BPS Jabar Tambah  

Daerah Pemantauan

BOGOR, (PR).-
Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat berencana menambah daerah pemantauan harga untuk penghitungan inflasi. Rencananya, Cianjur menjadi kota ketujuh yang masuk dalam daftar pemantauan inflasi.

Menurut Kepala Bidang Statistik Distribusi BPS Jawa Barat Anggoro Dwitjahyono, penambahan daerah itu agar data yang tersaji dapat lebih akurat. Meski ia tak menampik, semakin banyak daerah yang dipantau, akan semakin terwakili kondisi yang terjadi di lapangan.

Saat ini, untuk menghitung indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi, BPS baru melakukan pemantauan di enam kota di Jabar, yakni Kota Cirebon, Kota Tasikmalaya, Kota Bekasi, Kota Bogor, Kota Sukabumi, dan Kota Depok.

“Pada prinsipnya, tentu kami ingin agar seluruh daerah bisa dipantau karena hal ini berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi di daerah,” ujarnya pada Workshop Pengendalian Inflasi di Bogor, pekan lalu.

Hanya, ungkap Anggoro, penambahan daerah pemantauan harus disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara. Oleh karena itu, hingga saat ini belum bisa dilakukan pemantauan di seluruh daerah.

Akan tetapi, Anggoro menambahkan, penambahan daerah pemantauan bisa saja terealisasi dengan cara membangun kerja sama lebih intensif dengan pemerintah kabupaten/kota.

Menurut pengamat ekonomi, Acuviarta Kartabi, BPS sebaiknya juga meninjau ulang bobot komoditas di dalam keranjang IHK. Pasalnya, kata Acuviarta, saat ini terjadi banyak perubahan pola konsumsi dan kenaikan harga di masyarakat sehingga perlu dilakukan peninjauan ulang terhadap bobot tiap-tiap komoditas.

Acuviarta mencontohkan, bobot energi dan komunikasi. Sebelumnya, kenaikan harga listrik tidak memiliki peranan signifikan terhadap komponen biaya. Namun, kini memiliki peranan yang cukup besar. “Untuk memotret harga agar terpetakan, perlu penambahan daerah pemantauan. Setidaknya bisa dua-tiga daerah lagi. Namun, juga diperlukan tinjauan ulang terhadap bobot komoditas IHK,” ujarnya. (A-188)***

Penulis: Pikiran Rakyat,Senin,21 Juni 2010 ( Acuviarta Kartabi )

Back