Kenaikan Harga Elpiji

Ditunda

Karena, “Situasinya tidak

Memungkinkan”

 

SEORANG pegawai menggoreng tempe di salah satu kios di kawasan Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, beberapa waktu lalu. PT Pertamina menunda rencana kenaikan harga elpiji nonsubsidi karena situasi saat ini tidak memungkinkan menyusul kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 6-20 persen.* ANDRI GURNITA/”PR”

JAKARTA, (PR).-
PT Pertamina (Persero) akhirnya menunda rencana kenaikan harga elpiji nonsubsidi. Menurut Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan, situasi saat ini tidak memungkinkan untuk menaikkan harga elpiji, menyusul kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 6-20 persen yang mulai berlaku 1 Juli nanti.

“Kami masih mencari waktu yang tepat. TDL kan baru saja akan naik dan orang tua juga akan membayar biaya sekolah. Jadi, kami akan melihat dulu situasinya,” ujar Karen seusai memberikan santunan kepada korban insiden elpiji 3 kg di Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta, Kamis (17/6).

Karen mengaku, sejauh ini belum bisa memastikan kapan waktu yang akan dipilih Pertamina untuk menaikkan harga elpiji nonsubsidi. Namun, menurut dia, jika penundaan ini terlalu lama dilakukan, perusahaan migas pelat merah ini akan terus mengalami kerugian.

Wakil Presiden Komunikasi Korporat Pertamina, Basuki Trikora Putra, mengatakan, pemerintah sudah memberikan lampu hijau kepada Pertamina untuk menaikkan harga elpiji nonsubsidi. Pertimbangan kerugian tahun ini yang akan menembus angka Rp 3 triliun dinilai tidak sehat bagi Pertamina.

Beberapa waktu lalu, PT Pertamina melayangkan surat usulan kepada pemerintah untuk menaikkan harga elpiji nonsubsidi kemasan 12 kg, 50 kg, dan elpiji curah Rp 1.000 per kg, Juni ini.

Menekan kerugian

Menurut Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Risiko PE Pertamina Ferederick S.T. Siahaan beberapa waktu lalu, kerugian terjadi karena harga jual produk tak sebanding dengan peningkatan harga bahan baku. Dengan menaikkan harga elpiji nonsubsidi Rp 1.000 per kg, kerugian Pertamina tahun ini akan berkurang Rp 655 miliar menjadi Rp 2,55 triliun.

Menurut data Pertamina, pada 2009, dengan harga CP Aramco 515 dollar AS per metrik ton (MT), kerugian bisnis elpiji nonsubsidi mencapai Rp 2,3 triliun. Tahun ini, dengan rata-rata harga CP Aramco 725 dollar AS per MT, kerugian bisnis elpiji nonsubsidi diprediksi akan menembus angka Rp 3,2 triliun.

Tahun ini total permintaan elpiji diperkirakan mencapai 4,26 juta metrik ton. Perinciannya, permintaan elpiji bersubsidi 3 juta MT dengan harga Rp 3.464 per kilogram, sedangkan permintaan elpiji nonsubsidi 1,26 juta MT dengan harga Rp 4.912 per kg.

Ketua Umum Himpunan Lembaga Konsumen Indonesia (HLKT) Jawa Barat, Banten, dan DKI, Firman Turmantara menyambut baik langkah Pertamina. Menurut dia, keputusan ini adalah yang paling tepat ketika pemerintah memutuskan TDL resmi naik dan menolak usulan listrik gratis.

Pengamat ekonomi asal Universitas Pasundan (Unpas) Acuviarta Kartabi menilai, langkah Pertamina ini lebih dari sekadar mengusung kepentingan perusahaan. Ia mengaku memberikan apresiasi yang besar terhadap Pertamina.

“Dengan tidak menaikkan harga elpiji Juni ini, artinya Pertamina memiliki komitmen untuk menjaga stabilitas perekonomian,” ujar Acuviarta. (A-150/Dtc/VN)***

Penulis: Pikiran Rakyat ,18 Juni 2010 (  Acuviarta Kartabi )

Back