudah menjaminkan SK pengangkatannya di bank. Bisnis kredit konsumsi telah menjadi favorit bisnis kredit perbankan. Tenaga konsumsi yang tinggi menjadi jaminan sentimen positif bagi perekonomian. Ini satu penyebab kenapa pertumbuhan ekonomi masih positif tahun lalu, meskipun banyak negara lain sebaliknya. Karena hal itu, sektor riil masih bisa tetap tumbuh dan perdagangan maju pesat. Menjamurnya pusat-pusat perbelanjaan bisa dijadikan indikatornya. Intinya, peningkatan konsumsi memang pantas terus didorong. Kondisi idealnya inginnya sejalan dengan perubahan tingkat pendapatan masyarakat. Respons lain terhadap kenaikan konsumsi juga bisa meningkatkan permintaan komoditas/produk domestik. Jika itu terjadi dampaknya lebih positif lagi, eskalasi kemajuan akan jauh lebih berbobot.

Ditelusuri dari data pembentuk PDRB Jabar dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi rumah tangga masih tak tergoyahkan. Kontribusi konsumsi terhadap LPE terlihat selalu tinggi. Kontribusi ini berada di atas kontribusi komponen lainnya, investasi (PMTB), konsumsi pemerintah, dan net ekspor. Upaya meningkatkan pendapatan harus terus dirumuskan dan ditempatkan lebih strategis dalam pencapaian indikator perekonomian. Perencanaan kebijakan yang lebih berkualitas, ketajaman efektivitas program pemerintah, dan bukti serius mendorong sektor riil merupakan strategi jitu ke arah itu.

Usaha meningkatkan pendapatan memang tidak mudah. Setiap rumah tangga konsumsi diharapkan bisa mengelola perubahan pendapatannya dengan cara-cara lebih rasional. Memasuki masa-masa tertentu, seperti menjelang hari raya, kenaikan gaji PNS, dan kenaikan UMK, pertumbuhan konsumsi biasanya lebih bertenaga. Meningkatnya pendapatan nominal ditambah ekspansi kredit konsumsi menjadi bagian dari generator utama kekuatan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana rumah tangga memutuskan porsi pendapatan yang akan dikonsumsi saat ini? Berapa yang akan ditabung untuk masa depan? Semua harus dipikirkan matang-matang sebelum nasi menjadi bubur. Jangan sampai terlalu semangat mengonsumsi hari ini, kita mengabaikan banyak kebutuhan keuangan yang harusnya juga kita alokasikan dari pendapatan. Dalam jangka panjang, perilaku semacam itu berpotensi menyimpan banyak masalah. Kita semua berhadapan dengan berbagai kemungkinan perlambatan pendapatan. Di sisi lain, beban pengeluaran jangka panjang juga semakin membubung tinggi. Uang semakin kendur tenaganya ketika dihadapkan dengan kenaikan harga-harga. Bank Indonesia memprediksi kurs rupiah terhadap dolar AS akan stabil dengan posisi melemah tahun depan (2011).

Kita mengenal adanya batas anggaran antarwaktu. Konsumsi dipengaruhi kondisi sumber daya total yang tersedia yang idealnya di distribusikan untuk konsumsi hari ini dan untuk konsumsi di masa depan. Keputusan konsumsi sering dilihat dari pengaruh dua periode, periode masa muda (masih produktif) dan periode konsumsi masa tua. Suatu ketika konsumen akan memasuki masa pensiun, dimana pendapatan akan mengalami perlambatan, bahkan bisa jadi jauh berkurang.

Penelitian pernah dilakukan untuk membandingkan perilaku konsumsi dan menabung orang Jepang dan AS. Hasilnya, “orang Jepang mengonsumsi bagian yang lebih kecil dari pendapatan yang mereka terima dibandingkan dengan orang AS”. Ternyata rumah tangga di Jepang lebih sulit meminjam ketimbang rumah tangga di AS. Gregory Mankiw, ekonom Harvard University mengatakan, pola itu cocok untuk menjelaskan kalau rumah tangga yang menghadapi batas pinjaman akan mengonsumsi lebih sedikit dibandingkan rumah tangga yang kurang memiliki batas pinjaman. Mungkin ini juga bisa menjadi jawaban mengapa krisis keuangan global dengan pusat gempa ekonomi AS berawal dari tingginya kredit macet pada sektor perumahan. Perekonomian Jepang mengalami aliran modal keluar yang sangat tinggi diikuti dengan surplus perdagangan. Sementara perekonomian AS sebaliknya, aliran modal masuk dan defisit perdagangan. Akibat perilaku menabung orang Jepang yang tinggi, ada ekonom yang percaya hal tersebut menjadi kunci utama pertumbuhan ekonomi cepat yang dialami oleh Jepang setelah Perang Dunia ke II.

Perilaku konsumsi juga perlu mempertimbangkan pendapat (hipotesis) pendapatan permanen. Ekonom Milton Friedman mencontohkan kalau konsumen yang berpendidikan tinggi diasumsikan akan menerima pendapatan permanen yang lebih tinggi karena dukungan pendidikannya. Akan tetapi, konsumen yang menerima pendapatan dari hasil panen yang banyak karena dukungan cuaca belum tentu tahun depan mendapatkan hasil yang lebih tinggi. Meskipun tampaknya rumit dan tidak sesederhana contoh itu, tetapi cukup logis jika perilaku konsumsi seharusnya bergantung atau melihat pada perubahan pendapatan permanen.

Untuk itu, dibutuhkan pengaturan dan pengendalian agar kenaikan pendapatan yang kita terima mampu dikelola optimal untuk kebutuhan mendesak saat ini serta juga mempertimbangkan kemungkinan meningkatnya pengeluaran di masa yang akan datang. Di sisi lain, kita juga harus cermat memastikan apakah pendapatan yang kita terima bersifat permanen atau sifatnya hanya transitoris.

Tingginya jumlah pengangguran dan penduduk miskin juga harus dipikirkan karena mengindikasikan kemungkinan adanya transfer pendapatan dari kelompok penerima pendapatan permanen kepada kelompok pengangguran dan masyarakat miskin. Kemampuan negara dalam menyediakan kebutuhan pokok bagi kelompok masyarakat tersebut masih sangat terbatas. Di sini peranan pengembangan kewirausahaan dan peningkatan investasi kelompok penduduk pendapatan permanen memegang peranan penting. Kontribusi sektor-sektor usaha dalam perekonomian juga wajib ikut diperhitungkan. Inilah sebabnya kita berharap sektor riil bisa terus tumbuh.

Dari sisi perekonomian, perilaku masyarakat yang mampu mengendalikan konsumsi ketika pendapatannya meningkat diperkirakan juga akan banyak bermanfaat bagi meningkatnya investasi, ekspor, dan turunnya tingkat bunga meskipun analisis itu masih banyak diperdebatkan. Tingginya tingkat tabungan akan menambah akumulasi modal yang dikelola masyarakat, apalagi jika kondisi tersebut ditambah (diikuti) dengan kemampuan perbankan dalam meningkatkan kemampuannya pada alokasi kredit-kredit yang produktif. Mungkin suatu saat bisa terjadi akumulasi kekayaan masyarakat yang sedemikian tinggi dan kondisi tersebut bisa mendorong kenaikan kepemilikan masyarakat domestik terhadap institusi-institusi ekonomi di dalam negeri. Efeknya positif, kepemilikan perusahan domestik tidak perlu lagi bergantung pada minat investor asing, begitu juga ketergantungan PMA dan arus modal asing jangka pendek bisa dikurangi.

Jika pendapatan semakin tinggi dan konsumsi masyarakat semakin rasional, kenaikan permintaan akan diikuti tuntutan kenaikan kualitas produk barang dan jasa. Tidak usah disuruh apalagi dipaksa pengguna sepeda motor menggunakan Pertamax, mereka akan sadar sendiri. Oleh karena itu, mari kita gunakan kemungkinan kenaikan pendapatan kita saat ini untuk pilihan-pilihan konsumsi yang bijak dan proporsional. Wajib diperhatikan potensi pengeluaran saat ini ataupun di kemudian hari. Meningkatnya konsumsi adalah harapan positif, tetapi jangan sampai kehilangan spirit produktifnya. Gunakanlah setiap rupiah kenaikan pendapatan kita untuk menjamin keberlangsungan ekonomi/keuangan kita dalam jangka panjang. Bijak mengonsumsi, berani berinvestasi, tidak lupa menabung adalah kalimat kunci dari kemajuan ekonomi Indonesia di masa akan datang.***

Penulis, pengamat ekonomi/dosen FE Unpas dan peneliti ISEI Bandung Koordinator Jabar.

Penulis:

Back

© 2009 – Pikiran Rakyat ,Kamis 10 Juni 2010 Bandung